Manajemen laba, sebuah konsep yang kerap dibicarakan dalam ranah akuntansi dan keuangan, tidak sekadar berkutat pada angka-angka di laporan keuangan. Ia merupakan perpaduan antara seni dan keahlian dalam menyusun laporan agar dapat menggambarkan kinerja perusahaan secara optimal, tetap berada dalam batasan etika dan aturan hukum.[1] Secara umum, manajemen laba melibatkan pengaturan pendapatan (pemasukan) dan beban (pengeluaran) guna memastikan bahwa perusahaan dapat mencatatkan laba operasional bersih. Aktivitas ini biasanya difokuskan pada laporan laba rugi, atau yang sering dikenal dengan sebutan laporan P&L (Profit and Loss).[2]
Strategi Manajemen laba
Accrual-Based Earnings Management (ABEM)
Teknik ini memanipulasi estimasi dan kebijakan akuntansi berbasis akrual, seperti penyusutan atau provisi, untuk menggeser waktu pengakuan pendapatan atau beban demi memengaruhi laba.[3]
Real Earnings Management (REM)
Melibatkan keputusan bisnis nyata, seperti memberi diskon besar atau menunda pengeluaran penting, yang berdampak pada laba dan berpotensi merugikan kinerja jangka panjang (Roychowdhury, 2006).[3]
Classification Shifting
Mengubah klasifikasi biaya atau pendapatan, misalnya memindahkan biaya operasional ke non-operasional, agar laba operasi terlihat lebih tinggi.[3]