Tradisi Mandi Ke Aek adalah upacara adat di Kelurahan Sungai Bengkal, Kecamatan Tebo Ilir, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi.Tradisi ini ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia pada tahun 2020. Tradisi ini bertujuan untuk menyucikan diri secara lahir dan batin, biasanya dilakukan dalam konteks peristiwa penting seperti turun mandi yang menandai kelahiran keturunan baru, atau sebagai upacara pasangan pengantin sebelum menikah.[1][2]
Pelaksanaan Mandi Ke Aek
Tradisi Mandi Ke Aek dilakukan pada saat usia bayi 7 hari atau setelah lepasnya tali pusat sang Bayi. Tradisi ini juga dikenal dengan istilah nyebur. perilaku ini telah ada turun temurun dilakukan Masyarakat Kelurahan Sungai Bengkal Kabupaten Tebo dari Zaman dahulu. Bayi di gendong oleh seorang Dukun yang telah membantu proses kelahiran sang bayi. Dengan menggunakan Kain Panjang bayi Digendong menuju sungai Batanghari lengkap dengan arak dan iringnya didampingi keluarga besar dari pihak ayah dan ibu. Mengawali perjalanan bayi dan sang dukun pada barisan terdepan dibawa Tunam sesuatu yang dibungkus oleh kain hitam yang berisi Sabut tebenam,ijuk tebenam,mancung kelapo dan tulang tebenam serta kemenyan. Tunam ini dibakar agar mengepul asapnya sebagai pembuka jalan.[1]
Sesampainya di sungai juga telah disiapkan Baskom yang berisi air dengan campuran kembang 7 Rupa,paku, besi,batu,sirih masak,kencur,jeringau dan Bunglai. Sebelum bayi diturunkan ke air sungai Batanghari maka sang Dukun membaca mantra. Secara berurutan dimandikan dengan air sungai, lalu air Kembang terakhir ditiupkan kencur jeringau. Lalu bayi dipakaikan handuk kan dan berpakaian hingga kembali dibawa kedalam Rumah untuk selanjutnya diayun Kain panjang tiga lembar dibentangkan pada ujung kiri dan kanan dipegang oleh perwakilan keluarga selanjutnya bayi diayun dan dikelilingi asap Tunam dibacakan salawat nabi dan doa doa keselamatan bagi bayi Terakhir arang hitam tunam digosokkan ke dahi bayi.[1]
Tujuan Mandi Ke Aek
Maksud dan tujuan dilaksanakannya Tradisi Mandi Ke Aek adalah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah diberi keturunan, sebagai sarana memberitahukan kepada orang banyak, mengenalkan si bayi kepada alam dan lingkungan terutama sungai yang selama ini sebagai salah satu sumber kehidupan. Setelah bayi dimandikan ke aek ini, maka orang tua si bayi sudah boleh keluar rumah, serta sebagai ungkapan terimakasih dari orang tua bayi kepada dukun beranak yang telah mengurusi ibu si bayi mulai dari proses kehamilan hingga proses kelahiran; (serah terima dan timbang bayi antara dukun beranak kepada orang tua si bayi).[1]
Upaya Pelestarian
Lokakarya Tradisi Mandi Ke Aek pernah diadakan dalam Festival Bumi Seentak Galah Serengkuh Dayung Jilid 3 di Kabupaten Tebo, Jambi pada Tahun 2024. Festival yang digelar di Kabupaten Tebo tersebut merupakan satu dari 12 festival budaya yang bertujuan sebagai upaya pelestarian budaya dan lingkungan, serta membangkitkan kesadaran akan pentingnya menjaga warisan nenek moyang untuk generasi mendatang.[3]