Profil
Michiel Eduard adalah seorang penyanyi berkebangsaan Belanda, keturunan Belanda Jawa (Belasteran).
Nama ayahnya adalah Edu Donkersloot, kelahiran Medan dan keturunan Jawa. Ia datang ke Belanda bersama keluarganya pada tahun 1956 dengan kapal Willem Ruys untuk berlibur, namun tidak dapat kembali ke Indonesia karena hubungan antara Indonesia dan Belanda saat itu sedang memburuk.[1]
Kakeknya Edu Donkersloot bernama Mangoenpawiro, yang diduga merupakan seorang bangsawan dari Yogyakarta. Ia diketahui berada di wilayah Deli antara tahun 1890 hingga 1910, dan meninggal dunia ketika putrinya yang bernama Ginah masih kecil.[2]
Ginah adalah nenek dari Michiel Eduard. Ia lahir di sebuah perkebunan tembakau bernama Tanjung Kubah, dekat Tebing Tinggi. Ibundanya Ginah bernama Moerti, seorang kuli kontrak yang kemudian bekerja sebagai juru masak di perkebunan besar tersebut.[3]
Ibundanya Michiel Eduard bernama Corine Donkersloot-Veen. Seorang guru piano klasik yang dulu mengajar di Rapenburg, Leiden, Belanda. [4]
Orang tuanya Michiel Eduard sudah meninggal.
Kisah leluhur jauh Michiel Eduard, melalui garis ibundanya Corine Donkersloot- Veen, membentang hingga 33 generasi ke belakang—menembus kabut panjang Abad Pertengahan Eropa.[5]
Salah satu leluhur perempuannya adalah Alpais van Hoegaarden (lahir sekitar 921). Ia merupakan putri dari Erlebaud de Lommois dan Alpais “Adelheid” de France (lahir 907). Dari garis inilah mengalir darah bangsawan Franka, terhubung langsung dengan para penguasa besar Eropa Barat.[6]
Alpais “Adelheid” de France adalah putri dari Charles III of France, yang dikenal dengan julukan “le Simple” atau “De Eenvoudige” (Sang Sederhana). Ia lahir pada 17 September 879 di Péronne dan memerintah sebagai Raja Franka Barat. Melalui pernikahannya dengan Frédérune van Ringelheim, garis keturunan kerajaan ini berlanjut ke generasi berikutnya.[7]
Charles III adalah putra dari Louis the Stammerer (Lodewijk II), yang lahir pada 1 November 846. Meski dijuluki “Sang Gagap,” ia tetap memegang takhta Franka Barat dan mempertahankan kesinambungan dinasti. Ibunya adalah Adelheid van Parijs.[8]
Ayah Louis II adalah Charles the Bald (Karel II), seorang penguasa besar yang pernah menjadi Raja Franka Barat, Raja Italia, Raja Provence, sekaligus Kaisar Romawi Suci. Ia dimakamkan di Saint-Denis, tempat peristirahatan para raja Prancis, bersama istrinya, Ermentrudis van Orléans.[9]
Charles the Bald merupakan putra dari Louis the Pious (Lodewijk I), Kaisar Romawi Suci yang dikenal sebagai “Sang Saleh.” Di bawah pemerintahannya, ia berupaya mempertahankan warisan kekaisaran luas peninggalan ayahnya di tengah pergolakan dan perpecahan internal.[10]
Dan pada puncak silsilah agung ini berdirilah sosok legendaris: Charlemagne. Lahir pada 2 April 747, ia dikenal dalam bahasa Jerman sebagai Karl der Große, dalam bahasa Prancis dan Inggris sebagai Charlemagne, dan dalam bahasa Latin sebagai Carolus Magnus. Sebagai Raja Bangsa Franka dan Kaisar Romawi Suci, ia menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Eropa. Bersama istrinya, Hildegard van Vintgouw, ia membangun fondasi kekaisaran yang kelak membentuk wajah Eropa Barat.[11]
Dari istana batu di Aachen hingga biara-biara di Francia Barat, dari medan perang hingga ruang takhta kekaisaran, perjalanan panjang garis keturunan ini mengalir melintasi abad demi abad—hingga akhirnya sampai kepada Michiel Eduard.[12]
Kisah ini bukan sekadar rangkaian nama dan gelar. Ia adalah potret zaman ketika kerajaan ditegakkan oleh pedang dan iman, ketika dinasti menentukan arah sejarah, dan ketika warisan darah melintasi generasi, menghubungkan masa silam dengan masa kini.[13]
Dan mungkin, dalam diri Michiel Eduard, masih berdenyut secercah semangat kepemimpinan, keteguhan, dan visi besar yang pernah membentuk peradaban Eropa.[14]
Karier
Pada tahun 1999 Michiel mulai ngeDJ di Amsterdam dengan nama DJ Mikey setelah terinspirasi oleh teman-teman dari adegan DJ sebagai DJ Chuckie. Santai Entertainment dari Rotterdam adalah salah satu organisasi besar pertama di mana untuk Michiel mulai manggung. Selain tampil di acara-acara Asian Party di seluruh Eropah pada tahun 2002 ia mulai manggung di Indonesia.
Setelah menetap di Bali, ia kembali ke Belanda. Pada tahun 2003 Michiel menandatangani kontrak tiga tahun dengan artis management Broadcast Design Indonesia ( BDI ) di Jakarta. Selain manggung di club-club di pulau Sumatera, Jawa dan Bali, Michiel juga mulai jadi guest presenter di acara TV yang bernama Liga Inggirs di TV& bersama dengan rapper Uya.
Pada tahun 2004 Michiel kembali lagi ke dunia DJ dan pindah ke Den Haag.
Pada tahun 2006 Michiel bekerja di Surabaya untuk album dari band lokal Boogie hip-hop. Dari sinilah muncul 'Superman' single yang datang untuk menjadi nomor satu di tangga lagu Surabaya.
Tahun 2010 Michiel membuat suatu lagu bersama Abdee Negara dan Ivanka dari Slank. Judul nya Laki Laki Paling Gila. Video klip nya di buat di Jakarta, modelnya Dewi Rezer. Pada 2013, video klip yang kedua dibuat di kota Medan; Jalan Setapak menjadi hits pertama di stasiun TV Bali pada bln mei.
Pada tahun 2014 Michiel kembali merilis lagu yang berjudul Ku Ingin Kau. Video clip di sutradarai oleh Ivho Sihombing di Jakarta. Juni 2015 Michiel Eduard bergabung dengan Hengky Supit, vokalis rock legenda Indonesia ini di ajak isi lead guitar nya di lagu Buktikanlah. Lagu nya di rekam di Den Haag dan Amsterdam dan video clip nya di buat di Amsterdam.
Tahun 2016 Michiel kembali dengan lagu baru yang berjudul Mama. Lagu ini di release dengan formasi band baru Michiel Eduard yang bernama Naluri. Proyek ini dibuat untuk mereka yang kehilangan mama nya.
Kau Telah Pergi adalah single yang sekalian menjadi Soundtrack di film nya Rompis The Movie, Sebuah Roman Picisan yang di sutradarai oleh Monty Tiwa. Film tersebut telah tayang di bioskop pertengahan 2018.
Sebagai penghormatan kepada Indorock, genre musik yang juga menjadi dasar bagi Nederpop, Eduard menulis single Bersamamu.[15]
Untuk Wieteke van Dort, Eduard menulis dan memproduksi pada tahun 2022 lagu-lagu Surabayaku dan Weerzien. Weerzien juga menjadi rekaman solo terakhir Wieteke. Pada tahun 2023, Eduard menulis lagu Dewi Melati, yang juga direkam bersama Wieteke van Dort. Lagu ini terinspirasi dari buku anak terbaru berjudul Bung Bebek karya Wieteke van Dort, di mana Eduard menciptakan nama-nama tokoh dalam buku tersebut. Ilustrasi komik dalam buku itu dibuat oleh Rik van der Burg, seorang ilustrator komik dari Den Haag.[16]
Bersama Lonny Gerungan, Eduard juga merekam lagu Baliku, yang ditulisnya untuk menghormati keindahan pulau Bali.[17]
Selain itu, pada tahun 2022, single pertamanya berbahasa Belanda berjudul Zoals het is dirilis, diikuti oleh Mama, yang didedikasikan untuk ibunya yang telah meninggal.[18]
Pada Februari 2026, setelah cukup lama, kembali dirilis sebuah lagu baru berjudul Indo Bule. Lagu ini menggambarkan perasaan orang-orang Indo yang pada tahun 1950-an datang ke Belanda dengan kapal dan harus meninggalkan segalanya di tanah kelahiran mereka di Timur.[19]
Istilah “Indo” berasal dari kata Indo-Eropa. Di Indonesia sendiri, sebutan yang tepat untuk orang berdarah campuran kini hampir tidak lagi digunakan. Saat ini, masyarakat Indonesia sering memakai kata “Indo” sebagai singkatan dari “Indonesia” atau “orang Indonesia,” sesuatu yang bagi komunitas Indo di Belanda tidak dapat diterima.[20]
Di Indonesia, orang asing kerap disebut “Bule.” Istilah ini dianggap bernuansa diskriminatif karena diasosiasikan dengan makna “putih,” yang konon berasal dari kata “albino.” Banyak orang Indo merasa terdiskriminasi oleh penggunaan istilah tersebut. Dalam lagu Indo Bule, Michiel Eduard menyoroti persoalan ini.[21]
Video klipnya dikembangkan oleh sebuah perusahaan Indonesia yang mengkhususkan diri dalam kecerdasan buatan.[22]
Pada awal tahun 2026, Michiel Eduard memutuskan untuk menarik seluruh musiknya dari Spotify karena adanya perselisihan terkait royalti.[23]
Selain kegiatan artistiknya, Michiel Eduard juga aktif di berbagai bidang lain:[24]
Dokumenter: Baru-baru ini, Michiel Eduard tampil dalam dokumenter “Indië in je Ziel”. Dalam dokumenter lima bagian ini yang diproduksi oleh Stichting Oorlogsverhalen dan disiarkan oleh Omroep MAX (NPO2) pada tahun 2022, dibahas tentang dampak yang bertahan lama dari Perang Dunia II serta dekolonisasi Hindia Belanda.[25]
Yayasan: Pada tahun 2021, Michiel Eduard mendirikan Stichting Anak Mas dan menjabat sebagai ketuanya. Yayasan ini bergerak untuk membantu orang kurang mampu, anak yatim, dan penyandang disabilitas di Indonesia. Duta dari Stichting Anak Mas adalah Wieteke van Dort dan Frans Leidelmeijer, yang dikenal dari program TV Tussen Kunst en Kitsch. Selain Stichting Anak Mas, Eduard juga menjadi pengurus di Stichting Oorlogsverhalen, tempat ia membuat konten terkait Hindia Belanda.[26]
Penelitian: Selama puluhan tahun, Eduard meneliti sejarah pekerja kontrak Jawa di Deli.[27]
Bersama penulis Reggie Baay, Eduard bekerja pada pameran dan proyek penelitian berjudul “Verborgen Verbanden” di Van Abbemuseum di Eindhoven. Pameran ini mengungkap masa kolonial pendiri museum, Henri van Abbe. Koleksi museum yang kaya didanai oleh keuntungan dari industri tembakau di Hindia Belanda. Pameran tersebut menunjukkan bagaimana industri tembakau terbentuk dan siapa saja yang terlibat di dalamnya.[28]
Di Medan, Eduard secara sukarela berkontribusi pada pameran saat ini bekerja sama dengan Museum Perkebunan Indonesia (MUSPERIN), yang berlokasi di kantor pusat lama Algemeene Vereeniging van Rubberplanters ter Oostkust van Sumatra (AVROS). Kakek Eduard, Marius Eduard Donkersloot, adalah seorang perencana yang bekerja untuk AVROS setelah Perang Dunia II. Pameran ini menampilkan sejarah para pekerja kontrak (kuli kontrak) di perkebunan.[29]
Album
- Djaga - The Morning Shapes The Night. (featuring Mikey on the title song). Hip Hop 2005
Single release
- Superman Featuring Boogie Band. Hip Hop 2006
- Laki Laki Paling Gila Featuring Abdee Negara dan Ivanka (Slank) Pop rock 2010
- Jalan Setapak Pop rock 2010
- Ku Ingin Kau Pop rock 2014
- Buktikanlah Featuring Hengky Supit Rap & Roll 2015
- Kau Telah Pergi (Ost. Rompis 2018)
- Bersamamu (Ode aan de indorock) 2019
- Menahan Rindu Featuring Hengky Supit 2021
- Surabayaku Featuring Wieteke van Dort 2022
- Zoals het is 2022
- Mama 2022
- Baliku Featuring Lonny Gerungan 2022
- Ku ingin Kau Featuring Once Mekel 2022
- Kosong 2022
- Dewi Melati Featuring Wieteke van Dort (2023)
- Toraja Bersinar (2024)
- Indo Bule (2026)
Single release NALURI
- Mama (cipt/vocal: Michiel Eduard).