Manopeng atau Batopengan adalah upacara lokal yang dilaksanakan setiap bulan Muharram, pada hari Jumat hingga Senin pagi.[1] Upacara ini pada awalnya difungsikan sebagai ritual untuk membuka suatu kawasan untuk dijadikan perkampungan,[2] sekarang manopeng menjadi sarana silaturahim masyarakat dan para keturunan yang leluhurnya pernah melaksanakan manopeng.[3]
Tahapan
Upacara manopeng dilaksanakan selama tiga hari, yaitu dari hari Jum'at hingga Minggu. Pada hari Jum'at para keluarga atau keturunan pelaksana manopeng akan melakukan kegiatan melabuh atau memberikan sesajen ke Sungai Martapura dan menggelar makan wajik. Keesokan harinya mereka membuat 41 macam kue tradisional atau wadai Banjar dan sesajen pelengkap ritual manopeng dan menyiapkan panggung serta peralatan musik gamelan Banjar. Hari Minggu merupakan puncak dari kegiatan manopeng ini, kegiatan diawali dengan kegiatan tampung tawar yang dipimpin pawang manopeng dengan cara memercikan air yang sudah dibacakan doa disekitar panggung dan orang-orang didekatnya. Acara kemudian dibuka dengan tari topeng tujuh bidadari, setelah melakukan beberapa gerakan para penari akan mengambil topeng dan mengenakannya kemudian melanjutkan tariannya. Sesudah tari topeng tujuh bidadari selesai, acara dilanjutkan dengan penampilan dua lakon laki-laki bertopeng, Tembem dan Pentul. Dua penari laki-laki ini akan menyapa anggota keluarga serta memeriksa dan memakan sesajen lalu menari mengikuti alunan gamelan.