Makaroni dahulu merupakan komoditas impor Hindia Belanda yang hanya tersedia untuk kalangan tertentu, terutama orang Eropa dan elite pribumi yang dekat dengan pemerintah kolonial. Pada masa Hindia Belanda, makaroni umumnya diolah menjadi hidangan bergaya Eropa seperti makaroni skotel.[4]
Makaroni skotel menggunakan bahan-bahan yang dianggap mewah pada masanya, seperti keju, susu, dan daging karena sulit diperoleh masyarakat umum. Oleh karena itu, makaroni skotel menjadi simbol status sosial dan hanya disajikan pada acara-acara resmi atau di rumah-rumah orang Belanda dan elite pribumi.[4]
Makaroni skotel diperkirakan diperkenalkan kepada Indonesia pada pertengahan abad ke-19. Meskipun makaroni skotel diperkenalkan Belanda, ia sejatinya berasal dari negara-negara di EropaUtara seperti Swedia dan Finlandia yang kemudian menyebar ke Belanda.[5]
Dahulu hanya ibu-ibu rumah tangga Belanda yang memasak makaroni skotel karena resepnya banyak ditemukan pada berbagai buku resep yang beredar pada masa itu dan mudah untuk membuatnya. Kemudian, makaroni skotel akhirnya diperkenalkan kepada para pribumi. Awalnya, masyarakat pribumi tidak memasak makaroni skotel karena bahan-bahannya dianggap terlampau mahal dan mereka tidak familier dengan makaroni. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak ibu-ibu rumah tangga pribumi dari kalangan elite akhirnya memasak makaroni skotel dan mewarisi resep-resep tersebut.[5]
Etimologi
Nama makaroni skotel terdiri dari dua kata, yakni makaroni dan skotel yang merupakan kosakata bahasa Indonesia yang diserap dari kata bahasa Belandamacaroni dan schotel yang masing-masing bermakna makaroni[6] dan piring atau pinggan.[7]