Museum Nasional Ketransmigrasian dibangun sebagai sarana untuk mendokumentasikan, melestarikan, dan memperkenalkan sejarah program transmigrasi di Indonesia sebagai salah satu model pembangunan nasional yang pernah diterapkan pemerintah. Museum ini berfungsi sebagai pusat informasi, penelitian, dan pengkajian mengenai berbagai aspek ketransmigrasian, sekaligus menjadi wahana edukasi. Melalui koleksi dan informasi yang disajikan, museum ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat, terutama generasi muda, mengenai sejarah dan peran transmigrasi dalam perjalanan pembangunan Indonesia.[8][9]
Dikelola sejak tanggal 10 Maret 2010 oleh Satuan Tugas Pengelola Museum Ketransmigrasian Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Lampung, selanjutnya berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 27 Tahun 2010 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas pada Dinas Daerah Provinsi Lampung, Museum Nasional Ketransmigrasian Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Lampung.[10]
Museum Nasional Ketransmigrasian merupakan sebuah bukti bahwa Lampung merupakan daerah kolonialisasi yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1905.[11] Kolonialisasi merupakan istilah pada zaman Pemerintahan Hindia Belanda untuk transmigrasi.[3][5][11] Kolonialisasi yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda ini bertujuan untuk perluasan daerah perkebunan di luar Pulau Jawa. Sebanyak 155 keluarga yang berasal dari Karesidenan Kedu, Jawa Tengah, dipindahkan ke Lampung.[11]
Koleksi
Anjungan Lampung
Museum Nasional Ketransmigrasian sekarang memiliki lebih dari 254 koleksi. Koleksi di dalam museum ini diantaranya adalah alat pertukangan, alat rumah tangga, alat pertanian, peralatan dapur, alat kesenian,[6] alat penangkap ikan, foto-foto dokumentasi, pakaian adat[7] dan musik Bali.
1234Rini, Hadi Suprapto, Elly Setyo (2010-02-21). "Museum Transmigrasi Dibangun". www.viva.co.id. Diakses tanggal 2025-05-24. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)