Masjid-Madrasah Sultan Hasan (Arab: مسجد ومدرسة السلطان حسنcode: ar is deprecated ) adalah masjid dan madrasah monumental yang terletak di Lapangan Salahuddin di kawasan bersejarah Kairo, Mesir. Bangunan ini dibangun antara tahun 1356 dan 1363 pada masa Mamluk Bahri atas perintah Sultan an-Nasir Hasan. Masjid ini dianggap luar biasa karena ukurannya yang sangat besar serta unsur arsitekturnya yang inovatif, dan hingga kini masih dianggap sebagai salah satu monumen bersejarah paling mengesankan di Kairo.[1][2][3]
Sejarah
Pembangunan masjid ini dianggap luar biasa karena bertepatan dengan masa kehancuran akibat Wabah Hitam yang berulang kali melanda Kairo sejak pertengahan abad ke-14.[4][1] Pembangunannya dimulai pada tahun 1356 M (757 H) dan berlangsung selama tiga tahun “tanpa satu hari pun terlewat tanpa pekerjaan”.[5] Bahkan, pekerjaan tampaknya terus berlanjut hingga tahun 1363, setelah kematian Sultan Hasan, sebelum akhirnya dihentikan.[1]
Sebuah prasasti pada masjid mencantumkan nama amir Muhammad bin Biylik al-Muhsini sebagai pengawas pembangunan. Yang tidak biasa, namanya ditempatkan berdekatan dengan nama Sultan Hasan dalam prasasti tersebut, menunjukkan betapa pentingnya proyek ini.[1] Kedudukan tinggi sang amir juga menjadi tanda prestise proyek tersebut, karena ia sebelumnya diangkat sebagai gubernur Kairo pada tahun 1330 dan mengawasi proyek pembangunan lainnya, termasuk renovasi arena pacuan kuda yang didirikan oleh al-Zahir Baybars di dekat Benteng.
Sumber paling penting yang tersedia mengenai pembangunan masjid ini berasal dari al-Maqrizi, yang menulis sekitar enam dekade kemudian. Ia memiliki akses ke dokumen-dokumen administratif yang kini sudah tidak tersedia bagi sejarawan. Tenaga kerja yang dibutuhkan untuk pembangunan mungkin berkurang akibat wabah yang terus berlangsung, tetapi hal itu tampaknya bukan menjadi tantangan utama. Al-Maqrizi mencatat bahwa pembangunan masjid menelan biaya 30.000 dirham setiap hari.[5] Total biaya pembangunan mencapai lebih dari satu juta dinar, menjadikannya masjid termahal di Kairo pada masa pertengahan.[1] Bahkan Sultan sendiri dikatakan sempat merasa putus asa karena besarnya biaya proyek tersebut. Pendanaan untuk masjid ini dimungkinkan oleh beberapa faktor: pertama, langkah-langkah penghematan yang diterapkan oleh Manjaq, salah satu amir yang mengelola urusan negara sebelum Sultan Hasan dewasa; kedua, masuknya kekayaan besar ke kas negara akibat kematian banyak amir Mamluk karena wabah, yang menyebabkan harta mereka—termasuk kekayaan besar milik amir Shaykhu—beralih ke perbendaharaan negara; dan ketiga, pemerasan terhadap rakyat selama masa pemerintahan Sultan Hasan.[1]
Pentingnya serta besarnya proyek pembangunan ini juga menarik para pengrajin dari seluruh kekaisaran Mamluk, termasuk dari provinsi-provinsi jauh seperti Anatolia, yang mungkin menjelaskan keragaman dan inovasi dalam desain serta dekorasi masjid ini.[1] Selain itu, diyakini bahwa batu kapur dari Piramida Giza digali untuk digunakan dalam pembangunan masjid tersebut.[6][7][8]
Referensi
1234567Behrens-Abouseif, Doris (2007). Cairo of the Mamluks: a history of the architecture and its culture (Edisi null). London: I.B. Tauris. hlm.201–213. ISBN978-1-84511-549-4.
↑Williams, Caroline (2018). Islamic Monuments in Cairo: The Practical Guide (dalam bahasa Inggris) (Edisi 7th). Cairo: The American University in Cairo Press. hlm.78–84.
↑O'Kane, Bernard (2016). The Mosques of Egypt (dalam bahasa Inggris). Cairo: The American University in Cairo Press. hlm.125–129.
↑Raymond, André (1993). Le Caire. Fayard. hlm.139, 240. ISBN2213029830.
12Martyn, Smith. "Khitat 2:316-17". Diarsipkan dari asli tanggal 14 July 2011. Diakses tanggal 9 March 2011.
↑Verner, Miroslav (1997). Pyramidy, tajemstvi minulosti[The Pyramids: The Mystery, Culture, and Science of Egypt's Great Monuments]. Academia, Prague. hlm.217. ISBN1-903809-45-2. Bagaimanapun juga, pembongkaran piramida telah dimulai sebelum tahun 1250. Sebagai contoh, sejarawan Abdul Latif menyebutkan bahwa piramida-piramida kecil dihancurkan pada masa pemerintahan Sultan Saladin (1175–1193). Batu-batunya digunakan, antara lain, untuk membangun bendungan. Sekitar pertengahan abad keempat belas, pada masa Sultan Hasan, blok-blok batu dari Piramida Agung digunakan untuk membangun masjid terkenalnya. Banyak orang kemudian mengikuti teladannya, tetapi meskipun telah mengalami banyak kerusakan dan erosi alami, Piramida Agung tetap bertahan.