Malind Anim (aliasMarind-Anim atau Malind Anim) merupakan suatu kelompok etnis atau suku bangsa yang berasal dari wilayah Papua Selatan, Indonesia. Suku bangsa Malind Anim adalah suku bangsa terbesar di Papua bagian selatan. Suku bangsa ini tersebar mulai dari Kondo sampai sungai Digoel.[2]
Wilayah Kondo berbatasan langsung dengan wilayah negara Papua Nugini, yaitu berada di dekat sungai Fly, sedangkan sungai Digoel adalah batas akhir persebaran suku bangsa Malind Anim. Sungai Digoel adalah sungai terbesar di Papua Selatan yang menjadi batas wilayah antara suku bangsa Malind Anim dengan suku-suku lainnya seperti Awyu, Muyu, Mandobo, dan Korowai.[2]
Pengertian Malind Anim
Kata Malind berasal dari kata ALLAH WI yang mana ALLAH WI adalah bapa itu sendiri dalam kepercayaan suku bangsa Malind Anim. Mali (nama asli dari suku bangsa Malind).[butuh rujukan]
Kebiasaan hidup
Kebiasan hidup Suku Bangsa Malind Anim adalah meramu, dengan cara hidup mengumpulkan makanan dari hutan. Suku Bangsa Malind Anim suka berburu hewan hewan endemik seperti Rusa, kangguru/ walabi. Suku bangsa Malind anim Hidup selain beburu mereka juga suka bertani. Suku bangsa Malind Anim memiliki budaya bertani sejak dulu yang disebut dengan istilah Wambad. Wambad yaitu membuat bedeng yang tinggi sehingga pada saat penanaman, tanaman tidak terendam oleh banjir
Geografis
Sebuah peta yang menunjukkan kelompok bahasa Papua. Daerah berbahasa Marind disorot dalam warna merah.
Hari ini suku bangsa Malind-Anim masuk dalam provinsi Papua selatan, setelah dimekarkan dari Provinsi Papua. Secara geografis suku bangsa Malind Anim persebaranya tidak hanya di dalam wilayah negara Indonesia, tetapi sampai ke negara tetangga yakni Papua Nugini, yaitu sejak kali Fly sampai ke wilayah suku Kiwai.
Budaya
Kandara, alat musik sejenis tifa Suku Marind untuk tradisi Dema. Terbuat dari kayu Kaula (Gempol) dan kulit rusa.Tradisi Marind-Anim, tifa dan kostum Dema.
Pada masa lalu, para orang-orang Marind terkenal karena berburu kepala.[4] Hal ini berakar pada sistem kepercayaan mereka dan terkait dengan pemberian nama bayi yang baru lahir.[5] Tengkorak itu diyakini mengandung seperti kekuatan prestise.[6] Berburu kepala tidak termotivasi terutama oleh kanibalisme, tetapi daging orang yang sudah tewas itu dikonsumsi.[7]
Kata seperti leluhur, roh, makhluk adalah dema dalam bahasa Marind. Kesamaan dari kata tersebut yang merujuk ke "setan" adalah bersifat insidental. Setiap keluarga terus menurunkan tradisi ini, itu terutama tugas dari orang-orang besar di keluarga masing-masing. Pengaruh-orang besar tidak berarti melampaui keluarga besar mereka.[8]
Masyarakat Malind-Anim mempunyai kebiasaan membuat minuman tradisional dari tanaman kava, yang dalam bahasa setempat disebut wati.[9]
Sub-suku
Beberapa suku yang termasuk sub-suku Marind-Anim adalah Bian-Marind, Kanum, Yab (Maklew-Yelmek), Marori, dan Yey.[10]
Van Baal, Jan (2007). "Marind-anim". World Culture Encyclopedia. Advameg Inc.
Corbey, Raymond (2010). Headhunters from the swamps: The Marind Anim of New Guinea as seen by the Missionaries of the Sacred Heart, 1905-1925. Leiden: KITLV Press and Zwartenkot Art Books.
Nevermann, Hans (1957), Söhne des tötenden Vaters. Dämonen- und Kopfjägergeschichten aus Neu-Guinea, Das Gesicht der Völker (dalam bahasa (Jerman)), Eisenach • Kassel: Erich Röth-Verlag Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) The title means Sons of the killing father. Stories about demons and headhunting, recorded in New Guinea.
Unknown photographer (cca 1920s). "Marind-Anim men dressed for ceremony, south coast Dutch New Guinea". Old photographs (postcard). Oceania Ethnographica. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-12-17. Diakses tanggal 2015-07-15.; Pemeliharaan CS1: Tahun (link) A fabulous image of warriors with their drums; the man on the left holds an extremely rare type of carved wooden fish totem.
Pranala luar
Teks
Baal, J. van (2007). "Marind-anim". World Culture Encyclopedia. Advameg Inc.
Unknown photographer (cca 1920s). "Marind-Anim men dressed for ceremony, south coast Dutch New Guinea". Old photographs (postcard). Oceania Ethnographica. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-12-17. Diakses tanggal 2015-07-15.; Pemeliharaan CS1: Tahun (link) A fabulous image of warriors with their drums; the man on the left holds an extremely rare type of carved wooden fish totem.