Pada tahun 1979, Lord Mountbatten bersama tiga orang lain, termasuk cucunya, Nicholas, tewas dalam suatu ledakan bom yang dilakukan oleh Provisional Irish Republican Army (IRA). IRA menanam suatu bom pada kapal memancingnya, Shadow V, di Mullaghmore, Irlandia.
Mountbatten dibaptis di ruang tamu besar Frogmore House pada 17 Juli 1900 oleh Dekan Windsor, Philip Eliot. Wali baptisnya adalah Ratu Victoria (nenek buyut dari pihak ibu), Nicholas II dari Rusia (paman dari pihak ibu melalui pernikahan dan sepupu kedua dari pihak ayah, diwakili oleh ayah anak tersebut), dan Pangeran Francis Joseph dari Battenberg (paman dari pihak ayah, diwakili oleh Lord Edward Clinton).[4]
Nama panggilannya antara keluarga dan teman dekat adalah "Dickie"; namun kadang secara lazim ia dipanggil "Richard". Ini semua karena nenek buyutnya, Victoria, awalnya ingin memberi nama panggilan "Nicky" tetapi tidak jadi karena menghindari kebingungan dari kebanyakan Nicky yang ada di Wangsa Romanov (paling terkenal dipakai sebagai nama panggilan untuk Tsar Nikolai II). "Nicky" kemudian diganti menjadi "Dickie".
Marga Mountbatten diadopsi pada saat Perang Dunia I. Antara 1914 sampai 1918, Inggris dan sekutunya sedang berperang melawan Blok Sentral. Untuk menenangkan sentimen nasionalisme, pada 1917 George V dari Britania Raya mengeluarkan titah bahwa ia akan mengganti nama wangsa yang semulanya dari Wangsa Sachsen-Coburg dan Gotha yang berbahasa Jerman menjadi Wangsa Windsor yang lebih kedengaran berbahasa Inggris. Kerabat kerajaan yang tinggal di Inggris mematuhi titah tersebut dengan ayah Mountbatten mengganti marganya dari Battenberg menjadi Mountbatten, sebuah bentuk anglikisasi dari kata Battenberg (Berg di bahasa Inggris bisa berarti Mount). Ayahnya kemudian diberi gelar Tumenggung Milford Haven.[5]
Louis Mountbatten mengabdi di Angkatan Laut Britania Raya sebagai seorang kadet di kapal penjelajah tempur HMS Lion pada Juli 1916 dan setelah beraksi di Agustus 1916, ia dipindahkan ke kapal tempur HMS Queen Elizabeth pada masa-masa akhir Perang Dunia I.[6] Pada bulan Juni 1917, ketika keluarga kerajaan berhenti menggunakan nama dan gelar Jerman mereka dan mengadopsi "Windsor" yang lebih terdengar seperti bahasa Inggris, Mountbatten memperoleh gelar kehormatan yang sesuai untuk putra bungsu seorang marquess, yang kemudian dikenal sebagai Lord Louis Mountbatten (singkatnya Lord Louis) hingga ia diangkat menjadi bangsawan pada tahun 1946.[7] Ia mengunjungi Front Barat selama 10 hari pada Juli 1918.[8]
Periode Antarperang
Mountbatten ditugaskan di HMS Renown pada Maret 1920 dan menemani Edward, Pangeran Wales dalam sebuah tur kerajaan di Australia.[7] Ia kemudian naik pangkat menjadi letnan pada 15 April 1920.[9] HMS Renown kembali ke Portsmouth pada 11 Oktober 1920.[10] Pada awal tahun 1921, personel Angkatan Laut Kerajaan dikerahkan untuk tugas-tugas pertahanan sipil karena kerusuhan industri yang serius tampaknya akan segera terjadi. Mountbatten harus memimpin satu peleton stoker, banyak di antaranya belum pernah memegang senapan sebelumnya, di Inggris Utara.[10] Ia kemudian ditugaskan ke HMS Repulse dan menemani Pangeran Wales dalam sebuah tur kerajaan di India dan Jepang.[7][11] Edward dan Mountbatten keduanya membangun persahabatan yang hangat dalam perjalanan tersebut.[7] Mountbatten hampir dipecat karena Kapak Geddes, sebuah pemotongan anggaran yang keras terhadap anggaran pertahanan Inggris. 52% perwira dari angkatannya dipaksa mengundurkan diri dari Angkatan Laut Britania Raya pada akhir 1923; Meskipun ia sangat dihormati oleh atasannya, beredar rumor bahwa perwira yang kaya dan memiliki koneksi luas lebih mungkin dipertahankan.[12] Mountbatten kemudian ditugaskan ke HMS Revenge di Armada Mediterania pada Januari 1923.[7]
Perang Dunia II
Pada Agustus 1941, Mountbatten ditunjuk sebagai kapten kapal indukHMS Illustrious yang bermuara di Norfolk, Virginia untuk perbaikan setelah aksi di Malta pada Januari.[13] Selama periode nganggur, Mountbatten mengunjungi Pearl Harbor tiga bulan sebelum Jepang menyerangnya. Mountbatten terkejut melihat kondisi pangkalan tersebut, mengomentari bahwa Jepang memiliki reputasi licik dan memulai perang dengan menyerang secara bertubi-tubi serta kesuksesan Inggris dalam Pertempuran Taranto yang secara efektif menghancurkan Regia Marina keluar dari perang, efektivitas pesawat melawan kapal perang, dan memprediksi bahwa Amerika Serikat akan bergabung dalam perang setelah Jepang menyerang secara kejutan di Pearl Harbor.[13][14] Prediski Mountbatten sangat akurat. Setelah Jepang menghancurkan Pearl Harbor, Franklin D. Roosevelt mendeklarasikan perang.