Ayah Lukman adalah seorang kiai, seorang ulama yang aktif di Sarekat Rakyat, sebuah kelompok komunis yang memisahkan diri dari Sarekat Islam. Setelah pemberontakan komunis tahun 1926 yang gagal melawan pemerintah kolonial Belanda, ayah Lukman dipenjara dan pada tahun 1929 diasingkan ke kamp penahanan Boven Digoel, Papua Barat. Keluarganya ikut serta, dan Lukman tumbuh di antara para tahanan politik.
Kembali ke Jawa
Pada tahun 1938, Lukman kembali ke kampung halamannya di Tegal dan bekerja sebagai kondektur bus hingga invasi Jepang pada tahun 1942. Ia bergabung dengan Partai Komunis Indonesia yang saat itu masih ilegal pada tahun 1943, pada saat yang sama dengan calon pemimpin PKI, D.N. Aidit.[5]
Saat peristiwa Madiun terjadi, M.H. Lukman dikabarkan mendapat perlindungan dari Mohammad Hatta sehingga dia bisa bebas dan melarikan diri keluar negeri bersama D.N. Aidit. Karier politiknya melesat bersama PKI dan dia diangkat menjadi Menteri Negara oleh Soekarno.[6]
Karier politik
Sebelum 17 Agustus 1945, M.H. Lukman juga ikut menculik Soekarno-Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekakan Indonesia pada bulan Agustus. Setelah kemerdekaan, Lukman juga ikut mengobarkan semangat rakyat pada rapat Samudra di Jakarta. Dia juga pernah dijebloskan ke penjara karena dianggap menentang Jepang. Andilnya cukup besar dalam mewujudkan kemerdekaan sehingga dalam usia muda dia telah menjadi Menteri yang membantu Sukarno dan Hatta. M.H. Lukman aktif di kelompok yang bermarkas di Menteng 31, kelompok yang dikenal dengan nama API (Angkatan Pemuda Indonesia) bersama tokoh-tokoh muda lainnya. Setelah API dibentuk pada tanggal 1 September diikuti dengan pembentukan Barisan Rakyat (Bara) di bawah pimpinan M.H. Lukman dan Maruto Nitiharjo, Suko, Sidik Kertapati.
Tindakan rakyat yang dipelopori oleh para pemuda tersebut merupakan cara konkret untuk mengisi kemerdekaan. Lukman dikenal dekat dengan tokoh muda lainnya seperti Njono dan Pandu Kartawiguna yang memimpin BBI. M.H. Lukman juga dekat dengan Wikana, Chaerul Saleh, Darwis, D.N. Aidit, Parjono, A.M. Hanafi, Kusnandar, Joharnur, dan Chalid Rosidi yang duduk dalam jajaran Pimpinan API. Semua kelompok pemuda tersebut di bawah Komite Aksi Menteng 31 yang telah dibentuk pemuda sebelumnya.
Catatan
↑Menurut sebuah sumber, nama lengkapnya adalah "Muhammad Hatta Lukman", yang berasal kedekatan ayahnya, Haji Muchlas, dengan Muhammad Hatta sehingga mengilhami ayahnya untuk menyematkan nama tersebut pada putranya. Narasi ini dibantah oleh putri beliau, Tatiana Lukman [2][3][4]
Simanjuntak, P.N.H. (2003). Kabinet-kabinet Republik Indonesia: dari awal kemerdekaan sampai reformasi. Djambatan. ISBN9-7942-8499-8. LCCN2003530921. OL3772870M. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)