Muhammad bin al-Munkadir (meninggal 128/130 H) adalah seorang ahli qira'at dan ahli hadis dari kalangan tabi'in. Ia berasal dari suku Quraisy dalam kelompok Bani Taim yang tinggal di Madinah dan bekerja sebagai ahli memperbaiki sepatu. Muhammad bin al-Munkadir meriwayatkan hadis secara langsung dari beberapa sahabat Muhammad. Salah satu muridnya yang utama adalah Malik bin Anas. Muhammad bin al-Munkadir dikenal karena sering menangis terutama ketika ditanya tentang hadis dan ketika membaca ayat tentang azab saat salat malam. Ia berteman akrab dengan Salamah bin Dinar yang sering menemaninya hingga kematiannya.
Nasab
Nama lengkap Muhammad bin al-Munkadir adalah Muhammad bin al-Munkadir bin Abdullah bin al-Hadir.[1] Muhammad bin al-Munkadir berasal dari suku Quraisy dalam kafilah Bani Taim bin Murrah yang tinggal di Madinah.[2] Karena itu, kunya untuknya ialah al-Qurasyi al-Taimi al-Madani. Selain itu, ia sering disebut dengan nama Abu Abdullah.[1]
Pendidikan dan pengajaran
Muhammad bin al-Munkadir termasuk dalam kelompok tabi'in. Ijmak ulama mengakui dirinya sebagai imam yang fakih dan termasuk ahli hadis yang dapat dipercaya periwayatannya dalam hadis dan pemahamannya terhadap Al-Qur'an. Pengakuan tersebut diberikan kepada Muhammad bin al-Munkadir karena ia banyak mendengar hadis secara langsung dari beberapa sahabat Muhammad.[1]
Muhammad bin al-Munkadir juga dikenal sebagai ahli qira'at.[3] Salah satu murid utamanya ialah Malik bin Anas yang sering bersamanya dan banyak menuntut ilmu darinya.[4] Malik bin Anas memandang Muhammad bin al-Munkadir sebagai pemimpin para pembaca Al-Qur'an.[1] Hadis-hadis periwayatan dari Muhammad bin al-Munkadir diriwayatkan kembali salah satunya oleh Malik bin Anas.[5]
Kepribadian
Muhammad bin al-Munkadir dikenal karena sering menangis.[1] Ia selalu menangis ketika ditanyai tentang suatu hadis dari Muhammad sebagai nabi dalam Islam.[3] Muhammad bin al-Munkadir terkenal khusyu' dalam melaksanakan ibadah dan sering melaksanakan salat malam.[1] Ada riwayat dari Salamah bin Dinar yang menyatakan bahwa keluarga Muhammad bin al-Munkadir sering memintanya mengunjungi Muhammad bin al-Munkadir untuk membuatnya berhenti menangis dalam waktu yang lama ketika salat malam. Namun mereka berdua terkadang malah menangis bersama setelah mengetahui bahwa Muhammad bin al-Munkadir menangis karena ayat tentang azab.[6]
Pekerjaan
Muhammad bin al-Munkadir bekerja sebagai ahli memperbaiki sepatu.[7] Ia dikenal atas kedermawanan karena suka membagi-bagikan harta yang dimilikinya. Semasa hidupnya, ia pernah hanya memiliki satu celana yang dikenakannya sebagai satu-satunya harta yang dimilikinya.[8]
Kematian
Muhammad bin al-Munkadir pernah bersama Salamah bin Dinar selama setahun penuh untuk perawatan bahunya.[9] Ada dua pendapat mengenai tahun kematian Muhammad bin al-Munkadir. Satu pendapat menyatakan ia meninggal pada tahun 128 H, sedangkan pendapat lainnya menyatakan ia meninggal pada tahun 130 H.[1]
12Al-Mishri, Mahmud (2011). Yasir, Muhammad (ed.). Semua Ada Saatnya[Sa'atan Sa'atan]. Diterjemahkan oleh Somad, Abdul. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar. hlm.220. ISBN978-979-592-779-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)