Willingale menyelesaikan pendidikan sarjana Fisika (MSci) di Imperial College London pada 2003 dan melanjutkan program doktoral di institusi yang sama hingga lulus pada 2007 dengan disertasi berjudul Ion acceleration from high intensity laser plasma interactions: Measurements and applications.[1] Setelah itu, ia menjadi asisten peneliti sebelum berpindah ke University of Michigan untuk melaksanakan studi pascadoktoral.
Karier
Willingale memiliki fokus pada eksperimen dan pemodelan numerik terkait interaksi plasma laser intensitas tinggi dan percepatan ion berbasis laser. Ia memanfaatkan perkembangan teknologi laser, khususnya teknik chirped pulse amplification yang dikembangkan Gérard Mourou, penerima Nobel Fisika 2018.[2]
Sebagai peneliti utama, Willingale berhasil memperoleh berbagai pendanaan dan tercatat sebagai anggota Institute of Physics, American Physical Society, serta IEEE.
Pada 2016–2017, Willingale sempat menjabat sebagai dosen senior di Lancaster University sebelum kembali ke University of Michigan.[3]
Hingga 2022, ia menjadi Associate Professor di Department of Electrical Engineering and Computer Science, University of Michigan, sekaligus menjabat sebagai direktur asosiasi dan co-principal investigator fasilitas Zetawatt-Equivalent Ultrashort pulse laser System (ZEUS) milik NSF.[4] Fasilitas ini dirancang sebagai laser dengan daya puncak tertinggi di Amerika Serikat dan menjadi salah satu yang terkuat di dunia. ZEUS memiliki daya puncak maksimum 3 petawatt dan mampu menyimulasikan daya lebih besar dengan menembakkan laser ke arah berlawanan dari berkas elektron berenergi tinggi.[5][6][7][8][9] Pada 2022, ia juga terpilih sebagai Fellow American Physical Society.[10]