Mahisa Campaka / Narajaya / Jayapangus (lahir: sekitar 1230 - wafat: 1269) adalah tokoh dalam Pararaton, yang menurut Negarakertagama adalah seorang putra keturunan dari Bhatara Parameswara / Mahisa Wong Ateleng, bernama Bhatara Narasinghamurti, yaitu ayah dari Rahadyan Lembu Tal dan kakek Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit.Menurut Catatan Negarakertagama dan catatan Manawa dharmasastra bali , Narasinghamurti menjabat sebagai Panglima tertinggi Singosari (Ratu Anggabhaya) sekaligus menjabat sebagai Raja Mancanegara Nusa Atepan /Raja dari Kepulauan yang terdiri dari 7 pulau di luar jawa[1].Menurut prasasti Mantring Gianyar, Beliau memiliki dua orang istri yang bernama Paduka Bhatari Sri Parameswari Indijaketana (Singosari) yang berputra Raden Lembu TaL dan Paduka Sri Mahadewi Cangkaja Cihna (Bali).[2]
Setelah Tohjaya naik tahta, dan akibat hasutan dari pembantunya yang bernama Pranaraja, Tohjaya berniat membunuh Mahisa Campaka dan sepupunya, Ranggawuni (putra Anusapati) karena keduanya dianggap berbahaya terhadap kelangsungan takhta. Usaha pembunuhan itu gagal. Mahisa Campaka dan Ranggawuni justru mendapat dukungan kuat dari tentara Tumapel dan berbalik menggulingkan Tohjaya tahun 1250.
Setelah Tohjaya tewas, Ranggawuni menjadi raja Tumapel bergelar Wisnuwardhana, sedangkan Mahisa Campaka menjabat Ratu Angabhaya atau raja Kadiri bergelar Bhatara Narasinghamurti. Keduanya memerintah berdampingan. Hal itu dimaksudkan untuk menciptakan kerukunan di antara keturunan Ken Arok (dalam hal ini diwakili Narasinghamurti) dan keturunan Tunggul Ametung (yang diwakili Wisnuwardhana). Pemerintahan bersama itu dalam Pararaton diibaratkan seperti dua ular dalam satu liang.
Akhir Hayat
Prasasti Penampihan yang dikeluarkan oleh Kertanagara (putra Wisnuwardhana) menyebut Narasinghamurti meninggal dunia tahun 1269. Ia didharmakan (dibuatkan monumen penghormatannya) di Kumitir, menurut Desawarnnana karya Mpu Prapanca.
Nama Narasinghamurti juga terdapat dalam Nagarakretagama yang ditulis pada tahun 1365. Dikisahkan bahwa, Wisnuwardhana dan Narasinghamurti memerintah bersama di Tumapel bagaikan sepasang dewata, Wisnu dan Indra.
Nama Narasinghamurti juga ditemukan dalam prasasti Penampihan, sehingga dapat dipastikan kalau nama ini bukan sekadar ciptaan Pararaton atau Nagarakretagama. Akan tetapi, Mahisa Campaka sebagai nama asli Narasinghamurti hanya terdapat dalam Pararaton yang ditulis ratusan tahun sejak kematiannya, sehingga kebenarannya perlu untuk dibuktikan.
Namun, dalam daftar tersebut ditemukan nama yang mirip dengan Narasinghamurti yaitu Narajaya penguasa Hering. Selain itu, Narajaya juga disebut sebagai sepupu raja. Sejarawan Slamet Muljana menganggap Narajaya sebagai nama asli Narasinghamurti, sedangkan Mahisa Campaka adalah nama ciptaan Pararaton.
Pendapat kedua, sebenarnya nama Narasinghamurti sudah disebut dalam Prasasti Mula Malurung, yaitu sebagai Nararya Waning Hyun. Hadi Sidomulyo dalam bukunya yang berjudul “Napak Tilas Perjalanan Mpu Prapañca” (terbit 2007) membantah bahwa Narārya Waning Hyun adalah nama asli Jayawardhanī Dikarenakan Nararya adalah gelar bagi seorang laki-laki, bukan seorang perempuan. Dan penafsiran Waning Hyun sebagai perempuan adalah dari Prof. Slamet Muljana sendiri.
Kepustakaan
R.M. Mangkudimedja. 1979. Serat Pararaton Jilid 2. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah
Slamet Muljana. 2005. Menuju Puncak Kemegahan (terbitan ulang 1965). Yogyakarta: LKIS
Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara
Hadi Sidomulyo (2007). Napak Tilas Perjalanan Mpu Prapañca. Cetakan pertama. Jakarta: Wedatama Widya Sastra