Tradisi Munirin Reje salah satu tradisi yang berasal dari provinsi Aceh. Tradisi ini merupakan resam yang bernilai sakral, diadakan seyogyanya setiap setahun sekali. Pelaksanaan ini berlandaskan pada Peri Mestike (Mekeruh Bebasuh Haram Besamak-red Gayo). Artinya, seorang Raja dalam menjalankan roda kepemimpinannya kendati sudah bersifat Musuket Sipet, berfi’il kasih, benar dan suci yang namanya wujud baharu, seseorang itu menjadi tempat kesalahan.[1] Oleh karena itu dalam setahun kepemimpinan seorang Reje dalam hal ini Ulur Rintah, disebut Bupati diselenggarakanlah acara tersebut. Resam ini berlaku sebagai hiburan rakyat, karena dalam pelaksanaannya diadakan acara riah riye berupa tari-tarian, seperti, Tari Sining, Tari Bines, Didong dan acara lainnya.
Tradisi ini memandikan pemimpin yang ada di masyarakat yang mana masyarakat tersebut sangat menghormati geucik kampung, mukim kampung, sara opat dan camat. Selain itu, tradisi ini ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda nasional.[2] Tradisi ini masih berlaku di Gayo Lokop Serbe Jadi Kabupaten Aceh Timur yang dilaksanakan setiap tahun setelah pelaksanaan Shalat Idul Fitri, 1 Syawal.[3]
Sejarah
Semenjak masa kerajaan Linge dahulu, Resam munirin Reje setiap tahunya diadakan dan dilaksanakan secara meriah, karena dihadiri oleh seluruh jajaran Opat Mukawal, Pitu mudeniye, yakni kejurun Linge beserta tujuh Cik dan rakyat sekitar, Kejurun Abuk beserta Cik dari Lokop Serbejadi, Kejurun Petiamang beserta Cik dari Belang Kejeren, dan Kejurun Syiah Utama beserta Cik dari Samar Kilang Nosar. Pelaku utama acara ini diantaranya adalah Pengulu tawar dari Syiah Utama, Pengulu Mungkur dari Mungkur Gewat, Pengulu Bedak, Pengulu Payung, Pengulu Suku, Pengulu Lot, dan Pengulu Uwak.[1]
Kemudian setelah kemerdekaan Negara Republik Indonesia, kerajaanpun dengan sendirinya lebur. Mungkin semenjak itu pula resam Nirin Reje hilang tak lagi ditiadakan. Tahun 1970-an dikaji dan digali kembali oleh para orang tua di Kampung Linge Kecamatan Linge Kabupaten Aceh Tengah dan diadakan acara ini pertama kali di Kampung tersebut. Pada saat itu, yang menjadi Reje kampung adalah Bapak Abdussalam, pada masa itu kampung lain atau kampung sekitarnya pernah mengadakan acara tersebut, seperti Kampung Jamat, dan lain sekitarnya. Tapi sayang lambat laun mungkin karena alasan tertentu hingga kini tidak dilakukan lagi.[1]