Setelah kejatuhan rezim Assad pada Desember 2024, sebuah Majelis Rakyat (bahasa Arab:مَجْلِس الشَّعْبcode: ar is deprecated , ALA-LC:Majlis ash-Shaʻb, juga disebut Dewan Rakyat)[1] diperkirakan akan dibentuk di Suriah. Selama era Ba'ath, majelis ini terdiri atas 250 anggota yang dipilih untuk masa jabatan empat tahun melalui 15 daerah pemilihan dengan beberapa kursi. Sebaliknya, pada masa transisi, majelis akan terdiri atas 210 anggota yang menjabat selama 30 bulan dan dapat diperpanjang. Dari jumlah tersebut, 140 anggota akan dipilih oleh sebuah komite dari 14 kegubernuran, sementara 70 anggota sisanya akan ditunjuk oleh presiden.
Sejarah
Pasca rezim Assad
Setelah kejatuhan rezim Assad pada 8 Desember 2024, majelis tersebut mengeluarkan sebuah pernyataan yang menyebut hari itu sebagai “hari bersejarah dalam kehidupan seluruh rakyat Suriah”, serta menyatakan komitmennya untuk menegakkan supremasi hukum tanpa diskriminasi. Pernyataan itu juga menampilkan lambang negara Suriah yang baru, yang dihiasi dengan bendera oposisi Suriah.[2]
Pada 11 Desember, Partai Ba’ath menghentikan seluruh kegiatannya tanpa batas waktu.[3][4] Keesokan harinya, pemerintahan sementara Suriah menangguhkan kegiatan majelis dan konstitusi untuk masa transisi selama tiga bulan.[5] Majelis Rakyat resmi dibubarkan pada 29 Januari 2025 ketika pemerintah transisi Suriah mengumumkan rencana pembentukan dewan legislatif sementara.[6] Setelah diadopsinya Konstitusi Sementara Suriah tahun 2025, sebuah parlemen sementara bernama Majelis Rakyat dibentuk, dengan sepertiga anggotanya ditunjuk langsung oleh presiden.[7]
Sebuah dekret presiden yang dikeluarkan pada 2 Juni 2025 membentuk Komite Tinggi Pemilihan Majelis Rakyat. Komite yang terdiri atas sebelas anggota ini bertanggung jawab mengawasi pembentukan subkomite pemilihan yang akan memilih dua pertiga dari anggota Majelis Rakyat.[8]
Catatan
↑Meskipun memiliki 210 kursi, pada pemilihan 2025 hanya akan memilih 121 kursi.