Muhammad Husein (bahasa Arab:محمد حسينcode: ar is deprecated ) merupakan aktivis dan YouTuber asal Indonesia. Sejak 5 Januari 2011, ia menetap di Jalur Gaza, Palestina sebagai jurnalis, kontibutor lepas, dan mendapat gelar sarjana di Universitas Islam Gaza. Ia juga mulai membuat kanal YouTube miliknya dengan nama Muhammad Husein Gaza pada tahun 2018, yang mengunggah video tentang situasi dan keadaan di Jalur Gaza. Ia juga seorang hafizAl-Qur'an.[3]
Husein datang bersama dengan 120 aktivis kemanusiaan lainnya yang berasal dari berbagai negara di Asia. Mereka melakukan konvoi jalur darat menggunakan bus yang dimulai dari negara Iran, Turki, hingga ke Jalur Gaza dengan menghabiskan waktu selama satu bulan.[4]
Kehidupan Pribadi
Muhammad Husein yang lahir dan dibesarkan di kawasan Pondok Pesantren Al-Fatah, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dan juga memiliki latar belakang pendidikan di STAI Al-Fatah dan melanjutkan studinya di Kota Gaza, Palestina.[1]
Pada akhir tahun 2010, Husein memulai perjalanannya menuju Gaza dan tiba di sana pada 5 Januari 2011. Sejak saat itu, ia menetap di Gaza dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan. Salah satu kontribusinya yang signifikan adalah keterlibatannya dalam proyek pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, yang bertujuan untuk meningkatkan layanan kesehatan bagi masyarakat setempat.[5]
Selain aktivitas kemanusiaannya, Husein juga menempuh pendidikan di Universitas Islam Gaza, di mana ia meraih gelar sarjana dalam bidang Syariah Islam. Pendidikan ini semakin memperdalam pemahamannya tentang budaya dan masyarakat Palestina, serta memperkuat perannya sebagai penghubung antara Indonesia dan Palestina.
Pada tahun 2014, Husein menikah dengan Jinan, seorang wanita asal Palestina. Pernikahan ini tidak hanya mempererat hubungannya dengan komunitas lokal, tetapi juga memberinya perspektif yang lebih mendalam tentang kehidupan di Gaza. Bersama Jinan, Husein dikaruniai dua orang anak.[4]
Pada Oktober 2023, ketika eskalasi konflik di Gaza meningkat, Husein bersama keluarganya berusaha untuk keluar dari wilayah tersebut. Setelah tiga kali upaya evakuasi yang gagal, mereka akhirnya berhasil menyeberangi perbatasan Rafah menuju Mesir dan kembali ke Indonesia pada 15 November 2023. Proses evakuasi ini penuh dengan tantangan dan risiko, tetapi dengan dukungan pemerintah Indonesia, mereka berhasil kembali dengan selamat.[6]
Karier
Merupakan pendiri dari International Networking for Humanitarian (INH).[7]