Melaleuca cajuputi, yang lebih dikenal sebagai atau samet putih, merupakan anggota keluarga Myrtaceae dan tersebar luas di Australia, Asia Tenggara, Papua Nugini, serta Kepulauan Selat Torres. Pohon dari tanaman ini berukuran sedang hingga tinggi, memiliki kulit batang tipis menyerupai kertas, daun muda berwarna keperakan, dan bunga berbentuk bulir berwarna putih atau kehijauan. Spesies ini memiliki nilai ekonomi penting karena menjadi sumber utama dari minyak kayu putih.
Deskripsi
Melaleuca cajuputi merupakan pohon berukuran sedang hingga besar, biasanya mencapai tinggi sekitar 35 meter, dan dalam beberapa kasus dapat tumbuh hingga 46 meter. Batangnya memiliki kulit tipis menyerupai kertas dengan warna abu-abu, kecokelatan, atau keputihan. Tunas mudanya ditutupi bulu halus yang akan hilang seiring pertumbuhan. Daunnya tersusun berselang-seling, berukuran panjang antara 40–140 milimeter dan lebar 7,5–60 milimeter, dengan bentuk meruncing di kedua ujung. Bunganya berwarna putih, krem, atau kekuningan kehijauan, tersusun dalam bentuk bulir padat di ujung cabang yang terus memanjang setelah berbunga, meskipun terkadang juga muncul di ketiak daun bagian atas. Setiap bulir bunga mengandung 8 hingga 20 kelompok, dengan tiap kelompok terdiri dari tiga bunga. Benang sarinya tersusun dalam lima gugus mengelilingi bunga, masing-masing berisi 6 hingga 18 benang sari. Waktu berbunga bergantung pada subspesiesnya. Setelah berbunga, pohon ini menghasilkan buah berkayu berbentuk cangkir kecil yang tumbuh berkelompok longgar di sepanjang cabang, dengan panjang setiap buah sekitar 2–2,8 milimeter.[2]
Kegunaan
Di Thailand, daun tanaman ini digunakan untuk membuat teh herbal yang dipercaya dapat membantu mengobati berbagai keluhan kesehatan. Di banyak wilayah Asia seperti Indonesia, minyak yang dihasilkan dari pohon ini dikenal sebagai minyak kayu putih digunakan sebagai obat gosok dan inhalan.[3]
Secara komersial, minyak kayu putih umumnya diekstraksi dari Melaleuca cajuputi subsp. cajuputi. Minyak ini berupa cairan kuning pucat dan mengandung hingga 60% senyawa 1,8-cineole, yang berperan sebagai komponen antimikroba utama. Minyak kayu putih dianggap tidak beracun dan tidak menyebabkan sensitivitas, meskipun pada kadar tinggi dapat menimbulkan iritasi kulit. Selain digunakan sebagai pengusir serangga, minyak ini juga berfungsi sebagai penenang, pereda otot tegang, serta membantu mengatasi infeksi cacing gelang dan gangguan saluran kemih. Di luar fungsi medis, minyak kayu putih juga digunakan untuk memberi rasa pada makanan dan menambah aroma pada sabun serta produk kosmetik.[4]