Semasa pemerintahan Presiden Bill Clinton, Albright dirayakan sebagai Menteri Luar Negeri AS wanita pertama dan wanita dengan pangkat tertinggi dalam sejarah pemerintahan AS. Dia juga telah dikritik dengan tajam karena dukungan kuatnya untuk sanksi terhadap Irak dan sepak terjangnya pada saat konflik Balkan.[3][4]
Madeleine Albright meninggal dunia karena kanker pada usia 84 tahun pada 23 Maret 2022.[5]
Kehidupan awal dan pendidikan
Madeleine Albright terlahir dengan nama Marie Jana "Madlenka" Korbelova pada 15 Mei 1937 di Praha, Cekoslowakia. "Madlenka" adalah nama panggilan yang diberikan neneknya. Ia mengganti namanya menjadi "Madeleine" ketika keluarganya pindah ke Amerika Serikat karena kudeta komunis di Cekoslowakia pada 1948. Ayahnya, Josef Korbel, adalah seorang diplomat Cekoslowakia yang pernah menjabat sebagai Duta Besar untuk Yugoslavia.[6]
Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-bangsa
Dia adalah duta besar untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak tanggal 6 Februari 1993.[7]
Albright telah dikritik secara luas untuk komentarnya dalam sebuah wawancara pada 12 Mei1996 dalam program televisi 60 Minutes. Dalam topik mengenai sanksi AS terhadap Irak, Lesley Stahl bertanya:
Kita telah mendengar bahwa setengah juta anak-anak telah meninggal. Itu lebih dari jumlah anak-anak yang tewas di Hiroshima. Apakah ini suatu harga yang pantas dibayar?
Albright menjawab:
Saya rasa ini adalah suatu pilihan yang sulit, namun hal tersebut -- kami rasa ia merupakan harga yang pantas dibayar.[8][9]
Menteri Luar Negeri AS
Dia mulai pada tanggal 23 Januari 1997.[7] Sebagai Menteri Luar Negeri, Albright memicu kemarahan banyak warga Serbia di Yugoslavia karena perannya dalam Perang Kosovo dan Perang Bosnia serta kebijakan AS di daerah Balkan secara keseluruhan.[butuh rujukan]
Dia pindah ke Amerika Serikat pada 1950 dan menjadi warga negara AS pada 1957. Pada Mei 1959 dia menikah dengan jurnalis surat kabar Joseph Medill Patterson Albright, dan mempunyai tiga putri. Mereka bercerai pada 1982.
Sebelum dan saat Perang Dunia II, ayahnya Josef Korbel dan keluarganya mengungsi di Belgrade, Yugoslavia, di mana mereka berada dalam misi diplomatik dari Cekoslovakia. Hal ini mungkin telah menyelamatkan nyawanya, ketika banyak dari saudara Yahudinya di Cekoslovakia yang terbunuh dalam Holocaust. Albright telah menyatakan bahwa dia tidak mengetahui bahwa dia adalah seorang Yahudi hingga dia dewasa.
Setelah pensiun, Albright menerbitkan sebuah memoir, Madam Secretary (2003) ISBN 0-7868-6843-0.
12Susanto, Ready (November 2015). Para Perempuan Perkasa: Tokoh-tokoh Wanita Berpengaruh Abad ke-20. Bandung: Nuansa Cendekia. ISBN978-602-350-041-3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)