Mapathon (terkadang ditulis map-a-thon ) adalah acara pemetaan bersama seperti editathon. Masyarakat diundang untuk membuat perbaikan peta daring di wilayah mereka untuk meningkatkan cakupan dan membantu penilaian risiko bencana serta manajemen energi .
Data peta yang digunakan pada kegiatan Mapathons disimpan pada OpenStreetMap. Selain itu, Google Maps juga pernah menjadi opsi hingga tahun 2017. Mapathon dapat diselenggarakan oleh masing-masing organisasi atau organisasi nirlaba atau pemerintah daerah.
Mapathon sering diadakan di sebuah tempat dengan Wi-Fi yang kuat serta dibantu oleh citra satelit.[1] Selaint itu, Mapathons juga dapat menjadi aktivitas luar dengan pengeditan peta simultan yang dibantu oleh pelacak sistem penentuan posisi global di perangkat seluler.
Karena imbas dari wabah Covid-19, beberapa Mapathon juga diadakan secara daring dengan alat bantu aplikasi Zoom atau Google Talk.
Sejarah
Kegiatan Mapathon dimulai pada tahun 2009, di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat. Saat itu sekitar 200 sukarelawan berkeliling kota dengan perangkat yang mendukung GPS dan memperluas OpenStreetMap.[2]
Kemudian ada juga Google Mapathon, sebuah acara tahunan yang diselenggarakan oleh Google untuk mengajak masyarakat agar melakukan perbaikan Google Maps, melalui Google Map Maker. Google Map Maker sendiri telah resmi ditutup pada tanggal 31 Maret 2017.[3]
Kegiatan Mapathon sendiri tidak selamanya berakhir dengan baik. Contohnya pada bulan Februari dan Maret 2013, di India diadakan sebuah kegiatan untuk memetakan area lokal di Google Maps. Kegiatan tersebut berhadiah tablet Samsung Galaxy Note.[4] Beberapa penduduk setempat, termasuk pemenang kompetisi Vishal Saini, juga memetakan instalasi militer yang sensitif di Pathankot.
Hal ini memicu protes dari seorang anggota parlemenPartai Bharatiya Janata sayap kanan Tarun Vijay pada bulan Maret 2013. Ia mengatakan kepada pihak berwenang bahwa pemetaan daerah itu bertentangan dengan kebijakan peta nasional India. Hal itu kemudian membuat polisi Delhi menyelidiki insiden tersebut.
Terkait dengan itu, Survey of India, sebuah lembaga pemetaan pemerintah India, kemudian menghubungi Google. Namun, Google menanggapi dengan menyangkal klaim tersebut dan menegaskan bahwa pemetaan itu legal.[5][6][7] Pada bulan Januari 2016, setelah serangan terhadap fasilitas militer di Pathankot, Pengadilan Tinggi Delhi memutuskan untuk memanggil Google agar dapat hadir di Pengadilan pada Februari. Namun, sidang tersebut tidak membuat keputusan apapun yang membatasi Google untuk terus menyimpan data peta secara online.[8]
Setelah gempa 7,9 pada skala Richter di Nepal, MapGive dan Tim Humanitarian OpenStreetMap mengadakan kegiatan Mapathon untuk membantu kegiatan kemanusiaan di sana. Kegiatan ini dilakukan selama dua minggu dan diikuti oleh sekitar 4.000 relawan. Selama kegiatan tercatat para relawan sudah mengedit sebanyak 91.951 kali, memetakan 29.798 segmen jalan serta 243.500 bangunan. Selain itu kegiatan ini juga telah membantu memperluas jangkauan peta Botswana dan Filipina.[9][10]
Kegiatan Mapathon juga pernah dibuat oleh Gedung Putih pada bulan Mei 2015 untuk merayakan kartografi warga. Saat itu sekitar 80 sukarelawan berhasil mengedit dan menambahkan lebih dari 400 jalan dan 1.000 bangunan di OpenStreetMap. Selain itu mereka juga menambahkan informasi pemadaman listrik pada 152 utilitas, dan memetakan taman-taman AS.[9]
Pada Februari 2016, proyek kemanusiaan Missing Maps mengadakan Mapathon di sebuah hotel di pusat kota Paris, Prancis. Saat itu sekitar 60 sukarelawan membantu untuk memetakan bagian dunia yang rentan di OpenStreetMap. Dengan bantuan citra satelit dan data lapangan, mereka berhasil menambahkan 4.000 bangunan dan hampir 170 kilometer jalan di wilayah Uganda.[11]
Selain di Paris, Missing Maps juga menyelenggarakan mapathon di Grenoble untuk membantu memetakan distrik Tsangano, Tete, Mozambik untuk membantu menyelesaikan konflik lokal antara partai utama negara dan oposisi.