Masjid Jami' Assegaf adalah sebuah masjid bersejarah dan bangunan cagar budaya yang terletak di Kelurahan Pasar Kliwon, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Tepatnya di jalan Kapten Mulyadi No 190 Pasar Kliwon Solo. Masjid ini terletak hanya beberapa ratus meter dari Masjid Riyadh, tempat diadakannya Haul Solo ( Haul Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi). Masjid ini didirikan pada tahun 1344 Hijriah (1925–1926 Masehi) oleh Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf, seorang ulama keturunan Hadramaut yang bermukim di Gresik. Selama hampir satu abad keberadaannya, masjid ini berkembang menjadi salah satu pusat dakwah, pendidikan Islam, dan kegiatan sosial keagamaan di Kota Surakarta. Saat ini Masjid Jami' Assegaf juga menjadi pusat penyelenggaraan kajian Islam Ahlussunnah wal Jamaah dan pengelola media dakwah TV10.[1][2][3]
Sejarah
Latar belakang
Sebelum mendirikan masjid Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf secara rutin melakukan perjalanan dakwah (rihlah) dari Gresik ke Surakarta. Selama berada di Surakarta, beliau menetap di kediaman Habib Salim Basri, tempat beliau menyelenggarakan rouhah atau majelis pengajian yang dihadiri masyarakat sekitar.[4]
Penamaan dan Status
Asal-usul Nama: Nama "Assegaf" merujuk pada bentuk tabarruk (mengambil berkah) dari Masjid Assegaf yang berada di Hadramaut, Yaman.
Masjid Wiropaten: Untuk menjaga persatuan di kalangan masyarakat keturunan Arab yang heterogen pada masa itu, pengurus awal memilih tidak mencantumkan nama marga tertentu pada bangunan. Selama beberapa dekade, masyarakat lebih mengenal tempat ibadah ini sebagai Masjid Wiropaten karena lokasinya yang berada di depan Kampung Wiropaten.
Peresmian Nama: Nama Masjid Jami' Assegaf baru diresmikan secara formal pada dekade 2000-an melalui musyawarah antara pengurus yayasan, tokoh masyarakat, dan berbagai pihak terkait.
Arsitektur dan Mihrab
Masjid ini mempertahankan struktur bangunan utama dan menara aslinya meskipun telah mengalami beberapa kali renovasi untuk menampung kapasitas jemaah yang meningkat.
Salah satu karakteristik penting dari masjid ini adalah penentuan posisi mihrabnya. Berdasarkan narasi historis yang diwariskan pihak keluarga, penentuan arah kiblat pada mihrab tersebut didasarkan pada petunjuk spiritual yang diterima oleh Habib Abu Bakar, sehingga posisinya dipercaya sejajar langsung dengan bangunan Ka'bah di Masjidil Haram.
Kegiatan dan Fungsi Keagamaan
Selain berfungsi sebagai tempat salat lima waktu dan salat Jumat, Masjid Jami' Assegaf berperan sebagai pusat pendidikan Islam dan kegiatan sosial di Surakarta. Kajian rutin diselenggarakan setiap hari setelah waktu subuh dan magrib yang dipimpin oleh para ulama setempat maupun eksternal.[3]
Program dan aktivitas keagamaan yang berpusat di masjid ini meliputi:
Kajian kitab klasik (Tafsir Al-Qur'an, Fikih, Hadis, Tasawuf, dan Sirah Nabawiyah).
Majelis taklim dan pembacaan maulid.
Pendidikan Al-Qur'an melalui Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) serta pembinaan generasi muda.
Peringatan Hari Besar Islam (PHBI).
Media Dakwah (TV10)
Dalam rangka memperluas jangkauan syiar Islam, pengurus masjid mendirikan saluran penyiaran bernama TV10. Media ini memproduksi dan menayangkan konten-konten keislaman seperti kajian agama, ceramah, podcast, dokumentasi kegiatan, serta program edukasi. Siaran TV10 berbasis digital ini menjangkau wilayah Solo Raya hingga Daerah Istimewa Yogyakarta.
Cagar Budaya
Mengingat usia bangunan yang hampir berumur satu abad dan nilai historisnya yang signifikan bagi Kota Surakarta, Pemerintah Kota Surakarta secara resmi menetapkan Masjid Jami' Assegaf sebagai Bangunan Cagar Budaya. Status ini disahkan melalui Keputusan Kepala Dinas Tata Ruang Kota Surakarta Nomor 646/40/1/2014, yang ditandai dengan peresmian prasasti cagar budaya di bagian depan masjid pada tahun 2014.[3]