Museum Batik Pekalongan adalah sebuah museum di Kota Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia.[2] Museum ini memiliki luas tanah dan bangunan 40 meter persegi dan memiliki 1149 koleksi batik, antara lain wayang beber dari kain batik yang berusia ratusan tahun dan alat tenun tradisional atau dikenal sebagai alat tenun bukan mesin.[2] Museum Batik Pekalongan merupakan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD).[3]
Sejarah
Gedung museum ini sebelumnya adalah bekas kantor balai kota Pekalongan, pada masa penjajahan kolonial Belanda gedung tersebut merupakan kantor keuangan yang membawahi tujuh pabrik gula di karesidenan Pekalongan.[4] Pada tahun 1972, terbentuk komunitas bernama Paguyuban Pecinta Batik Pekalongan (PPBP) yang digagas oleh masyarakat dan pembatik Pekalongan.[4]
Pada tanggal 29 Desember 2005 diadakan pertemuan forum bisnis Orang Pekalongan (OPEK) yang membahas tawaran Kota Pekalongan sebagai lokasi peringatan hari Koperasi Tingkat Nasional ke-59.[5] Pembentukan lembaga museum batik melibatkan Yayasan Kadin Indonesia dengan pemerintah Kota Pekalongan, Yayasan Batik Indonesia, Paguyuba Berkah, Yayasan Kadin Kota Pekalongan, Paguyuban Pecinta Batik Pekalongan, serta pakar batik Asmoro Damais yang bersedia menjadi curator museum.[5]
Akhirnya pada tanggal 12 Juli2006 museum ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono bersamaan dengan perayaan Hari Koperasi Nasional ke-59.[2][6] Museum batik ini dijadikan pusat data dan informasi mengenai batik; sebagai pusat riset dan pengembangan ilmu desain batik, perpustakaan dan acuan dalam hal perbatikan; mengkoleksi batik klasik, batik lawasan dan batik kontemporer.[2]
Fasilitas
Fasilitas yang dimiliki museum ini terdiri dari ruang koleksi batik, ruang perpustakaan, kedai batik, ruang workshop batik, ruang pertemuan, dan ruang konsultasi atau pelayanan hak kekayaan intelektual (HKI).[5] Museum ini memiliki tiga ruang utama.[4] Ruang utama digunakan untuk memamerkan koleksi aneka batik khas daerah pesisir jawa, seperti batik Cirebon, Pekalongan, Batang, dan juga Rembang.[4] Alat dan bahan yang digunakan dalam proses membatik juga dipamerkan di ruangan ini, salah satu alat yang dipamerkan adalah canting.[4] Ruang pamer kedua diisi koleksi aneka batik yang disumbangkan oleh pejabat negeri antara lain: batik sumbangan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan istrinya, Kristiani Herrawati, koleksi ini disumbangkan pada bulan Juli 2012, kemudian batik dari Wakil Presiden Budiono beserta istri, batik sumbangan dari Hatta Rajasa berserta istri, dan batik sumbangan Ainun Habibie.[4] Ruang pamer ketiga memamerkan koleksi batik yang berasal dari berbagai daerah seperti, Banten, Kalimantan, Garut, Indramayu, Madura, dan Papua, karena koleksi yang berada di ruang pamer ini berasal dari berbagai macam daerah maka ruang pamer ketiga ini dinamakan Ruang Batik Nusantara.[4]
Koleksi
Pada tahun 2019, sebanyak 1.267 koleksi batik dengan berbagai corak dan motif ada di tiga ruang pamer Museum Batik Pekalongan.[7] Museum ini memiliki koleksi batik tahun 1970-an, seperti motif buketan dari Pekalongan dan batik Tiga Negeri-Lawasan yang memadukan karakter Solo, Pekalongan, dan Lasem.[8] Ada pula batik Adik Baji dari tahun 1950-an. Ada pula batik Walangkekek koleksi pribadi penyanyi keroncong legendaris Waldjinah yang diproduksi pada 1980-an dengan motif gringsing.[9] Keluarga besar Wakil Presiden Pertama RI Bung Hatta pernah mengirimkan kain batik dan selendang batik karya Iwan Tirta yang merupakan koleksi pribadi dari istri Bung Hatta, Rachmi Hatta ke museum ini.[10] Koleksi batik lainnya adalah koleksi batik dengan motif Jlamprang, Basurek, dan Rifaiyah.[11] Museum ini juga memiliki koleksi arca artefak yaitu arca Durga Mahisasuramardini, patung arca Ganesha, fragmen tubuh arca Ganesha, dan fragmen perwujudan arca Wisnu.[12] Ada pula koleksi seribu payung batik dari hasil karya seniman, pelajar, dan perajin batik yang dikerjakan saat perayaan Hari Batik Nasional di Jalan Jetayu, Kota Pekalongan pada 3 Oktober 2011.[13]