Lulu Lugiyati (lahir 25 November 1941 di Kuningan, Jawa Barat) adalah salah satu dari dua perempuan pertama yang menjadi pilot di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU), bersama dengan Herdini Suryanto. Keduanya tergabung dalam Wanita Angkatan Udara (Wara) Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) angkatan pertama yang diterima pada tahun 1963. Keberhasilan Lulu Lugiyati dan Herdini Suryanto menjadi pilot menandai tonggak sejarah penerbang perempuan di Indonesia, yang pada masa itu didominasi oleh laki-laki.
Pendidikan dan Awal Karier Militer
Lulu Lugiyati merupakan mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran di Bandung saat beliau tertarik untuk mengikuti pendidikan militer. Ia melihat potongan iklan dari sebuah surat kabar yang ditempel di dinding kampusnya tentang penerimaan Wanita Angkatan Udara (Wara) Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU). Lulu Lugiyati kemudian memutuskan untuk mendaftar dan berhasil lolos seleksi sebagai salah satu dari 30 anggota Wara angkatan pertama.[1]
Setelah mendaftar Wanita Angkatan Udara (Wara) Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU), Lulu Lugiyati bersama dengan 29 anggota Wara lainnya menjalani pendidikan dasar selama lima bulan di Kaliurang, Yogyakarta pada April hingga Agustus 1963. Seselesainya pelatihan tersebut, merka dilantik sebagai Letnan Dua atau Letnan Satu, hal ini tergantung pada tingkat pendidikan yang dimiliki saat mereka mendaftar Wara TNI AU.[2]
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Lulu Lugiyati, bersama dengan Herdini Suryanto terpilih untuk mengikuti pendidikan pilot pada tahun 1964. Dari tiga orang yang mengikuti seleksi, hanya mereka berdua yang berhasil lulus. Keduanya kemudian menjalani pelatihan penerbangan dan pada akhirnya berhasil mendapatkan wing penerbang. Saat itu, pesawat yang digunakan keduanya adalah pesawat ringan Piper Cub.[3][4]
Karier Militer dan Misi Operasi
Setelah menyelesaikan pendidikan militernya, Lulu Lugiyati terlibat dalam berbagai misi penting. Salah satu misi yang dikenang adalah Operasi Lulu pada tahun 1964. Dalam operasi rahasia tersebut, Lulu Lugiyati ikut serta dalam penerbangan malam menggunakan pesawat C-130 Hercules TNI AU untuk menjatuhkan selebaran propaganda menentang pembentukan Malaysia di atas wilayah Jesselton, yang kini dikenal sebagai Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia. Nama operasi tersebut diambil dari nama panggilan Lulu Lugiyati, yaitu Lulu, sesuai instruksi dari atasannya, Leo Wattimena.[5]
Selain itu, Lulu Lugiyati juga berpartisipasi dalam misi penyebaran selebaran propaganda anti-Inggris dan pembentukan Malaysia di perbatasan Kalimantan Barat dan Sarawak. Misi tersebut mencakup wilayah seperti Sri Aman, Entikong, dan selatan Kota Kuching, Sarawak. Meskipun detail mengenai jenis pesawat yang digunakan—apakah B-25 Mitchell atau Grumman Albatros—tidak diingatnya dengan pasti, Lulu Lugiyati mengenang bahwa setelah misi tersebut, beliau tertidur kelelahan di pesawat dan kemudian di mess TNI AD di Pontianak.
Pengalaman dan Tantangan dalam Penerbangan
Selama kariernya sebagai pilot, Lulu Lugiyati menghadapi berbagai tantangan. Salah satu pengalaman yang dikenangnya adalah saat mendaratkan pesawat ringan Piper Cub di Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta. Karena ketakutan melihat pesawat DC-3 Dakota yang hendak mendarat, pendaratannya tidak mulus dan pesawatnya sempat melintir.
Pencapaian dalam Penerbangan
Lulu Lugiyati dan Herdini Suryanto mencatat sejarah ketika mereka menjadi pilot pertama yang menerbangkan pesawat C-130 Hercules, pesawat angkut militer yang digunakan oleh TNI AU. Pada hari pelantikan mereka, keduanya harus terbang selama 10 jam bersama seorang instruktur sebelum akhirnya terbang sendiri. Karier penerbangan mereka berlanjut dengan berbagai misi dan penerbangan lintas negara di Pulau Jawa.
Kehidupan Pribadi
Dalam perjalanan kariernya, Lulu Lugiyati bertemu dengan Kapten Edi Sudrajat, seorang pilot TNI AU yang kemudian menjadi Panglima ABRI. Mereka menikah, membangun keluarga bersama, dan dikaruniai 4 orang anak. Lulu Lugiyati pensiun dari dinas militer pada tahun 1968 setelah mengabdikan diri selama beberapa tahun.
Warisan dan Pengaruh
Lulu Lugiyati tidak hanya membuka jalan bagi perempuan dalam dunia penerbangan militer di Indonesia, tetapi juga menginspirasi generasi selanjutnya untuk mengejar karier di bidang yang sebelumnya didominasi oleh laki-laki. Mereka menjadi simbol kemajuan kesetaraan gender dalam militer dan menunjukkan bahwa perempuan mampu berkontribusi secara signifikan dalam keamanan negara. Kisah mereka terus dikenang sebagai bagian dari sejarah TNI AU dan perjuangan perempuan dalam mencapai kesetaraan di berbagai bidang, termasuk militer.