Khamenei dipilih sebagai pemimpin agung ketiga dalam sejarah Republik Islam Iran oleh Majelis Ahli pada awal Maret 2026. Sebelum menjabat sebagai pemimpin tertinggi, ia dikenal sebagai tokoh berpengaruh di balik layar dalam struktur kekuasaan Iran dan memiliki hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).[4]
Selama beberapa dekade sebelum pengangkatannya, ia jarang memegang jabatan resmi dalam pemerintahan tetapi dianggap sebagai salah satu figur paling berpengaruh di sekitar kantor Pemimpin Agung dan memainkan peran penting dalam dinamika politik Iran.[5]
Kehidupan awal
Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, sebuah kota suci bagi umat Muslim Syiah di timur laut Iran.[6] Ia dibesarkan dalam keluarga ulama yang memiliki peran penting dalam perkembangan politik Iran modern.[7] Ayahnya, Ali Khamenei, merupakan tokoh penting dalam Revolusi Iran 1979 yang menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlavi.[8]
Setelah revolusi, Ali Khamenei menjabat sebagai Presiden Iran dari tahun 1981 hingga 1989 sebelum kemudian menjadi Pemimpin Agung Iran setelah wafatnya Ruhollah Khomeini.[9]
Pendidikan
Mojtaba menghabiskan masa mudanya di Teheran sebelum melanjutkan pendidikan agama di Seminari Qom, salah satu pusat pendidikan Islam Syiah paling penting di dunia.[10] Di seminari tersebut ia mempelajari berbagai disiplin ilmu keislaman seperti fikih, usul fikih, tafsir Al-Qur'an, teologi Syiah, dan filsafat Islam.[11]
Karier militer
Selama tahap akhir Perang Iran–Irak (1980–1988), Mojtaba dilaporkan bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam.[12] Ia bertugas dalam unit yang berpartisipasi dalam operasi militer selama tahap akhir konflik tersebut.[13] Pengalaman militernya mempererat hubungannya dengan sejumlah komandan IRGC yang kemudian menjadi tokoh penting dalam politik Iran.[14][15]
Aktivitas keagamaan
Setelah berakhirnya perang Iran–Irak, Mojtaba lebih banyak berfokus pada pendidikan agama dan aktivitas akademik di seminari Qom.[16] Ia dikenal mengikuti kegiatan pengajaran serta diskusi ilmiah mengenai hukum Islam dan teologi Syiah.[17] Beberapa media Iran pada awal dekade 2020-an mulai menyebutnya dengan gelar ayatollah, meskipun status keulamaannya masih menjadi perdebatan di kalangan ulama Syiah.[18]
Pengaruh politik
Mojtaba mulai menarik perhatian pengamat politik internasional pada awal 2000-an meskipun ia tidak memegang jabatan resmi dalam pemerintahan Iran.[19] Ia sering disebut sebagai tokoh penting dalam lingkaran kekuasaan di kantor Pemimpin Agung Iran.[20]
Namanya semakin dikenal setelah Pemilihan Presiden Iran 2005 yang dimenangkan oleh Mahmoud Ahmadinejad.[21][22] Sejumlah analis politik berpendapat bahwa ia memiliki pengaruh dalam memperkuat dukungan dari kelompok konservatif dan militer terhadap Ahmadinejad.[23]
Pada tahun 2009, Iran mengalami demonstrasi besar yang dikenal sebagai protes pemilu Iran 2009 setelah hasil pemilihan presiden dipersengketakan oleh pihak oposisi.[24] Beberapa tokoh oposisi menuduh Mojtaba memiliki hubungan dengan aparat keamanan yang terlibat dalam penindasan demonstrasi tersebut.[25][26]
Sanksi internasional
Pada tahun 2019, pemerintah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap Mojtaba Khamenei sebagai bagian dari paket sanksi yang menargetkan individu yang dianggap dekat dengan Pemimpin Agung Iran.[27] Departemen Keuangan Amerika Serikat menuduhnya berperan dalam memperkuat struktur kekuasaan ayahnya dan mendukung kebijakan pemerintah Iran terhadap oposisi politik.[28]
Ia dikenal sebagai sosok yang sangat tertutup dan jarang tampil di hadapan publik atau memberikan wawancara kepada media.[33]
Catatan
↑Antara kematian Ali Khamenei pada 28 Februari hingga terpilihnya Mojtaba Khamenei pada 8 Maret, Dewan Kepemimpinan Sementara bertugas menjalankan peran sebagai pemimpin agung.[1]
↑Ini adalah tanggal paling awal yang diduga sebagai tanggal ia menjabat posisi ini. Tanggal, bulan, dan tahun pengangkatannya yang sebenarnya tidak diketahui.
↑Tait, Robert (26 February 2008). "Ahmadinejad favors his relatives". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 September 2013. Diakses tanggal 24 June 2009. The daughter of Gholam Ali Haddad-Adel, the current parliamentary speaker, is married to Mojtaba Khamenei, son of the supreme leader, Ayatollah Ali Khamenei.
↑Bazoobandi, Sara (11 January 2013). "The 2013 presidential election in Iran"(PDF). MEI Insight. 88. Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 25 September 2015. Diakses tanggal 18 February 2013. Gholam Ali Haddad Adel, who is Mojtaba Khamenei's (Ayatollah Khamenei's son) father-in-law