Magnetoresepsi adalah suatu bentuk indra yang memungkinkan suatu organisme mendeteksi medan magnet Bumi. Hewan yang memiliki kemampuan ini mencakup beberapa arthropoda, moluska, serta berbagai vertebrata seperti ikan, amfibi, reptil, burung, dan mamalia. Indra ini terutama digunakan untuk orientasi dan navigasi, tetapi pada beberapa spesies juga diyakini membantu mereka membentuk peta wilayah.
Eksperimen terhadap burung migran memberikan bukti bahwa mereka memanfaatkan protein kriptokrom pada mata, yang bekerja berdasarkan mekanisme kuantum mekanisme pasangan radikal untuk menangkap medan magnet. Efek ini sangat peka terhadap medan magnet yang lemah dan mudah terganggu oleh interferensi frekuensi radio, berbeda dari kompas besi konvensional.
Burung diketahui memiliki bahan yang mengandung besi pada bagian atas paruhnya. Ada sejumlah bukti yang menunjukkan bahwa struktur ini memberi mereka kemampuan untuk merasakan medan magnet, yang dimediasi oleh saraf trigeminal, meskipun mekanismenya belum sepenuhnya dipahami.
Ikan bertulang rawan seperti hiu dan pari mampu mendeteksi variasi kecil dalam potensial listrik melalui organ elektroreseptif mereka, yaitu ampula Lorenzini. Organ ini tampaknya dapat menangkap medan magnet melalui proses induksi elektromagnetik. Sejumlah bukti juga menunjukkan bahwa ikan-ikan tersebut memanfaatkan medan magnet sebagai panduan navigasi.
Sejarah
Para ahli biologi telah lama bertanya-tanya apakah hewan yang bermigrasi seperti burung dan penyu laut memiliki kompas magnetik bawaan yang memungkinkan mereka bernavigasi dengan memanfaatkan Medan magnet Bumi. Hingga akhir abad ke-20, bukti mengenai hal ini pada dasarnya bersifat perilaku: banyak eksperimen menunjukkan bahwa hewan memang dapat memperoleh informasi dari medan magnet di sekitarnya, tetapi tidak menjelaskan mekanisme yang melatarinya.
Pada tahun 1972, Roswitha dan Wolfgang Wiltschko menunjukkan bahwa burung migran merespons arah serta kemiringan (dip) medan magnet. Kemudian pada tahun 1977, M. M. Walker dan rekan-rekannya menemukan reseptor magnetik berbasis besi (magnetit) di bagian moncong ikan trout pelangi. Pada tahun 2003, G. Fleissner dan koleganya menemukan reseptor berbasis besi di bagian atas paruh merpati pos, yang tampaknya terhubung dengan saraf trigeminal hewan tersebut.
Namun, arah penelitian berubah pada tahun 2000 ketika Thorsten Ritz dan rekan-rekannya mengusulkan bahwa sebuah protein fotoreseptor di mata, yakni kriptokrom, berfungsi sebagai reseptor magnetik yang bekerja pada skala molekuler melalui proses keterkaitan kuantum.[1]