Michael Bambang Hartono (2 Oktober 1939–19 Maret 2026) adalah seorang pewaris kekayaan dan pengusaha Indonesia.
Biografi
Bambang dan adiknya, Robert Budi Hartono, mewarisi Djarum setelah ayah mereka, Oei Wie Gwan, meninggal pada tahun 1963. Oei Wie Gwan meninggal tidak lama setelah pabrik rokok Djarum terbakar habis. Bambang sekeluarga menganut agama Katolik.[3]
Bambang dan Budi mengembangkan Djarum sampai ke luar negeri. Saat ini Djarum mendominasi pasar rokok kretek di Amerika Serikat, jauh melebihi Gudang Garam dan Sampoerna.[butuh rujukan]
Pada 2022, Forbes merilis daftar orang terkaya di Indonesia, Budi Hartono dan Bambang Hartono menduduki peringkat pertama dengan total kekayaan US$ 47,7 miliar.[4] Bambang sendiri menduduki peringkat ke-69 dunia dengan total kekayaan US$ 22,3 miliar.[5]
Selain industri rokok, saat ini Bambang dan Budi merupakan pemegang saham terbesar dari Bank Central Asia (BCA). Mereka berdua melalui Farindo Holding Ltd. menguasai 51 persen saham BCA. Selain itu, mereka juga memiliki perkebunan sawit seluas 65.000 hektare di Kalimantan Barat sejak tahun 2008, serta sejumlah properti di antaranya pemilik Grand Indonesia dan perusahaan elektronik Polytron.
Asian Games 2018
Bambang mengikuti Asian Games 2018 untuk mewakili kontingen Indonesia dalam cabang olahraga bridge.[6] Ia meraih medali perunggu, serta mendapat bonus atlet yang kemudian ia sumbangkan seluruhnya kepada federasi.[7]
Kematian
Michael Bambang Hartono meninggal dunia di Singapura pada 19 Maret 2026 pukul 13.15 waktu Singapura.[8][9][10] Jenazahnya kemudian dikebumikan di makam keluarga Djarum di Dukuh Nggodo, Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah pada 25 Maret 2026.[11]