Jalan Ahmad Yani Nomor 44, Batin Tikal, Taman Sari, Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung
Jenis
Museum Kain Tenun Cual Kuno
Koleksi penting
20 jenis kain dengan rentang usia 150 tahun hingga 200 tahun
Koleksi
17 motif Kain Tenun Cual Kuno
Pendiri
Abdul Hadi Muchtar
Akses transportasi umum
Bandar Udara Depati Amir dengan jarak 9,5 km
Museum Cual Ishadi adalah museum khusus yang mengoleksi beragam jenis kain Cual kuno. Perintis pendirian museum adalah Abdul Hadi Muchtar. Pada 21 November tahun 2000, Ia menerima hasil keputusan pendirian museum dari Pemerintah DaerahProvinsi Bangka Belitung di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Koleksi kain di dalam museum berasal dari koleksi Demang Abdur Rachman Rejab yang merupakan kakek dari Muchtar.[1]
Pendirian
Pembangunan Museum Cual Ishadi dimulai pada 26 Oktober 2015 dan diresmikan pada 15 Agustus 2017. Peresmian dilakukan oleh Gubernur Kepulauan Bangka BelitungErzaldi Rosman Djohan. Hak milik dan hak pengelolaan Museum Cual Ishadi dimiliki oleh Yayasan Ishadi Cual.[1]
Selama 1970 hingga 1990-an, para pengumpul barang antik tertarik dengan adanya tenun cual kuna. Mereka melakukan perjalanan ke Pulau Bangka dan memberikan harga yang tinggi untuk memerolehnya. Sehelai kain cual yang terbuat dari sutra dan telah berusia sekitar satu abad bisa dihargai hingga ratusan ribu rupiah. Jumlah tersebut dianggap sangat besar pada masa tersebut. Akibatnya, banyak penduduk setempat yang menjual koleksi kain cual mereka. Bahkan, kain cual yang telah diwariskan turun-temurun pun ikut terjual. Abdul Hadi Muchtar dan istrinya Isnawati merupakan salah satu pewaris tradisi kain cual Bangka. Mereka bercerita bahwa orang tuanya sempat tertarik untuk menjual tenun cual kepada para kolektor. Isnawati memiliki koleksi kain cual dari buyutnya yang memiliki pangkat gegading (jabatan yang setara di atas lurah), sedangkan suaminya Abdul Hadi Muchtar juga sama memiliki koleksi kain cual dari buyutnya Abdurrahman Redjab yang berpangkat sebagai demang. Karena kondisi kain cual yang banyak diburu oleh kolektor, Isnawati dan Abdul Hadi Muchtar pun dahulu sempat tergiur sebagai pedagang kain cual, tetapi setelah sadar dan mengetahui tentang pentingnya warisan budaya mereka pun kini beralih menjadi pembeli tenun cual kuno.[3]
Kecintaannya terhadap tenun cual, pada tahun 2000 Isnawati dan Hadi pun membangun galeri dan museum untuk memamerkan koleksi tenun cual-nya. Galeri tersebut diberi nama Tenun Cual Ishadi, yang merupakan gabungan nama Isnawati dan Hadi.[3] Tujuan dari pembungan museum tenun cual ini adalah untuk membagikan pengetahuan dan informasi terkait sejarah kain cual di Bangka Belitung. Museum ini juga memiliki peran untuk menjaga eksistensi kain cual agar terus dikenal banyak orang dan tetap menjadi identitas bagi daerah Bangka Belitung.[4]
Koleksi
Berdasarkan dari motifnya, koleksi dari Museum Cual Ishadi menampilkan sekirtar 17 motif. Motif tersebut di antaranya motif Bebek, Bebek Setaman, Kembang Cempaka (Telok), Garuda, Kain Sarung Kotak, Kembang China, Kembang Kecubung, Bunga Kenanga, Sumping Garuda, Kembang Teratai, dan Kembang Seroja Lotus. Ada juga motif hasil kombinasi, seperti motif Burung Hong yang dikombinasikan dengan motif Kembang China, motif burung hong dengan perpaduan kembang seroja, motif kupu-kupu yang dikombinasikan dengan motif bunga Cina, hingga motif gambar kepiting yang dikombinasikan dengan Kerikil.[5]
Berdasarkan usia kain cual, Museum Cual Ishadi ini menampilkan koleksi 20 jenis kain dengan rentang usia 150 tahun hingga 200 tahun. Kain cual tertua dari koleksi museum ini yaitu cual Kembang Gajah. Cual ini ditenun dengan menggunakan benang sutra dan emas jantung. Kain ini diperoleh turunan dari Demang Abdul Rahman Redjab.[5]