Ideologi ini pertama kali muncul pada akhir abad ke-19 sebagai respon terhadap gerakan Irish Home Rule dan menguatnya nasionalisme Irlandia yang bercorak Katolik. Walaupun mayoritas penduduk di Irlandia menganut agama Katolik, mayoritas di Ulster menganut agama Protestan. Ulster juga lebih terindustrialisasi daripada wilayah Irlandia pada masa itu, dan juga sangat bergantung pada perdagangan dengan Britania Raya. Loyalisme bermula sebagai gerakan kaum Protestan Ulster yang menolak menjadi bagian dari Irlandia. Walaupun ada juga orang Katolik Irlandia yang mendukung Britania Raya, loyalisme Ulster menegaskan warisan budaya Protestan dan Britania. Gerakan-gerakan yang saling bertolak belakang ini menjadi salah satu penyebab Pemisahan Irlandia pada tahun 1921; sebagian besar wilayah Irlandia menjadi negara merdeka, sementara 2/3 wilayah Ulster tetap menjadi bagian dari Britania Raya. Semenjak itu, kaum loyalis ingin mempertahankan status Irlandia Utara sebagai salah satu wilayah Britania Raya.
Catatan kaki
โIgnatieff, Michael. Blood and Belonging: Journeys into the New Nationalism. Vintage, 1994. hlm. 184.