Munte berjarak sekitar 24km dari Kabanjahe, Ibu kota Kabupaten Karo, atau sekitar 4km dari jalan raya Medan-Kutacane (Aceh Tenggara).
Menurut sejarah desa Munte pada mulanya didirikan oleh orang bermarga Ginting Munte.
Desa Munte bisa dibagi menjadi empat area, yaitu:
Kesain Munte, merupakan area bagi yang bermarga Ginting Munte, terletak di bagian barat daya.
Kesain Babo, merupakan area bagi yang bermarga Ginting Babo, terletak di bagian selatan.
Kesain Tarigan, merupakan area bagi yang bermarga Tarigan Sibero, terletak di bagian tenggara.
Kesain Depari, merupakan area bagi yang bermarga Sembiring Depari, terletak di antara kesain Tarigan dan kesain Babo.
Kesain rumah darat, merupakan area bagi pendatang, terletak di bagian utara.
SNPN 2 munte, berlokasi di jalan raya Medan-Kutacane
SMAN 1 Munte, berlokasi di jalan raya Medan- Kutacane
Fasilitas umum:
Puskesmas
Jambur Silima Merga
Lapangan Bola
Masjid
GBKP Rg. Buah Man Teman
GBKP Rg. Pasar Baru
Gereja RK
GPdI
Loosd Pekan (setiap hari Jum'at)
Area persawahan atau perladangan:
Beringin (perladangan marga Tarigan)
Pestap (perladangan marga Sembiring Meliala)
Lau Kenjulu
Listrik
Cekdam
Cindungen (perladangan marga Ginting Babo)
Lau batu
Lau cirus
Sembelno
Gerat
Nangka
Lepar
Mandah
Lau Selayang
Lau Sekalak (perladangan marga Sembiring Meliala)
Barong Gugung
Biakmagari
Pulo
Pala Buluh
Surumbane
Di desa Munte terdapat satu lokasi pemandian kolam air soda yang airnya terasa asam, yaitu Lau Macem di daerah perladangan Pestap di wilayah perbatasan dengan desa Buluh Naman. Nama Lau Macem berasal dari keberadaan kolam dengan air yang berasa asam tersebut. Dalam bahasa Karo, air adalah "lau", dan asam adalah "macem".
Munte dahulu terkenal sebagai daerah penghasil beras. Adapun Beras Munte adalah jenis beras yang enak yang dulu pernah beredar di Sumatera Utara, tetapi sayangnya sekarang ini mayoritas penduduk mulai beralih dari menanam padi menjadi tanaman lain seperti jagung, jeruk, dan coklat.