Mereologi (/mɪəriˈɒlədʒi/; dari bahasa Yunaniμέροςmeros ‘bagian’ (akar: mere-) dan akhiran -logy, yang berarti ‘studi’, ‘diskusi’, atau ‘ilmu’) adalah kajian filosofis tentang hubungan antara bagian dan keseluruhan, juga disebut sebagai hubungan kebagianan (parthood relationships).[1][2]
Mereologi secara formal diaxomatisasi pada abad ke-20 oleh ahli logika Polandia Stanisław Leśniewski, yang memperkenalkannya sebagai bagian dari kerangka komprehensif untuk logika dan matematika, sekaligus menciptakan istilah mereology itu sendiri.[2]
Gagasan-gagasan mereologis memiliki pengaruh pada teori himpunan awal dan tetap digunakan dalam sebagian kecil karya mengenai dasar-dasar matematika. Beragam bentuk aksiomatis mereologi telah diterapkan dalam metafisika, digunakan dalam semantik linguistik untuk menganalisis istilah massa (mass terms), dalam ilmu kognitif, serta dikembangkan dalam teori sistem umum.[1] Mereologi juga telah dikombinasikan dengan topologi, yang menghasilkan bidang kajian bernama mereotopologi. Selain itu, mereologi digunakan dalam fondasi geometri tanpa titik (point-free geometry) karya Whitehead, sebagaimana dibahas oleh Tarski (1956) dan Gerla (1995).
Mereologi diterapkan dalam berbagai konteks — mulai dari kelompok musik, wilayah geografis, hingga konsep abstrak — menunjukkan relevansinya dalam berbagai wacana filosofis dan ilmiah.[1]
Dalam metafisika
Dalam metafisika, mereologi digunakan untuk merumuskan tesis “komposisi sebagai identitas”, yaitu teori bahwa individu atau objek identik dengan jumlah mereologis (atau fusi) dari bagian-bagiannya.[3]
Sebuah tesis metafisik lain, disebut “monisme mereologis”, berpendapat bahwa versi mereologi yang dikembangkan oleh Stanisław Leśniewski dan Nelson Goodman — dikenal sebagai Classical Extensional Mereology (CEM) — berfungsi sebagai teori umum dan menyeluruh tentang kebagianan dan komposisi, setidaknya untuk ranah objek yang luas dan signifikan.[4]
Namun, tesis ini menuai kontroversi, karena dalam beberapa kasus, hubungan kebagianan tidak tampak transitif (seperti antara organisme dan organ-organnya).[5]Meskipun demikian, asumsi-asumsi CEM sangat umum dalam kerangka mereologis, terutama karena pengaruh Leśniewski sebagai perumus pertama teori ini.
Teori mereologis umumnya mengasumsikan bahwa:
Segala sesuatu adalah bagian dari dirinya sendiri (refleksivitas),
Bagian dari bagian dari suatu keseluruhan juga merupakan bagian dari keseluruhan tersebut (transitivitas), dan
Dua entitas yang berbeda tidak dapat saling menjadi bagian satu sama lain (antisimetri),
sehingga hubungan kebagianan bersifat urutan parsial (partial order). Sebagai alternatif, beberapa teori mengasumsikan bahwa kebagianan bersifat irefleksif (tidak ada sesuatu yang menjadi bagian dari dirinya sendiri) tetapi tetap transitif, sehingga antisimetri muncul secara otomatis.
12Cotnoir, A. J.; Varzi, Achille C. (2021). Mereology. Oxford scholarship online (Edisi First edition). Oxford: Oxford University Press. ISBN978-0-19-181164-7.