Biografi
Syekh Muhammad bin Tsani lahir di Fuwayrit, Qatar, sebagai putra Syekh Tsani bin Muhammad,[5] pendahulunya sebagai kepala Wangsa Tsani. Muhammad merupakan putra tertua kedua dari ayahnya dan memiliki empat saudara kandung.[4]
Muhammad bin Tsani mulai memperoleh pengaruh di Semenanjung Qatar setelah ia dan keluarganya pindah dari Fuwayrit ke Al Bidda pada tahun 1848. Sebelum perpindahan tersebut, setiap suku dan permukiman memiliki pemimpinnya masing-masing, dan tidak ada catatan mengenai penyatuan mereka dalam suatu pertempuran. Gagasan tentang sebuah wilayah atau negara yang bersatu juga belum dikenal. Namun, dengan kedatangan Muhammad bin Tsani, Qatar mulai memperoleh pengaruh ekonomi dan politik yang semakin besar, meskipun masih berada di bawah kedaulatan Bahrain.[6][4]
Pada tahun 1851, Muhammad bin Tsani terlibat dalam konflik antara Faisal bin Turki, Imam Keamiran Najd, dan Muhammad bin Khalifah Al Khalifah, penguasa Bahrain. Faisal telah lama berupaya menguasai Bahrain dan sebelumnya telah beberapa kali gagal menyerbu pulau tersebut.[7] Pada Mei 1851, Faisal melancarkan upaya ketiganya untuk merebut Bahrain dengan memerintahkan pasukannya bergerak menuju Al Bidda, Qatar, yang direncanakan sebagai pangkalan untuk invasi ke Bahrain. Sebagai tanggapan, Ali bin Khalifah, wakil Bahrain di Qatar, mengerahkan seluruh laki-laki yang mampu bertempur untuk mempertahankan Al Bidda serta meminta bantuan kepada Saeed bin Tahnun Al Nahyan dari Abu Dhabi. Muhammad bin Tsani memimpin salah satu pasukan Qatar bersama putranya.[8]
Pasukan Qatar dan sekutunya terlibat dalam pertempuran sengit selama tiga hari melawan pasukan Faisal dalam Pertempuran Mesaimeer yang berlangsung dari 2 hingga 4 Juni 1851. Pada hari kedua, pasukan Bahrain dan Abu Dhabi mundur ke kapal-kapal mereka dan menolak memberikan bantuan lebih lanjut kepada pasukan Qatar. Tidak lama setelah pertempuran berakhir, Muhammad bin Tsani menegosiasikan perjanjian damai terpisah dengan Faisal. Berdasarkan perjanjian tersebut, ia bersedia berada di bawah pemerintahan Wahhabi dengan syarat tetap menjadi kepala Al Bidda, dan syarat itu disetujui oleh Faisal.[9]
Pada 8 Juni, pasukan Qatar di bawah pimpinan Muhammad bin Tsani berhasil menguasai Burj Al-Maah, sebuah menara pengawas yang melindungi sumber air utama Doha di dekat Benteng Al Bidda, tempat pasukan gabungan Ali bin Khalifah dan Saeed bin Tahnun bermarkas. Setelah mendengar kabar tersebut, mereka melarikan diri ke Bahrain tanpa perlawanan, yang membuat Faisal kecewa dan menegur Muhammad bin Tsani karena tidak menangkap mereka.[10]
Pada 25 Juli 1851, Saeed bin Tahnun berhasil menengahi perjanjian antara Bahrain dan kaum Wahhabi. Berdasarkan perjanjian itu, Bahrain setuju membayar zakat tahunan kepada Faisal sebagai imbalan atas pelepasannya terhadap klaim atas Qatar serta pengembalian Al Bidda kepada kepemimpinan Ali bin Khalifah. Sebagai salah satu pihak dalam perjanjian tersebut, Muhammad bin Tsani juga menyetujui untuk melepaskan jabatannya.[11]
Permusuhan politik yang timbul akibat pertempuran tersebut menjadi salah satu penyebab meletusnya Perang Qatar–Bahrain pada tahun 1867 serta mendorong munculnya Qatar sebagai entitas politik yang merdeka. Proses ini mencapai puncaknya pada 12 September 1868 dengan ditandatanganinya perjanjian antara Muhammad bin Tsani dan perwakilan Britania, Lewis Pelly.[12]
Pada tahun 1871, Syekh Muhammad memohon perlindungan kepada Kesultanan Utsmaniyah di Al Hasa terhadap kemungkinan serangan dari pihak luar. Namun, pada dekade yang sama, justru pihak Utsmaniyah yang kemudian menunjukkan sikap bermusuhan terhadap rakyat Qatar. Syekh Mohammed meninggal dunia karena sebab alami pada tanggal 18 Desember 1878.[4]