Sebelum tahun 2019, Mesiwah Pare Gumboh dilangsungkan secara sendiri-sendiri oleh warga setempat. Pada 2018, dilaksanakan musyawarah terkait Desa Liyu yang dijadikan tujuan wisata, tetapi masih belum berhasil. Hingga disepakati sebuah festival yang diberi nama mesiwah pare gumboh dan dilaksanakan setiap Juli setelah panen selesai.[2]
Dalam Mesiwah Pare Gumboh, biasanya warga Suku Dayak Deah menyiapkan makanan sehari sebelumnya. Ada beberapa makanan wajib yang dibuat, seperti lamang, dodol dan beberapa jenis kue tradisional. Terkadang juga terdapat sajian dari kelapa dan beberapa benda yang dimasukan dalam ritual. Beberapa ritual memiliki makna tersendiri, seperti misalnya nazar dari warga, menghantarkan perlengkapan mentah yang akan dimasak, tolak bala, mesiwah pare dan ritual adat lainnya.[3]
Pagelaran
Ritual Mesiwah Pare Gumboh dijadikan sebuah festival pertama kali dilakukan pada 2019 dengan tujuan melestarikan budaya lokal dan agar memperkenalkan kebudayaan asli Dayak Deah di Desa Liyu dan Desa Gunung Riut kepada masyarakat luas.
Ritual ini diselenggarakan di tiga lokasi dengan kegiatan yang berbeda, lokasi pertama adalah di balai adat yang merupakan tempat ritual, lokasi kedua adalah panggung tarian tradisional dan konser dengan tajuk “Suara dari Jantung Borneo” yang dimeriahkan oleh Sensape dari Delis feat Palui, Daniel Nuhan dan Iksan Skuter. Adapun lokasi ketiga bertajuk Liyukustik, berupa tempat wisata di samping sungai dengan suasana berkemah sambil menikmati alunan musik akustik.[2]
Tahapan
Atraksi tari api dalam acara adat Mesiwah Pare Gumboh oleh Komunitas Dayak Deah, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan
Adapun tahapan ritual Mesiwah Pare terdiri dari nyerah ngemonta, ngemonta, nengkuat mulukng, besoyokng, mengudang, dan diakhiri dengan nowus babatn.
Nyerah ngemonta
Tahapan ini berupa membawa hasil panen yang masih mentah untuk diserahkan kepada penyoyokng atau pemimpin ritual di balai adat. Hasil panen ini dibawakan oleh anak-anak sambil menari sambil diiringi bamamang atau mengucap puja-puji untuk leluhur. Prosesi ini dimaksudkan agar hasil panen yang diserahkan dapat diterima oleh leluhur yang menjaga sungai atau laut sekaligus permohonan doa agar dipelihara dan sehat selalu. Salah satu mantra yang diucapkan pemimpin ritual adalah:[2]
Bunga musim kambang sarindu, lagi masaknya, minta tarima lawan hati baik, minta tarima lawan hati nyaman
Ngemonta
Nengkuat penyoyokng atau mulukng
Tahapan ini dimulai saat matahari terbenam, berupa menyerahkan hasil panen yang telah dimasak kepada pelaku ritual untuk besoyokng (disampaikan) ke leluhur.[2]
Mengudang
Tahapan ini berupa tari topeng dan hanya dilaksanakan jika si pemilik panen memiliki nazar dan meminta untuk dilakukan rangkaian itu.[2]
Nowus babatn
Tahapan ini adalah tahapan terakhir dalam rangkaia acara Masiwah Pare gumboh, dimana masyarakat Dayak Deah memasukkan padi ke dalam upak, sidang adat dan menyerahkan tombai atau sebagian hasil panen kepada penyoyokng sebagai tanda terima kasih.[2]