Madrasah Diniyah Tanbihul Ghofilin Banjarnegara (Bahasa Arab: المدرسة الدينية تنبيه الغافلين) atau lebih dikenal Madin Tangho adalah sebuah lembaga pendidikan Islam berbasis pesantren yang berlokasi di Desa Mantrianom, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia.[1] Pesantren ini dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam dengan sistem pembelajaran salafiyah dan pengajaran kitab kuning yang berfokus pada pendidikan agama Islam secara mendalam.[2]
Sejarah
Madrasah Diniyah Tanbihul Ghofilin didirikan pada tahun 1954 oleh K.H. Mohammad Hasan,[1] seorang ulama yang pernah menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin, Tuban. Awalnya, pesantren ini berdiri sebagai tempat belajar agama bagi masyarakat sekitar yang saat itu memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan Islam formal.
Nama "Tanbihul Ghofilin", yang berarti "mengingatkan orang-orang yang lalai", dipilih untuk mencerminkan tujuan pesantren dalam memberikan pemahaman agama kepada masyarakat yang sebelumnya belum mendapatkan pendidikan Islam secara mendalam. Seiring waktu, pesantren ini berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang cukup dikenal, menarik santri dari berbagai daerah di sekitar Banjarnegara dan wilayah Jawa Tengah lainnya.
Sejak tahun 2008 hingga saat ini, Madrasah Diniyah Tanbihul Ghofilin yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Tanbihul Ghofilin dipimpin oleh K.H. Muhammad Chamzah Hasan, yang mengambil alih kepemimpinan dari ayahnya.[3] Dalam menjalankan kepemimpinan, K.H. Muhammad Chamzah Hasan dibantu oleh beberapa anggota keluarga terdekat, di antaranya K.H. Hayatul Makki, S.H. (adik kandung), K.H. Hakim Annaisaburi, Lc. (adik kandung), K.H. Mabrur (adik ipar), dan K.H. Faishol Hasanudin (adik ipar). Bersama-sama, mereka bekerja untuk membimbing dan mendidik santri-santri yang belajar di pesantren ini.
Dalam struktur organisasi Madrasah Diniyah Tanbihul Ghofilin, K.H. Mabrur menjabat sebagai kepala madrasah. Sebagai kepala madrasah, dia memiliki tanggung jawab dalam mengelola pendidikan di madrasah tersebut, memastikan bahwa kurikulum dan program pembelajaran sesuai dengan tujuan untuk memberikan pemahaman agama yang kuat serta pengembangan akhlak yang baik pada para santri. Dengan adanya dukungan dari tim pengajar yang terdiri dari anggota keluarga serta tenaga pengajar lainnya, madrasah ini terus berupaya memberikan pendidikan agama yang berkualitas bagi masyarakat sekitar.
Sistem Pendidikan
Metode Pembelajaran
Pesantren ini menerapkan metode pendidikan salafiyah, yaitu sistem pembelajaran yang berfokus pada pengkajian kitab kuning atau literatur klasik Islam yang digunakan di banyak pesantren tradisional di Indonesia. Sistem ini menekankan pada pemahaman mendalam terhadap ilmu-ilmu keislaman yang diajarkan secara sorogan (satu per satu di hadapan guru) dan bandongan (kajian bersama dengan santri lainnya).[4]
Kurikulum
Kurikulum yang diterapkan mencakup berbagai disiplin ilmu keislaman, antara lain:
Fiqh dan Ushul Fiqh – Ilmu tentang hukum Islam dan prinsip-prinsip dasar dalam beribadah.
Tafsir dan Hadits – Kajian mengenai makna Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW.
Nahwu, Sharaf dan I'lal – Ilmu tata bahasa Arab untuk memahami teks-teks Islam.
Bahasa Arab dan Sastra – Pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa utama dalam kajian kitab kuning.
Tauhid dan Tasawuf – Studi tentang keimanan dan spiritualitas Islam.
Tajwid – Ilmu membaca Al-Qur’an dengan benar.
Ilmu Kalam – Studi filsafat Islam mengenai keyakinan dan pemikiran teologi.
Tarekh – Sejarah Nabi Muhammad SAW.
Dengan pembagian kelas sebagai berikut:
Kurikulum Madin Tangho
No
Kelas
Mata Pelajaran
Kitab
1
Tamhidi
Akhlak (1)
Alala
Akhlak (2)
Ahlakul Banin (putra) jus 1
Ahlakul Banat (putri) jus 1
Kepenulisan
Imla
Fikih
Durusul fiqiyah
Yanbu'a
Yanbu'a
Fasolatan
Fasolatan
2
Ibtida Awal
Tauhid
Aqidatul Awam
Fikih
Safinatun Naja
Nahwu
Terjemah Jurumiyah Jawa
Tajwid
Tufatul Atfal
Akhlak
Ahlakul Banin (putra) jus 2
Ahlakul Banat (putri) jus 2
Tarekh
Khulasoh Nurul Yakin jus 1
3
Ibtida Tsani
Nahwu
Matan Al Jurumiyah
Sharaf
Amsilatu Tasrif
I'lal
Qowaidul I'lal
Fikih
Fathul Qorib jus 1
Tarekh
Khulasoh Nurul Yakin jus 2
Akhlak
Ta'lim Muta'allim
4
Ibtida Tsalis
Nahwu
Imriti
Sharaf
Maksud
Fikih
Fathul Qorib jus 2
Tarekh
Khulasoh Nurul Yakin jus 3
Hadist
Arba’in Nawawiyah
Qawa'idul I'rab
Qawa'idul I'rab
Selain pengajaran agama, pesantren juga membekali santri dengan keterampilan tambahan seperti pertanian, perikanan, pertukangan, dan kewirausahaan sebagai bagian dari program kemandirian ekonomi.
Kegiatan dan Pengajian
Pengajian Rutin
Madrasah Diniyah Tanbihul Ghofilin menyelenggarakan berbagai kegiatan pengajian dengan jadwal yang terstruktur:
Pengajian harian – Meliputi kuliah subuh, sorogan pagi, madin siang ba’da Dzuhur , sorogan sore dan musyawarah ba’da Isya. Di ikuti seluruh santri baik putra maupun putri.
Pengajian mingguan – Meliputi Bandongan bersama pengasuh setiap jum'at pukul 08.00 pagi, pengajian setiap Rabu dan Ahad ba’da Dzuhur untuk masyarakat umum, serta pengajian khusus ibu- ibu setiap Jumat ba’da Dzuhur.
Pengajian bulanan (selapanan) – Diselenggarakan setiap Ahad Kliwon pukul 09.00 pagi, dihadiri oleh sekitar 10.000 santri dari berbagai daerah seperti Banjarnegara, Kebumen, Purbalingga, Banyumas, dan Wonosobo.
Pengajian ini menjadi ajang bagi santri dan masyarakat untuk memperdalam ilmu agama serta mempererat hubungan antara pesantren dan komunitas sekitar.
Kegiatan Keagamaan
Selain pengajian rutin, pesantren juga mengadakan berbagai kegiatan keagamaan lainnya, seperti:
Peringatan Hari Besar Islam, termasuk Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, dan Nuzulul Qur’an.
Khataman Kitab, yaitu penyelesaian pembelajaran suatu kitab yang diakhiri dengan doa bersama.
Dzikir dan Tahlilan yang dilakukan secara berkala.
Peringatan Haul Pendiri Pondok
Fasilitas
Madrasah Diniyah Tanbihul Ghofilin memiliki berbagai fasilitas untuk mendukung kegiatan pendidikan dan kehidupan santri, di antaranya:
Asrama santri putra dan putri – Tempat tinggal bagi santri yang berasal dari luar daerah.
Gedung madrasah diniyah – Tempat pembelajaran formal bagi santri.
Masjid – Tempat utama untuk shalat berjamaah dan pengajian.
Aula dan ruang belajar – Digunakan untuk kajian kitab dan pertemuan santri.
Lapangan olahraga – Fasilitas olahraga bagi santri.
MCK dan dapur umum – Sarana untuk kebutuhan sehari-hari santri.
Pada tahun 2022, pesantren mendapatkan bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. PLTS ini membantu mengurangi biaya operasional listrik hingga 40%, terutama untuk kebutuhan air dan penerangan di lingkungan pesantren.[5]
Peran dalam Masyarakat
Madrasah Diniyah Tanbihul Ghofilin berperan sebagai lembaga pendidikan Islam yang juga menjalankan berbagai kegiatan dakwah dan pemberdayaan masyarakat. Salah satu kegiatannya adalah pelatihan keterampilan bagi santri untuk membantu mereka memiliki bekal ekonomi setelah menyelesaikan pendidikan. Selain itu, pesantren ini juga mengadakan kegiatan sosial, seperti pemberian bantuan kepada warga kurang mampu dan santunan kepada anak yatim, sebagai bagian dari upaya mendukung kesejahteraan masyarakat sekitar.
Dalam aspek keagamaan, Madrasah Diniyah Tanbihul Ghofilin menyelenggarakan pengajian yang terbuka bagi masyarakat umum. Kegiatan ini bertujuan untuk memperluas pemahaman agama di lingkungan sekitar. Pesantren juga bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan organisasi Islam, dalam program-program sosial dan pendidikan. Sebagai bagian dari jaringan pondok pesantren di Jawa Tengah, Tanbihul Ghofilin memiliki hubungan dengan organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU), yang mendukung kegiatan dakwah dan pendidikan.
Alumni Madrasah Diniyah Tanbihul Ghofilin berkiprah dalam berbagai bidang, terutama dalam pendidikan Islam dan dakwah. Beberapa di antaranya menjadi pengajar agama, ulama, atau tokoh masyarakat yang berkontribusi dalam kehidupan sosial dan keagamaan di daerah mereka. Selain itu, ada pula alumni yang berkarier di bidang lain, seperti kewirausahaan dan profesi lainnya, dengan tetap membawa nilai-nilai keislaman dalam kehidupan mereka. Sebagian alumni juga mendirikan majelis taklim atau pesantren, melanjutkan pembelajaran yang mereka peroleh selama di Tanbihul Ghofilin.