H.M. Muhammad Arum Sabil adalah Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI). Arum Sabil lahir pada 20 Juni 1966 di Desa Manggisan ( Wil Perkebunan Kalitengah) Kec. Tanggul – Jember. Ia pernah mengenyam pendidikan di SMP Bina di Tanggul Kulon, lalu melanjutkan sekolah di SMU PGRI Tanggul. Karena keterbatasan ekonomi keluarga ia bekerja menjadi tukang foto keliling di luar jam sekolah[1]. Lalu di tahun 2025 H.M Arum Sabil berhasil menyelesaikan Magister Kesehatan Lingkungan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (Unair) Surabaya pada tahun 2025[2].
Karir
Sempat bekerja di PTPN XXIII (kini PTPN XII) selama setahun sebelum akhirnya pada tahun 1987 bekerja di PT. HAS Farm, sebuah perusahaan perkebunan besar milik swasta dengan komoditas unggulan tanaman kakao dan karet di wilayah Kalimantan. Lalu bekerja di PT. Barito Pacific Timber (1990-1992). Kemudian di penghujung tahun 1992 memutuskan untuk mengundurkan diri dari PT. Barito Pacific Timber dan mudik ke Tanggul untuk menekuni pekerjaan sebagai petani tebu hingga saat ini[1].
Organisasi
Pada munas yang diselenggarakan di Jakarta pada 26 Januari 2016 menetapkan Arum Sabil sebagai Ketua Umum Dewan Pembina APTRI dan Abdul Wahid sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) APTRI[3]. Sejak itu juga aktif menjadi pemberi masukan kepada pemerintah khususnya yang bersangkutan dengan impor dan distribusi gula rafinasi. Ia dikenal sebagai sosok yang kritis terkait kebijakan importasi gula selama lebih dari 2 dekade.
Pada tahun 2025 yang lalu H.M. Muhammad Arum mengkritik kebijakan importasi gula yang mengakibatkan tidak terserapnya gula dari kebun petani. Dalam wawancara dengan awak media Arum Sabil mengungkap penyebab 74.700,386 Ton Gula di Jatim tidak terserap. Salah satunya diakibatkan masifnya impor gula rafinasi di Indonesia. Iapun menuntut agar mengembalikan pasar GKP konsumsi seperti semula. Ia juga menghimbau agar pemerintah mengurangi impor gula mentah bahan baku pabrik rafinasi serta menegakkan aturan hukum yang melarang rafinasi beredar di pasar-pasar tradisional/modern, sebab rafinasi ini diedarkan dengan berbagai cara[4].
Selain aktif di APTRI , Arum Sabil terpilih menjadi Ketua Kwarda Gerakan Pramuka Jawa Timur masa bakti 2020-2025 pada saat Musda Pramuka Jatim Desember 2020[5].
Penghargaan
Atas kiprahkan dalam hal pemberdayaan, pada tahun 2022 Arum Sabil menerima penghargaan Jer Basuki Mawa Beya Perak berdasarkan Surat Keputusan (SK) Gubernur Jawa Timur Nomor 188/809/KPTS/13/2022 tentang Penerima Lencana Penghargaan Jer Basuki Mawa Beya dalam rangka Peringatan Hari Pahlawan Provinsi Jawa Timur Tahun 2022 [6]. Lalu Arum Sabil kembali meraih penghargaan detikJatim Awards 2023 kategori Pemberdayaan Pemuda. INi tidak lepas atas inisiatifnya pengembangan Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya, Pramuka Produktif, hingga pengembangan Holtikulture and Integrated Farming[7]. Lalu pada tahun 2025 Tokoh asal Jawa Timur ini menerima CNN Indonesia Award 2025 untuk kategori Special Recognition: Champion of Farmers Empowerment and Education Integration. Penghargaan bergengsi ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kiprah dan dedikasi Arum Sabil dalam memadukan pemberdayaan petani dengan pendidikan serta gerakan sosial kemasyarakatan.