Aragon lahir pada tanggal 7 Januari 1954. Pada tahun 1992, dia mendapatkan gelar Ph.D dari Universitas Illinois.[2]
Aragon memulai kerja lapangannya di Sulawesi, Indonesia, untuk meneliti konsekuensi dari misi penginjilanProtestan dan konversi petani padi dari dataran tinggi. Pada awal tahun 1998, Aragon menyelidiki dan menganalisis ketegangan regional dan konflik agama di Indonesia, yang berbasis di ketidakadilan pemerintahan yang lama serta kebijakan ekonomi dan politik yang lebih baru.[2]
Aragon juga melakukan penelitian atas istilah Toraja (Toradja) di wilayah Sulawesi, dan menemukan bahwa To Luwu adalah masyarakat yang pertama kali menolak penyebutan Toraja untuk Umat Kristen di Sulawesi Selatan, dan hal tersebut diakui oleh Makkole dan Maddika Luwu saat itu, dan juga karena wilayah yang dihuni Suku Toraja adalah wilayah Kerajaan Luwu yang mana wilayah kerajaan Luwu mulai dari Selatan, Pitumpanua ke utara Morowali,[3] dan dari Tenggara Kolaka (Mengkongga) sampai ke seluruh wilayah Tana Toraja, oleh karena itu To Luwu menolak terhadap istilah Toraja (Toradja) untuk penyebutan Umat Kristen di Sulawesi Selatan.
Penolakan atas istilah Toraja inilah yang membuat ragu masyarakat Sulawesi pada saat terjadi gerakkan Monangu Buaya oleh Kerajaan Luwu, karena bunyi dari Monangu Buaya adalah sangat bertentangan dengan penolakan istilah Toraja (Toradja) yang terjadi di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah, karena bunyi dari Monangu Buaya (Monangu Buaja) adalah "Semua Suku Toraja (Toradja-Stammen) dan Umat Kristen di Tana Poso harus mendukung semua Budaya Luwu termasuk Monangu Buaya", dan itu sangat tidak mungkin terjadi di mana sedang terjadi salah paham dan "pengusiran" antara pihak masyarakat Sulawesi Selatan yang menentang istilah Toraja ciptaan misionaris Belanda dan Budaya Luwu Monangu Buaya yang didukung misionaris Belanda dengan kata lain sedang terjadi permusuhan antara masyarakat Sulawesi Selatan dengan pihak misionaris Belanda, sehingga semua masyarakat Sulawesi berkesimpulan bahwa gerakan menarik upeti Monangu Buaya (Monangu Buaja; krokodilzwemmen)[4] adalah bukan dari Kerajaan Luwu tetapi Monangu Buaya adalah ciptaan misionaris Hindia Belanda. Terbukti dari Monangu Buaya mengutip ayat dari Alkitab Injil yaitu " dengan melihat kepada Tokoh Alkitab Injil yaitu "sejarah kematian Lazarus" yang menceritakan bahwa Baju Adat Inodo bukan bajunya umat kristen yang diwakili tokoh Lazarus".[5]
Dia telah menerima penghargaan penelitian dan beasiswa dari National Endowment for Humanities, National Humanities Center, Yayasan John D. dan Catherine T. MacArthur, US Fulbright, National Science Foundation, ACLS, dan Yayasan Wenner-Gren untuk Penelitian Antropologi.[7]
2011 Essays on Sulawesi artifacts, in Paths of Origins: The Austronesian Heritage in the Collections of the National Museum of the Philippines, The Museum Nasional Indonesia, and The Netherlands Rijksmuseum voor Volkenkunde, Purissima Benitez-Johannot, ed. Pp. 226-235. Singapore: ArtPostAsia.
2011 “Masalah Kepemilikan Budaya: Hak Kekayaan Intelektual Global dan Kesenian Masyarakat Adat di Indonesia” (Problems of Cultural Ownership: Global Intellectual Property Law and Traditional Community Arts in Indonesia). InKegalauan Identitas: Agama, Etnisitas, dan Kewarganegaraan pada Masa Pasca-Order Baru, (Contested Identities: Religion, Politics of Rights, and Citizenship in Post-New Order Indonesia), Fadjar Thufail and Martin Ramstedt, ed., Pp.195-217. Jakarta, Indonesia: Grasindo.
2007 “Elite Competition in Central Sulawesi,” in Renegotiating Boundaries: Local Politics in Post-Soeharto Indonesia, Henk Schulte Nordholt and Gerry Van Klinken, ed. pp.39–66. Leiden: KITLV.
2006 “Bird Omens and Metaphors in Central Sulawesi Ritual Songs,” in Les Messagers Divins: Aspects Esthétiques et Symboliques des Oiseaux en Asie du Sud-Est / Divine Messengers: Bird Symbolism and Aesthetics in Southeast Asia, Pierre LeRoux and Bernard Sellato, ed. pp.613–635. Paris and Marseilles: Connaissances et Savoirs / SevenOrients / IRASEC.
↑KEDATUAN LUWU WILAYAHNYA HANYA SAMPAI MOROWALI, KABUPATEN POSO, SULAWESI TENGAH. .
↑Sumber buku "POSSO" LIHAT & DOWNLOAD HALAMAN 151:
MONANGU BUAJA (krokodilzwemmen), menyatakan Monangu buaya yaitu budaya ciptaan Misionaris Belanda dengan meminjam nama dari Kerajaan Luwu , , Diakses 30 Juni 2023.
↑"POSSO" LIHAT & DOWNLOAD HALAMAN 151:
MONANGU BUAJA (krokodilzwemmen), kematian Lazarus yang berbaju apa adanya (To Lampu) berbeda dengan Baju Mewah atau Baju Inodo yang milik dari Suku Bare'e (Bare'e-Stammen), .