Mahisa Wonga Teleng (Jawa: ꦩꦲꦶꦰꦮꦺꦴꦔꦠꦼꦊꦁ, Bali: ᬫᬳᬶᬱᬯᭀᬗᬢᭂᬍᬂ) adalah raja Kediri bawahan Tumapel. Menurut Pararaton adalah putra dari Ken Arok dengan Ken Dedes, pendiri Kerajaan Tumapel (atau lebih terkenal dengan nama Singhasari). Menurut
Negarakertagama tokoh ini bergelar Sri Bhatara Parameswara yang merupakan ayah dari Narasinghamurti, leluhur raja-raja Majapahit.Dia diketahui menikahi Ken Rimbi yang merupakan putri dari Ken Umang.[1]
Menurut prasasti tersebut, Bhatara Parameswara semasa hidupnya menjadi adiguru yang dihormati di tanah Jawa. Ia memiliki putra bernama Nararya Waning Hyun yang kemudian dikenal sebagai Narasinghamurti.
Sepeninggal Parameswara, secara berturut-turut ia digantikan oleh adik-adiknya, yaitu Guningbhaya dan Tohjaya sebagai raja Kadiri. Sepeninggal Tohjaya, kerajaan Kadiri dipersatukan kembali dengan Tumapel oleh Wisnuwardhana dan Narasinghamurti putra Parameswara. Kemudian, putra Wisnuwardhana yang bernama Kertanagara diangkat sebagai raja muda di sana.
Menurut Pararaton, pada tahun 1222Ken Arok menaklukkan Kadiri dan menjadikannya sebagai bawahan Tumapel. Menurut prasasti Mula Malurung, wilayah Kadiri diperintah oleh Parameswara. Besar kemungkinan bahwa Parameswara identik dengan Mahisa Wonga Teleng, karena ia merupakan putra tertua Ken Arok yang lahir dari permaisuri Ken Dedes.
Menurut Prof. Slamet Muljana yang menafsirkan Waning Hyun sebagai perempuan, Apabila Bhatara Parameswara benar-benar identik dengan Mahisa Wonga Teleng, maka dapat disimpulkan kalau Waning Hyun adalah saudara perempuan Narasinghamurti. Dengan demikian, hubungan antara Narasinghamurti dengan Wisnuwardhana tidak hanya sepupu, tetapi juga sebagai ipar.
Namun jika ditelisik dari nama Waning Hyun yang bergelar Nararya, maka dia bukanlah perempuan dan bukan istri dari Wisnuwardhana. Namun keduanya tetap melangsungkan pemerintahan bersama.
Menurut prasasti Mula Malurung, Bhatara Parameswara meninggal di Kebon Agung dan kemudian dicandikan di Pikatan sebagai Wisnu.
Kepustakaan
R.M. Mangkudimedja. 1979. Serat Pararaton Jilid 2. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah
Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir sejarahnya. Jakarta: Bhratara