Mata Air Cikendi adalah sebuah mata air yang terletak di Kelurahan Hegarmanah, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung, Jawa Barat. Mata air ini merupakan salah satu sumber air yang dimanfaatkan untuk penyediaan air bersih di Kota Bandung sejak awal abad ke-20. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, Mata Air Cikendi menjadi salah satu sumber utama pasokan air baku yang dialirkan melalui sistem perpipaan menuju permukiman penduduk dan fasilitas umum di Kota Bandung. Bangunan pelindung mata air ini telah ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya Kota Bandung dengan nama Benteng Pelindung Mata Air Cikendi sejak 21 Maret 2019.[1]
Sejarah
Mata Air Cikendi ditemukan sekitar tahun 1920 oleh seorang insinyur pertambangan Belanda bernama Ir. De Jongh. Penemuan tersebut dilakukan ketika pemerintah kolonial sedang mencari sumber air baru untuk memenuhi kebutuhan air bersih Kota Bandung yang terus meningkat. Pada masa itu, pasokan air kota masih mengandalkan sumur artesis lokal yang dinilai tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan penduduk seiring dengan pertumbuhan Kota Bandung sebagai pusat pemerintahan dan permukiman di wilayah Priangan.[2]
Setelah dilakukan pengukuran terhadap debit dan kualitas air, Mata Air Cikendi dipilih sebagai salah satu sumber air yang dapat segera dikembangkan. Lokasinya dinilai mudah dijangkau, sementara kualitas airnya telah memenuhi persyaratan sebagai sumber air bersih. Pemerintah kolonial kemudian merencanakan pembangunan rumah mata air, bak penampungan (reservoir), serta jaringan perpipaan yang menghubungkan Mata Air Cikendi dengan kawasan permukiman di Kota Bandung. Pembangunan tersebut memerlukan penggalian tanah, pembangunan bangunan pelindung mata air, serta pemasangan jaringan pipa menuju pusat kota.AyoBandung, "Mengenal Mata Air Cikendi yang Jadi Sumber Kehidupan Kota Bandung"; IndoArtNews, "Mata Air Cikendi Bernilai Sejarah Sumber Pasokan Air Kota Bandung".[3]
Bangunan pelindung Mata Air Cikendi mulai digunakan pada Januari 1921. Sejak saat itu, air dari Cikendi menjadi salah satu sumber pasokan air bersih bagi Kota Bandung sebelum berkembangnya sistem penyediaan air minum modern. Selain dialirkan ke permukiman penduduk, air dari Mata Air Cikendi juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sejumlah fasilitas milik pemerintah kolonial. Dalam sejumlah arsip Hindia Belanda disebutkan bahwa aliran air Cikendi pernah disalurkan menuju barak militer melalui jaringan pipa yang terbuat dari bambu dan logam.AyoBandung, "Mengenal Mata Air Cikendi yang Jadi Sumber Kehidupan Kota Bandung"; AyoBandung, "Menelisik Mata Air Cikendi, Jejak Sumber Kehidupan Bandung yang Mulai Terlupakan".[1]
Pelestarian
Bangunan pelindung Mata Air Cikendi terdaftar sebagai Situs Cagar Budaya Kota Bandung pada 21 Maret 2019 dengan nama Benteng Pelindung Mata Air Cikendi. Penetapan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya pelestarian bangunan yang memiliki keterkaitan dengan sejarah penyediaan air bersih di Kota Bandung. Status cagar budaya tersebut mengacu pada ketentuan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang mengatur pelindungan terhadap objek yang memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.AyoBandung, "Mengenal Mata Air Cikendi yang Jadi Sumber Kehidupan Kota Bandung"; IndoArtNews, "Mata Air Cikendi Bernilai Sejarah Sumber Pasokan Air Kota Bandung".[3]
Pada tahun 2023, Pemerintah Kota Bandung melakukan penataan kawasan Mata Air Cikendi sebagai ruang publik sekaligus kawasan edukasi mengenai sumber daya air. Penataan tersebut mencakup perbaikan akses menuju lokasi, pembangunan fasilitas pendukung, serta penyediaan informasi mengenai sejarah mata air. Pemerintah Kota Bandung menyatakan bahwa upaya tersebut merupakan bagian dari pelestarian sumber air sekaligus pengamanan pasokan air baku bagi Kota Bandung, yang setiap harinya membutuhkan sekitar 300 juta liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan penduduk.AyoBandung, "Mengenal Mata Air Cikendi yang Jadi Sumber Kehidupan Kota Bandung"; IndoArtNews, "Mata Air Cikendi Bernilai Sejarah Sumber Pasokan Air Kota Bandung".[3]
Kondisi
Meskipun telah dilakukan penataan, sejumlah laporan menyebutkan bahwa kondisi kawasan Mata Air Cikendi kembali mengalami penurunan. Beberapa bagian bangunan pelindung tampak mengalami kerusakan, sementara fasilitas penunjang seperti bangku, papan informasi, dan akses menuju lokasi tidak lagi terawat. Mata air tersebut masih mengalir dan dimanfaatkan oleh sebagian warga sekitar, namun keberadaannya relatif kurang dikenal oleh masyarakat luas dibandingkan dengan situs sejarah lainnya di Kota Bandung.AyoBandung, "Menelisik Mata Air Cikendi, Jejak Sumber Kehidupan Bandung yang Mulai Terlupakan"; detikJabar, "Ironi Mata Air Cikendi Bandung, Sumber Kehidupan yang Terabaikan Zaman".[4]
Lokasi Mata Air Cikendi berada di tengah kawasan permukiman dan dapat dicapai melalui jalan lingkungan yang relatif sempit. Di sekitar mata air masih terdapat bangunan pelindung bertuliskan "M.A. Cikendi Th. 1921" yang menjadi penanda pembangunan fasilitas tersebut pada awal abad ke-20. Air dari mata air ini tetap mengalir hingga kini, meskipun fungsinya sebagai sumber utama penyediaan air bersih telah berkurang seiring berkembangnya sistem penyediaan air minum di Kota Bandung.BandungBergerak, "Ngulik Bandung: Mata Air Cikendi, Dulu Berjasa Kini Dilupakan"; detikJabar, "Ironi Mata Air Cikendi Bandung, Sumber Kehidupan yang Terabaikan Zaman".[4]