Metil eugenol ditemukan di sejumlah tumbuhan (lebih dari 450 spesies dari 80 famili termasuk famili Angiospermae dan Gymnospermae) dan berperan dalam menarik penyerbuk. Sekitar 350 spesies tumbuhan memilikinya sebagai komponen aroma bunga. Kemampuannya untuk menarik serangga, khususnya lalat buah Bactrocera (terutama pejantan Bactrocera dorsalis) pertama kali diperhatikan pada tahun 1915 oleh F. M. Howlett. Senyawa ini mungkin telah berevolusi sebagai respons terhadap patogen, karena metil eugenol memiliki beberapa aktivitas antijamur. Senyawa ini juga mengusir banyak serangga.[3]
Pada Oktober 2018, FDA AS mencabut otorisasi penggunaan metil eugenol sebagai zat perasa sintetis untuk digunakan dalam makanan karena para pemohon (termasuk Natural Resources Defense Council, Center for Food Safety, dan Center for Science in the Public Interest) memberikan data yang menunjukkan bahwa aditif ini menyebabkan kanker pada hewan laboratorium.[4] FDA mencatat tindakan tersebut dilakukan meskipun pendiriannya yang berkelanjutan bahwa zat ini tidak menimbulkan risiko bagi kesehatan masyarakat dalam kondisi penggunaan yang dimaksudkan.[5]
Di negara-negara anggota Uni Eropa, mulai tahun 2021 tiap produk yang mengandung lebih dari 0,01% metil eugenol harus mencantumkan label yang menyatakan hal ini sesuai dengan peraturan CLP (Peraturan (EC) No 1272/2008).[6][Verifikasi gagal]