Mentalitas kolonial atau mentalitas inlander adalah internalisasi inferioritas etnis atau budaya yang dirasakan oleh suatu kelompok yang pernah dijajah.[1] Mentalitas kolonial pada dasarnya adalah keyakinan bahwa nilai budaya penjajah lebih unggul daripada nilai yang dimilikinya sendiri.[2] Istilah ini telah digunakan oleh para cendekiawan pascakolonial untuk membahas dampak penjajahan secara transgenerasional seusai dekolonisasi.[3][4]
Dalam bidang psikologi, konsep ini telah digunakan untuk menjelaskan beberapa kejadian depresi kolektif, kecemasan, atau isu penyakit kejiwaan lainnya yang muncul pada populasi yang pernah dijajah.[5][6]
Konsep mentalitas kolonial sendiri telah dipengaruhi oleh konsep-konsep Marxisme, seperti karya-karya Frantz Fanon tentang dominasi budaya Barat[7] dan konsep hegemoni budaya yang dikembangkan oleh tokoh komunis Italia Antonio Gramsci.[8]
Catatan kaki
↑Nunning, Vera. (06/01/2015). Fictions of Empire and the (un-making of imperialist mentalities: Colonial discourse and post-colonial criticism revisited. Forum for world literature studies. (7)2. hlm.171-198.
↑David, E. J. R.; Okazaki, Sumie (2010-04-01). "Activation and Automaticity of Colonial Mentality". Journal of Applied Social Psychology (dalam bahasa Inggris). 40 (4): 850. doi:10.1111/j.1559-1816.2010.00601.x. ISSN1559-1816.
↑David, E. J. R. (2010). "Testing the validity of the colonial mentality implicit association test and the interactive effects of covert and overt colonial mentality on Filipino American mental health". Asian American Journal of Psychology (dalam bahasa Inggris). 1 (1): 31–45. doi:10.1037/a0018820.
↑Paranjpe, Anand C. (2016-08-11). "Indigenous Psychology in the Post- Colonial Context: An Historical Perspective". Psychology and Developing Societies (dalam bahasa Inggris). 14 (1): 27–43. doi:10.1177/097133360201400103.
↑Utsey, Shawn O.; Abrams, Jasmine A.; Opare-Henaku, Annabella; Bolden, Mark A.; Williams, Otis (2014-05-21). "Assessing the Psychological Consequences of Internalized Colonialism on the Psychological Well-Being of Young Adults in Ghana". Journal of Black Psychology (dalam bahasa Inggris). 41 (3): 195–220. doi:10.1177/0095798414537935.
↑1972-, Rabaka, Reiland (2010). Forms of Fanonism: Frantz Fanon's critical theory and the dialectics of decolonization. Lanham, Md.: Lexington Books. ISBN9780739140338. OCLC461323889.Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)