"Man of straw" beralih ke halaman ini. Untuk novel karya Heinrich Mann, lihat Der Untertan.
Artikel atau sebagian dari artikel ini mungkin diterjemahkan dari Manusia jerami di en.wikipedia.org. Isinya masih belum akurat, karena bagian yang diterjemahkan masih perlu diperhalus dan disempurnakan. Jika Anda menguasai bahasa aslinya, harap pertimbangkan untuk menelusuri referensinya dan menyempurnakan terjemahan ini. Anda juga dapat ikut bergotong royong pada ProyekWiki Perbaikan Terjemahan.
(Pesan ini dapat dihapus jika terjemahan dirasa sudah cukup tepat. Lihat pula: panduan penerjemahan artikel)
Kesesatan manusia jerami (bahasa Inggris: straw man atau strawman) adalah sebuah bentuk kesesatan informal berupa penolakan terhadap argumen yang berbeda dengan argumen yang sebenarnya sedang dibahas, tanpa mengakui atau menyadari perbedaan tersebut.[1] Orang yang terlibat dalam kesalahan logika tersebut dikatakan "sedang menyerang manusia jerami".
Argumen manusia jerami biasanya menciptakan ilusi bahwa argumen tersebut telah membantah atau mengalahkan proposisi lawan melalui penggantian proposisi asli dengan proposisi yang berbeda (yaitu, "mendirikan manusia jerami") dan pembantahan argumen palsu tersebut ("memukul manusia jerami") daripada menentang proposisi lawan yang sebenarnya.[2][3] Teknik ini telah digunakan sepanjang sejarah dalam debat polemik, terutama mengenai topik emosional yang sangat berat.
Pratinjau
Kesesatan manusia jerami terjadi berdasarkan pola argumen sebagai berikut:
Orang 1 menyatakan proposisi X
Orang 2 membantah proposisi Y yang tampak serupa dengan proposisi awal, seolah-olah proposisi Y yang dibantah adalah proposisi X.
Proses Ini disebut sebagai kesesatan relevansi, yaitu kekeliruan penalaran yang terjadi ketika suatu argumen gagal membahas proposisi yang asli karena mengartikan posisi lawan secara salah.
Contoh:
Mengutip kata-kata lawan diluar konteks—yaitu, memilih kutipan lawan yang mengartikan maksud lawan dengan salah.
Menyederhanakan argumen lawan secara berlebihan, lalu menyerang argumen tersebut.
Melebih-lebihkan argumen lawan, lalu menyerang argumen yang dilebih-lebihkan tersebut.
Contoh
A: Pelajar sebaiknya mengurangi penggunaan media sosial karena hal tersebut dapat berdampak buruk pada pencapaian akademik pelajar.
B: Tidak setuju, Anda tidak berhak melarang pelajar untuk mengakses media sosial karena hal tersebut adalah hak bagi masing-masing individu.
Dalam contoh ini, A hanya menyarankan pengurangan penggunaan media sosial karena dampaknya yang buruk terhadap pelajar. Namun B menafsirkannya sebagai larangan total terhadap akses ke media sosial, padahal larangan tersebut tidak dinyatakan oleh A.
Sejarah
Diduga penggunaan "manusia jerami" paling awal yang tercatat sejarah disebutkan pada buku Martin Luther, The Babylonian Captivity of the Church (1520), di mana ia menanggapi sebuah argumen Katolik Gereja Roma yang berniat untuk menjatuhkan kritik darinya, salah satunya tentang cara yang benar dalam melayani Ekaristi. Gereja tersebut menuduh bahwa Martin Luther melawan tentang cara melayani Ekaristi menurut salah satu ajaran, tetapi Martin Luther menyatakan bahwa kritik yang ia utarakan tidak diarahkan kepada hal tersebut, melainkan gereja tersebutlah yang membuat argumen tersebut. Tindakan gereja yang tidak berhenti membuat argumen yang salah ini lah yang membuat Martin Luther menciptakan frasa baru "they assert the very things they assail, or they set up a man of straw whom they may attack." yang berarti "mereka menegaskan hal yang akan mereka serang, atau mereka membuat manusia dari jerami yang akan mereka serang."
Asal istilah "manusia jerami" masih menjadi sebuah perdebatan. Diduga penggunaan kata secara retorik mungkin mengacu pada mudahnya sebuah manusia buatan dari jerami untuk dirusak.[4] Sering kali orang-orang salah mengira asal istilah ini. Dimana istilah ini dianggap merujuk ke orang yang berdiri luar gedung pengadilan dengan sebuah jerami di sepatunya untuk memberi isyarat bahwa ia bersedia untuk menjadi saksi palsu.[5]