Mobilisasi massa (juga dikenal sebagai mobilisasi sosial atau mobilisasi rakyat) merujuk pada mobilisasipenduduksipil sebagai bagian dari politik kontensius. Mobilisasi massa didefinisikan sebagai suatu proses yang melibatkan dan memotivasi beragam mitra serta sekutu di tingkat nasional dan lokal untuk meningkatkan kesadaran dan permintaan terhadap suatu tujuan pembangunan tertentu melalui dialog tatap muka. Anggota lembaga, jaringan komunitas, kelompok sipil dan keagamaan, serta pihak-pihak lainnya bekerja secara terkoordinasi untuk menjangkau kelompok-kelompok tertentu dalam rangka dialog dengan pesan-pesan yang telah direncanakan. Dengan kata lain, mobilisasi sosial berupaya memfasilitasi perubahan melalui berbagai pelaku yang terlibat dalam upaya-upaya yang saling terkait dan saling melengkapi.[1]
Dalam sebuah studi terhadap lebih dari 200 revolusi kekerasan dan lebih dari 100 kampanye tanpa kekerasan, Erica Chenoweth menunjukkan bahwa pembangkangan sipil sejauh ini merupakan cara paling ampuh untuk memengaruhi kebijakan publik. Studi tersebut mengidentifikasi bahwa partisipasi aktif sekitar 3,5% dari populasi sudah cukup untuk memastikan terjadinya perubahan politik yang signifikan.[2][3] Aktivis dan peneliti Kyle R Matthews mempertanyakan penerapan temuan tersebut—yang berkaitan dengan perubahan rezim—terhadap jenis-jenis gerakan lain, seperti Extinction Rebellion.[4]
Peter Kenez, The Birth of the Propaganda State: Soviet Methods of Mass Mobilization, 1917–1929, Cambridge University Press, 1985, ISBN978-0-521-31398-8