Muhammad Kasim (kelahiran 1886) adalah seorang guru sekolah Melayu (setingkat SR) sekarang Sekolah Dasar dan penulis yang memajukan kebudayaan Melayu. Dia termasuk kontributor terhadap karir Soeman HS sebagai tokoh pendidikan di Riau dan penulis cerita detektif Angkatan Balai Pustaka. M. Kasim telah menerbitkan beberapa buku. Koleksi kisah pendeknya yang berjudul "Teman Doedoek" dianggap sebagai koleksi cerita pendek modern pertama dalam sastra Indonesia.[1]
Biografi
Muhammad Kasim Dalimunte lahir di Muara Sipongi, Sumatera Utara, pada tahun 1886.[2] Kasim pernah menempuh pendidikan sekolah guru, kemudian menjadi guru sekolah rendah (sekolah dasar) tahun 1935.[3] Dalam kariernya sebagai seorang guru sekolah rendah Muhammad Kasim pernah pula berkeliling di Sumatra Selatan, yaitu di Palembang dan pernah pula mengajar di Bengkulu. Bahkan dia juga pernah mengajar di Medan dan Aceh.
Menyebut nama M Kasim, tidak bisa tidak, harus menyebut nama Melayu. Jati dirinya adalah Melayu. Hal tersebut karena ia besar dan kemudian meninggal di tanah Melayu. Selain itu, ia juga fasih menggunakan akar tunggang bahasa Indonesia, yakni bahasa Melayu, sebagai "bahan baku" dalam karya-karya sasteranya.[4]
Bapak Cerpen Indonesia
M. Kasim dikenal sebagai bapak cerita pendek (cerpen) Indonesia, menyusul kumpulan cerpennya, Teman Duduk (1936) diakui sebagai kumpulan cerpen pertama yang terbit di Indonesia.
Pada tahun 1924 Balai Pustaka mengadakan perlombaan mengarang untuk bacaan anak-anak. Muhammad Kasim menjadi pemenang melalui karangannya Pemandangan dalam Dunia Kanak-Kanak, karangan tersebut kemudian diterbitkan pada tahun 1928.
Setelah kemerdekaan, karangan Pemandangan dalam Dunia Kanak-Kanak tersebut diubah menjadi Si Samin. Dengan gaya bahasa khasnya, Muhammad Kasim membuat bahasa dalam cerita itu penuh kelucuan, terutama kelucuan dunia anak-anak, misalnya, bagaimana si Samin membujuk adiknya supaya memberi Samin jagung, bagaimana anak-anak makan gulai ayam, bagaimana mereka berkelahi, dan berbagai peristiwa lain yang penuh kelucuan.
Muhammad Kasim dapat digolongkan sebagai sastrawan Indonesia periode awal. Dia berperan dalam masa pertumbuhan bahasa Melayu Rendah ke bahasa Melayu Tinggi yang digunakan di lingkungan sekolah milik pemerintah. Sebagai seorang guru, ia mencoba menerapkan pengetahuan dan bakatnya di bidang bahasa dan sastra dalam karya-karya yang ditulisnya. Oleh sebab itu, lahirlah sejumlah cerita Muhammad Kasim berupa cerpen lucu di majalah Panji Pustaka (1929—1945).
Zuber Usman mengatakan bahwa Muhammad Kasim dapat melukiskan kehidupan masa kanak-kanak dengan tepat dan indah. Keluguannya dalam mengungkapkan kehidupan dunia kanak-kanak menarik minat pembaca.[3] Seolah-olah pembaca kembali ke masa kanak-kanak, setidak-tidaknya seperti sedang menyaksikan langsung lucunya kanak-kanak bermain, ketika membaca karya-karya Kasim.
Karya-karya Muhammad Kasim sebagian besar adalah cerpen. Di samping itu, ia juga menulis novel, Muda Teruna, sebuah novel yang diterbitkan pada tahun 1922. Novel ini banyak memperlihatkan pengalaman Muhammad Kasim dalam pengembaraannya ke Sumatra Selatan, Bengkulu, Sumatra Timur, dan Aceh. Bertengkar dan Berbisik adalah judul kumpulan cerita pendek yang terbit pada tahun 1929. Bual di Kedai Kopi adalah juga sebuah judul kumpulan cerpen yang terbit pada tahun 1930. Dia juga menerjemahkan karya asing yang berjudul Niki Bahtera terjemahan dari In Woelige Dagen.
Kecuali karya terjemahan, semua cerpen dan novel Kasim penuh dengan tata kehidupan orang Melayu. Maka aneka kosa kata Melayu dia coba perkenalkan kepada pembaca. Setingan ceritanyapun tidak jauh-jauh dari tempat-tempat dan kebudayaan Melayu.
Bertengkar Berbisik
Adakah orang bertengkar mulut tidak terdengar suaranya? Lazimnya orang bertengkar tak dapat tidak akan melepaskan sekuat-kuatnya suaranya dan berkata berebut-rebut dengan tidak memedulikan koma titik. Namun, Muhammad Kasim dalam ceritanya Bertengkar Berbisik, mampu melukiskan suatu pertengkaran, bahkan pertengkaran itu disudahi dengan perkelahian yang hebat, tetapi pertengkaran itu dengan berbisik saja.
Cerita ini berkisah tentang tiga orang laki-laki yang bepergian ketika sedang berpuasa. Mereka tidak membawa bekal untuk berbuka puasa, sehingga muncul akal untuk mendapatkan jamuan berbuka dari kepala kampung tempat yang mereka lalui.
"Dengarlah baik-baik. Kita sama tahu, orang yang ternama atau orang yang berpangkat lebih dimalui orang daripada orang sebarang saja. Jadi salah seorang di antara kita, kita sebut kepala kampung, dua orang jadi pengiringnya. Dengan hal yang demikian, di kampung ini kita menepat saja ke rumah kepala kampungnya. Saya rasa dia suka menjamu kita buat semalam ini.” [5]
Si Burkat yang memberi ide diputuskan menjadi kepala kampung palsu dengan gelar Sutan Menjinjing Alam. Sedangkan dua temannya, Togop dan Togu menjadi pengiring atau pengawal.
Konflik muncul ketika kepala kampung menjamu Sutan Menjinjing Alam dengan air seterup, sedangkan pengiringnya hanya air putih biasa. Ketika makan sutan "icak-icak" disuguhi gulai paha ayam dan goreng dada ayam, sedangkan pengiringnya mendapat tulang-tulang saja. Menjelang tidur, mereka bertengkat mulut.
“Engkau telah mendapat beberapa kelebihan dari kami,” katanya dengan berbisik.
“Waktu berbuka engkau mendapat pembukaan yang lebih baik, dan waktu makan engkau kenyang makan dagingnya, kami hanya mendapat tulang-tulangnya. Sekarang kita berganti, engkau tidur di tikar itu, kami berdua tidur di atas kasur ini.”
“Tidak, siapa mau begitu?” jawab Sutan Menjinjing Alam dengan berbisik pula, menampik permintaan si Togop itu.
“Makanan itu rezekiku dan kasur itu pun rezekiku.”
“Benar, tetapi sebabnya engkau peroleh itu karena bantuan kami. Kami kurbankan diri kami jadi pengiringmu dan kami sebutkan engkau kepala kampung. Jika tidak, tentu engkau tidak akan mendapat segala kesenangan ini.”
“Bukan untuk saya saja. Kamu berdua pun tidak makan malam ini jika tidak karena akalku.”
“Anak keparat rupanya engkau ini, curang, tamak, tidak setia berkawan, hanya memikirkan kesenangan sendiri saja,” kata si Togop berbisik.
“Engkau ini pun tidak setia, tambahan khianat, dengki, iri hati melihat orang mendapat kesenangan,” jawab Sutan Menjinjing Alam dengan berbisik pula, karena takut kedengaran kepada yang empunya rumah.[5]
Akhirnya mereka bakuhantam. Sampai kepala kampung pemilik rumah mengetahui bahwa mereka adalah penipu. Menjelang orang kampung datang hendak menangkap, mereka bertiga kabur.
Cerpen ini penuh dengan nuansa Melayu, lokasinya di Batangtoru, dan Sitinjak merupakan salah satu nama kampung yang disebut dalam cerpen ini. Banyak kosa kata Melayu yang digunakan, misalnya petang, kepala kampong, belum akan kenyang perut, orang yang ternama atau orang yang berpangkat lebih dimalui orang daripada orang sebarang saja, engkau yang mendapat akal itu, Saya menurut saja, badan kita akan merasai pula orang buat, Tiada mengapa, Engku. gelas yang berisi seterup, sebuah talam diangkat orang, terbelintang sebuah paha ayam dan sebagainya.
Karya-karya Muhammad Kasim
Pemandangan dalam Dunia Kanak-Kanak (1928, cerita anak-anak), Muda Teruna (1922, novel), Bertengkar dan Berbisik (cerita anak-anak), Bual di Kedai Kopi (cerita anak-anak), Ja Binuang Pergi Berburu (cerita anak-anak), Niki Bahtera (1920, terjemahan cerita anak-anak oleh Cornelis Johannes Kieviet), Pangeran Hindi (1931, terjemahan cerita anak-anak) dan Teman Doedoek (1936, koleksi cerita pendek)
12"Data Pokok Kebahsaan dan Kesasteraan" (2025). "M. Kasim (1886-1973)". Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Diakses tanggal 2025-10-01.