Muncar adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Muncar adalah kota kecil padat penduduk di tepian Selat Bali dan merupakan salah satu pusat ekonomi terbesar di Banyuwangi. Muncar dikenal sebagai lokasi Pelabuhan Muncar yang merupakan pelabuhan perikanan terbesar di Banyuwangi sekaligus salah satu yang terbesar di Pulau Jawa.[1] Muncar juga memiliki pasar ikan besar yang ramai di TPI Muncar dan Brak Kalimoro serta memiliki banyak pabrik pengolahan ikan. Selain sektor perikanan, Muncar juga memiliki wisata pantai dan mangrove yang indah seperti Pantai Gumuk Kantong dan Pantai Cemara. Kecamatan Muncar memiliki jumlah penduduk terbesar di Banyuwangi yaitu sekitar 140 ribu jiwa pada tahun 2024.[2]
Pada zaman Kerajaan Blambangan, Muncar dikenal dengan nama Ulupampang dan merupakan salah satu pelabuhan terpenting di wilayah itu. Kemudian Ulupampang dijadikan ibu kota sementara Blambangan zaman kolonial Belanda sebelum akhirnya dipindahkan ke Kota Banyuwangi pada tahun 1774.[3] Beberapa tempat terkenal di Muncar di antaranya Situs Umpak Songo peninggalan Kerajaan Blambangan dan Pura Agung Blambangan yang merupakan pusat peribadatan umat Hindu di Banyuwangi.[4][5]
Geografi
Peta lokasi Kecamatan Muncar
Muncar adalah adalah kecamatan yang terletak di pesisir timur Kabupaten Banyuwangi dan berada di tepian Selat Bali. Muncar memiliki geografi berupa dataran rendah yang lahannya didominasi areal persawahan dan kebun kelapa, sedangkan bagian pesisirnya berupa kawasan tambak dan mangrove. Muncar juga memiliki kawasan padat penduduk terutama di kawasan sekitar Pelabuhan Muncar, salah satunya di Desa Kedungrejo dan Tembokrejo yang menjadi pusat kecamatan.
Batas wilayah Kecamatan Muncar adalah sebagai berikut:[2]
Situs Umpak Songo yang menjadi lokasi pelantikan Bupati Pertama Banyuwangi tahun 1774
Muncar dulunya bernama Ulupampang yang merupakan salah satu pelabuhan penting di zaman Kerajaan Blambangan dan terletak di dekat Teluk Pampang (sekarang disebut Teluk Pangpang). Pada tahun 1743, Pakubuwono II dari Kesultanan Mataram menyerahkan ujung timur Pulau Jawa (Java’s Oosthoek) kepada VOC secara sepihak. Belanda tidak terlalu mempedulikan wilayah ini hingga tahun 1760-an ketika Kongsi Dagang Inggris (EIC) berupaya melebarkan pengaruhnya di Nusantara. Inggris membangun pos baru di Selat Bali untuk menjual opium, kapas, dan senjata api untuk ditukar dengan beras dan kayu. Belanda meluncurkan ekspedisi besar untuk menguasai Blambangan pada tahun 1767. Mereka mendarat di Banyualit (Blimbingsari) dan kemudian bergerak ke Ulupampang. Ulupampang dijadikan benteng pertahanan Belanda melawan Blambangan, salah satunya dalam perang melawan Wong Agung Wilis.[3]
Pasca perang Puputan Bayu, Blambangan berada dalam kekuasaan Belanda. Sebelum perang, Ulupampang dihuni oleh berbagai suku pendatang seperti Suku Bugis, Mandar, Melayu, dan Tionghoa yang sekarang hancur akibat perang. Mas Alit yang saat itu masih berumur 18 tahun dipilih sebagai bupati baru Blambangan oleh Residen Schophoff pada Januari 1773. Kemudian pada Februari 1774, Mas Alit resmi dilantik sebagai bupati bergelar Raden Tumenggung Wiraguna. Pelantikan dilaksanakan di Ulupampang dan disaksikan oleh Residen Schophoff serta Gubernur Oosthoek Pieter Luzac. Tempat pelantikan ini sekarang dikenal sebagai situs Umpak Songo. Belanda juga membentuk distrik baru di Blambangan timur yaitu Ulupampang, Grajagan, dan Ketapang. Karanggringsing dipilih sebagai mantri atau pimpinan di Ulupampang. Belanda juga berencana untuk memindahkan ibu kota Blambangan dari Ulupampang ke wilayah baru. Saat perang dahulu, benteng Belanda di Ulupampang pernah terkena wabah penyakit sehingga perlu lokasi baru yang lebih sehat. Akhirnya diputuskan bahwa ibu kota dipindahkan ke wilayah Banyuwangi. Bupati Wiraguna resmi pindah pada Oktober 1774 dan sekarang dikenal sebagai Bupati Banyuwangi pertama.[3]
Daftar desa dan dusun
Kecamatan Muncar terdiri dari 10 desa yang dibagi menjadi beberapa dusun / dukuh / lingkungan. Muncar juga merupakan nama dusun di Desa Kedungrejo dan Tembokrejo. Desa dan dusun di Muncar yakni sebagai berikut:[6]
↑Kedungringin merupakan pemekaran dari Desa Kedungrejo pada tahun 1997.[8]
↑Kumendung merupakan pemekaran dari Desa Sumbersewu pada tahun 2000.[9]
↑Tambakrejo merupakan pemekaran dari Desa Tapanrejo pada tahun 1995.[10]
↑Wringinputih merupakan pemekaran dari Desa Sumbeberas pada tahun 1995.[11]
Kebudayaan
Petik laut
Tradisi Petik Laut di Muncar
Petik laut adalah tradisi rutin yang dilaksanakan oleh masyarakat di pesisir Kecamatan Muncar. Tradisi ini dilaksanakan setiap pertengahan bulan Suro pada penanggalan Jawa. Petik laut adalah ungkapan rasa syukur masyarakat atas tangkapan ikan yang melimpah. Umumnya acara dimulai dengan doa dan pembacaan kitab suci Al-Qur'an. Kemudian puncak acara adalah proses larungan sesaji ke tengah laut. Kapal slerek yang telah dihias kemudian secara ramai-ramai mengangkut sesaji menuju Tanjung Sembulungan untuk kemudian dilarung. Sesaji yang dilarung diantaranya berisi buah, kepala kambing, dan lainnya. Sesaji tersebut diletakkan di sebuah gitik atau miniatur kapal yang telah dihias. Petik laut adalah salah satu ikon pariwisata budaya di Kabupaten Banyuwangi.[12]