Makam Pangeran DiponegoroGapura makam Pangeran DiponegoroMakam Pangeran Diponegoro
Makam Pangeran Diponegoro merupakan salah satu objek wisata sejarah di Kota Makassar. Letak makam Pangeran Diponegoro berada di tengah-tengah kota Makassar di dekat pasar sentral Makassar. Lokasinya terletak di daerah Kampung Jawa, Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Wajo, Kota Makassar.[1] Kompleks Makam Pangeran Diponegoro terdiri atas gerbang, pendapa, musala, dan 66 makam. Kompleks ini tidak hanya menjadi persemayaman Pangeran Diponegoro, tetapi juga makam istri-istri dan anak-anaknya.[2]
Di kompleks ini, terdapat dua makam berukuran besar yang merupakan makam pangeran dan istrinya, R.A Ratna Ningsih. Selain itu, terdapat 25 makam ukuran sedang dan 39 makam ukuran kecil yang menampung jasad enam orang anaknya, 30 cucu, 19 cicit, dan sembilan pengikutnya.[3]
Latar belakang
Pangeran Diponegoro lahir di Kesultanan Yogyakarta pada tanggal 11 November 1785 sebagai anak tertua Sultan Hamengkubowana III dari istrinya yang bernama R.A. Mangkarawati yang berasal dari Pacitan. Nama kecil Pangeran Diponegoro adalah Raden Mas Mustahar. Pangeran Diponegoro terkenal karena memimpin Perang Diponegoro atau Perang Jawa (1825 - 1830). Perang tersebut tercatat sebagai perang dengan korban paling besar dalam sejarah perlawanan Indonesia, dengan total sekitar 2 juta jiwa turut menjadi korban.[4]
Pangeran Diponegoro dikenal sebagai pemimpin yang arif dan bijaksana, penentang kebijakan Belanda yang menjajah Hindia-Belanda. Pangeran Diponegoro sudah muak dengan dan sebal dengan tingkah laku Belanda yang tidak menghormati adat istiadat serta budaya setempat dan sangat mengeksploitasi ekonomi rakyat dengan pembebanan pajak dan aturan-aturan yang menyulitkan rakyat.
Tindakan Diponegoro yang sangat frontal melawan Belanda mendapat dukungan dan simpati dari rakyat. Ketika perjuangan akan dimulai, Diponegoro mengumandangkan bahwa perjuangannya adalah 'perang sabil' yang berarti perlawanan menghadapi kafir. Perang Diponegoro adalah perang terbuka dengan pengerahan semua pasukan. Perjuangan Diponegoro didukung oleh Kyai Mojo, Raden Tumenggung Prawiradigdaya yang merupakan Bupati dari Gagatan dan Sunan Pakubuwono. Perjuangan Diponegoro dapat bertahan lama karena memiliki banyak pengikut dari berbagai lapisan masyarakat.
Pada tahun 1827, Belanda menyerang kubu Diponegoro dengan menggunakan taktik benteng sehingga pasukan Diponegoro terjepit. Pada tahun 1829, Kyai Maja berhasil ditangkap, kemudian menyusul Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Sentot Alibasya yang menyerah kepada Belanda. Pada tanggal 28 maret 1830, Jenderal Hendrik Merkus De Kock berhasil mengelabui pasukan Diponegoro di daerah Magelang. Mengetahui situasinya sudah terjepit, akhirnya Diponegoro bersedia menyerahkan diri ke Belanda. Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Semarang, sebelum dipinah ke Batavia, lalu dikirim ke Manado. Tak berapa lama, Diponegoro dipindahkan ke Makassar dan menjalani masa pengasingan terlamanya. Di Makassar, Diponegoro ditemani istri-istri dan anak-anaknya selama masa pengasingan hingga beranak pinak. Ia juga menghasilkan karya autobiografiBabad Diponegoro. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di Benteng Rotterdam pada 8 Januari 1855.[5]
Lokasi
Untuk menuju makam Pangeran Diponegoro, bisa menggunakan jalur angkutan kota pete-pete jurusan pasar sentral. Dari Bandara Sultan Hasanuddin jaraknya sekitar 17 kilometer jika ditempuh lewat jalan tol atau sekitar 24 kilometer jika ditempuh lewati jalur Sudiang-Daya-Tamalanrea.
Saat ini kompleks Makam Pangeran Diponegoro dirawat oleh generasi kelima keturunannya, yaitu Raden Hamzah Diponegoro.[2][3]