Metana di atmosfer adalah metana yang ada di udara Bumi.[1] Konsentrasi metana di atmosfer terus meningkat akibat emisi metana, dan hal ini menyebabkan perubahan iklim.[2]Metana termasuk salah satu gas rumah kaca yang paling kuat.[3] Dampak metana terhadap pemanasan iklim bersifat langsung, dan menjadi penyumbang terbesar kedua terhadap perubahan iklim yang disebabkan manusia sepanjang sejarah. Metana juga menjadi sumber utama uap air di stratosfer melalui proses oksidasi, dan uap air ini menambah sekitar 15% dari efek pemanasan metana. Potensi pemanasan global (global warming potential/GWP) metana diperkirakan sekitar 84 kali lipat dibanding karbon dioksida dalam rentang waktu 20 tahun, dan sekitar 28 kali lipat dalam rentang 100 tahun.
Sejak awal Revolusi Industri (sekitar tahun 1750), konsentrasi metana di atmosfer meningkat sekitar 160%, dan peningkatan ini hampir seluruhnya disebabkan oleh aktivitas manusia.[4] Sejak tahun 1750, metana hanya menyumbang sekitar 3% emisi gas rumah kaca berdasarkan massa, tetapi bertanggung jawab atas sekitar 23% dari total pemanasan iklim. Hingga tahun 2019, konsentrasi metana global naik dari 722 bagian per miliar (ppb) pada masa pra-industri menjadi 1866 ppb. Ini berarti naik 2,6 kali lipat dan merupakan angka tertinggi setidaknya dalam 800.000 tahun terakhir.[5]
Metana juga meningkatkan jumlah ozon (O3) di troposfer (sekitar 6-19 km dari permukaan Bumi) dan di stratosfer (hingga sekitar 50 km di atas permukaan Bumi).[6] Baik uap air maupun ozon adalah gas rumah kaca, yang pada gilirannya semakin memperparah pemanasan iklim.
Peran dalam perubahan iklim
Metana (CH4) di atmosfer Bumi adalah gas rumah kaca yang sangat kuat, dengan potensi pemanasan global 84 kali lebih besar dibanding CO2 dalam jangka waktu 20 tahun.[7] Namun, metana tidak bertahan lama seperti CO2, sehingga dampaknya berkurang menjadi sekitar 28 kali lebih besar dibanding CO2 dalam jangka waktu 100 tahun.[8]
Forcing radisasi atau forcing iklim adalah konsep ilmiah yang digunakan untuk mengukur dampak manusia terhadap lingkungan, dihitung dalam satuan watt per meter persegi (W/m2).[9] Konsep ini merujuk pada perbedaan antara jumlah energi matahari yang diserap Bumi dengan energi yang dipancarkan kembali ke luar angkasa. Efek forcing gas rumah kaca langsung dari metana diperkirakan meningkat sebesar 0,5 W/m2 dibandingkan dengan tahun 1750 (perkiraan pada tahun 2007).[10]
Dalam laporan Global Methane Assesment (2021), UNEP dan CCAC menyatakan bahwa pemahaman mereka tentang efek forcing radiasi metana meningkat berkat penelitian yang dilakukan tim M. Etminan pada 2016, dan William Collins pada 2018.[11] Hasil penelitian itu menyebabkan adanya revisi ke atas dibanding perkiraan dalam Laporan Penilaian Kelima IPCC (AR5) tahun 2014. Pemahaman baru ini menunjukkan bahwa dampak sosial-ekonomi dari emisi metana sebelumnya kemungkinan besar dihitung terlalu rendah.[12]
Etminan dan rekan-rekannya menerbitkan perhitungan baru tentang forcing radiasi (RF) metana dalam jurnal Geophysicacl Reserach Letters tahun 2016. Dalam penelitian itu, mereka memasukkan komponen spektrum gelombang pendek CH4 yang mampu menurunkan kadar metana di atmosfer pada akhir abad ini bisa sangat berpengaruh terhadap pencapaian target iklim Paris, serta memberi ruang tambahan untuk jumlah emisi karbon yang masih dapat dikeluarkan hingga tahun 2100.[11]
Referensi
↑Dlugokencky, Ed (December 5, 2016). "Trends in Atmospheric Methane". Global Greenhouse Gas Reference Network. NOAA Earth System Research Laboratory. Diakses kembali pada December 22, 2016.
↑Methane Tracker 2021. IEA (Report). Paris. 2021. Diakses kembali pada 21 Maret , 2023.License: CC BY 4.0
↑Global Methane Assessment (PDF). United Nations Environment Programme and Climate and Clean Air Coalition (Laporan). Nairobi. 2022. hal. 12. Diakses kembali pada 15 Maret, 2023.
↑Wuebbles, Donald J.; Tamaresis, John S. (1993). "The Role of Methane in the Global Environment". In Khalil, M. A. K. (ed.). Atmospheric Methane: Sources, Sinks, and Role in Global Change. NATO ASI Series. Berlin, Heidelberg: Springer. hal. 469–513. doi:10.1007/978-3-642-84605-2_20. ISBN 978-3-642-84605-2.
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.