Meisterstadt A1, A2, A3, A5, A6, A7, A8, A9, Pollux Habibie Financial Center & International Hotel, Pollux Mall Batam Centre, Habibie & Po International Hospital, Habibie & Po University, dan Meisterstadt Galerie Street Shophouses[3]
Nama proyek ini berasal dari kata Jerman, Meister (master) dan Stadt (kota). Oleh karena itu, Meisterstadt berarti kota berstandar tinggi, dengan konsep yang dijelaskan sebagai "kota di dalam kota".[6][7]
Sejarah
Lahan dan perencanaan
Kawasan pengembangan ini awalnya merupakan sebuah lahan kosong yang terletak di pusat kota[8][9] pada KelurahanTeluk Tering di dalam area Kecamatan Batam Kota.[10] Kawasan ini berbatasan dengan kawasan perumahan Citra Batam dan Livia Garden di sebelah utara, Jalan Ahmad Yani dengan Politeknik Negeri Batam di seberang jalan di sebelah timur, Jalan Laksamana Bintan di sebelah selatan, dan kawasan perumahan Mitra Raya dan Livia Garden di sebelah barat.[11]
Pada 28 September 2013, Habibie mengumumkan bahwa kompleks rumah sakit akan dibangun di lokasi tersebut. Ia menambahkan bahwa rumah sakit ini adalah impian istrinya (Ainun) dan siapa pun dapat bergabung untuk membantunya mewujudkan proyek tersebut.[12] Oleh karena letaknya yang strategis, Pollux Properties, sebuah perusahaan properti yang berbasis di Singapura, tertarik untuk menjalin hubungan kerja sama dengan keluarga Habibie dalam mengembangkan situs tersebut untuk penggunaan umum, residensial, dan komersial pada akhir 2015. Pada 5 Desember tahun itu, mereka mengumumkan hubungan kerja sama itu dengan nama Pollux Habibie International serta menamakan proyek tersebut Meisterstadt.[13] Disebutkan pula bahwa pembangunan proyek tahap pertama akan dimulai pada pertengahan 2016 dan akan selesai pada 2019.[14]
Proyek ini terinspirasi oleh konsep kota terintegrasi Jerman.[15] Selain itu, di lokasi ini direncanakan akan memiliki menara perkantoran dengan 100 lantai, delapan menara apartemen dengan 35-45 lantai, rumah sakit 15 lantai, hotel 50 lantai, mal, dan universitas.[8][16] Sekitar seratus dua puluh ruko juga akan dibangun di lokasi tersebut.[13]
Pembangunan dan kesepakatan
Peletakan batu pertama di proyek ini dilakukan pada 27 Agustus 2016. Acara ini dihadiri oleh komisioner Pollux Habibie Internasional Ilham Akbar Habibie, putra dari BJ Habibie, dan presiden komisaris Pollux Properties Timur Pradopo, yang juga pernah menjabat sebagai Kapolri dari tahun 2010 hingga 2013. Pada upacara peletakan batu pertama, Ilham menyatakan bahwa gedung-gedung tersebut akan "lebih tinggi dari yang ada di Singapura". Selain itu, diumumkan juga bahwa proyek akan selesai pada tahun 2024.[1]
Pada 30 Agustus 2017, perusahaan milik negara PT PP Construction & Invesment menandatangani kesepakatan konstruksi bernilai Rp3 triliun (US$ 213 juta) dengan Pollux Properties. Kesepakatan ini ditandatangani di rumah B.J.Habibie di Kuningan, Jawa Barat.[17] Kontrak tersebut menyatakan bahwa PP akan mengelola proses konstruksi tahap pertama yang diharapkan akan selesai pada akhir 2019.[18]
Beberapa kesepakatan lain juga dilakukan selama proses pembangunan. Pada 7 Februari 2019, kesepakatan pembayaran antara Pollux dengan BNI tercapai guna membantu pembeli dalam menginvestasikan uangnya ke dalam proyek.[19] Lebih lanjut, pada 25 Februari 2019, hubungan kerja sama (kontrak) bernilai Rp238 miliar (US$16 juta) antara pengembang dan raksasa elevator KONE berhasil terjalin. Pada pertemuan itu, diumumkan bahwa KONE akan merancang lift untuk semua menara dalam proyek tersebut.[20] Pada tahun berikutnya, Pollux membuat kesepakatan lainnya yang benilai Rp100 miliar (US$7 juta) dengan PT. FTN (Fasilitas Telekom Nusantara) pada 22 Januari 2020 untuk membangun jaringan serat optik dalam proyek ini.[21]
Proses konstruksi berlangsung sesuai jadwal. Struktur pertama yang akan diselesaikan, Meisterstadt A1, ditutup atap pada 15 Januari 2019.[22][23] Ini kemudian diikuti oleh A2 pada 5 Maret[24][25] dan A3 pada 10 April,[26][27] sementara struktur terakhir dari fase pertama, A5, ditutup atap pada 21 Agustus,[28][29] semuanya dalam tahun yang sama. Pada 27 Desember 2019, unit apartemen Meisterstadt A1 mulai diserahterimakan kepada pembeli.[30] Kegiatan serah terima menara itu kembali dilanjutkan pada 10 September 2020.[31]
Insiden pagar beton
Hujan deras pada malam tanggal 29 Januari 2020 menyebabkan ambruknya pagar beton bagian utara proyek di dekat perumahan warga.[32] Menanggapi hal tersebut, Pollux, bersama dengan pemerintah kota, segera bertindak dengan mengirimkan dan mengkoordinasikan 75 pekerja, staf, polisi, dan warga sekitar dengan beberapa kendaraan berat untuk membersihkan pagar yang runtuh dan mengganti kerugian warga yang terkena dampak.[33] Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini dan hanya 1 orang yang terluka. Selain itu, peristiwa ini juga merusak 10 rumah secara langsung.[34]
Menurut sejumlah warga, rumah mereka sudah beberapa kali terendam banjir sebelumnya akibat sistem drainase yang kurang nemadai di sekitar proyek. Upaya beberapa penduduk lokal untuk berbicara dengan konsultan proyek mengenai masalah tersebut juga terhambat.[35] Pejabat kota juga mulai mempertanyakan kemampuan pengembang untuk mengelola drainase setelah insiden tersebut.[36] Karena kejadian itu, pengembang berjanji untuk membangun kembali drainase dan pagar beton proyek dengan sistem yang lebih baik dan lebih besar, sesuai dengan standar AMDAL.[33] Namun, banjir kembali terjadi setelah hujan lainnya pada akhir Agustus 2020. Kejadian ini diakibatkan oleh lubang-lubang kecil di pagar beton baru, yang menyebabkan air mengalir dari proyek ke daerah permukiman yang lebih rendah.[37]
Lainnya
Setelah kematian B.J.Habibie pada 11 September 2019, proyek ini memperoleh ratusan karangan bunga yang diisi dengan belasungkawa oleh publik untuk menghormati presiden ke-3 negara Indonesia tersebut.[38] Aktivitas proyek juga dihentikan dan diliburkan selama sehari untuk menghormati kematiannya.[39] Selain itu, pihak pengembang menyatakan bahwa mereka sangat berduka atas kematian presiden dan sebagai bentuk penghormatan, mereka berjanji untuk menyelesaikan proyek tersebut dan terus berinovasi untuk mewujudkan mimpinya.[40] Dalam kenangannya bersama presiden, Po Sun Kok, Presiden Komisaris Pollux Properti Indonesia, yang mengembangkan proyek tersebut mengatakan:
Saya masih ingat, ketika pertama kali bertemu almarhum [B. J. Habibie]. Kami sama-sama memiliki mimpi yang sama tentang Batam. Satu hal yang paling saya ingat adalah ambisi dan keyakinan almarhum untuk menjadikan Indonesia sebagai negara terkaya peringkat ke-7 versi The CountryMasterplan Development pada tahun 2030.[41]
Kepemilikan
Berdasarkan ketentuan perjanjian mereka dengan keluarga Habibie, Pollux Properties memiliki 51 persen dari bagiannya, sedangkan keluarga Habibie mempertahankan 49 persen dari saham kepemilikannya. Dalam hal ini, Pollux bertanggung jawab atas pembangunan proyek, sementara keluarga Habibie bertindak sebagai penyedia lahan. Oleh karena itu, perusahaan tersebut mengembangkan proyek ini dengan nama Pollux Habibie International sebagai bentuk kerja sama dengan mereka.[8]