Plot
Ayumu Fujino, seorang murid sekolah dasar yang punya bakat besar menggambar manga, rajin menerbitkan komik strip empat panel di majalah sekolah. Ia menikmati sorotan dan pujian dari teman-teman serta gurunya. Suatu hari, gurunya meminta agar salah satu karyanya diberikan kepada Kyomoto, seorang anak yang jarang keluar rumah karena kecemasan sosial, namun diam-diam bercita-cita menjadi mangaka. Dengan enggan, Fujino menuruti permintaan itu—dan terkejut saat mengetahui bahwa Kyomoto ternyata seorang ilustrator latar yang sangat terampil, mampu menghadirkan detail pemandangan menakjubkan dalam stripnya. Sejak saat itu, Fujino merasa tersaingi dan bertekad mengasah kemampuannya, hingga perlahan menjauh dari keluarga dan teman-temannya karena terlalu terobsesi untuk melampaui Kyomoto.
Setahun berlalu, meski kemampuan Fujino meningkat, ia tetap merasa tak mampu menyamai standar Kyomoto. Akhirnya ia menyerah, berhenti menggambar, dan kembali menjalani kehidupan sosialnya. Ketika kelulusan SMP tiba, Fujino mendapat tugas mengantarkan ijazah Kyomoto. Saat masuk ke rumahnya, ia menemukan tumpukan buku sketsa. Iseng, ia menggambar sebuah strip yang mengejek Kyomoto, namun kertas itu tanpa sengaja masuk ke kamar Kyomoto. Panik, Fujino mencoba kabur, tetapi Kyomoto keluar dan mengaku sebagai penggemar berat yang selama ini mengikuti karya Fujino di majalah sekolah. Saat ditanya alasan berhenti menggambar, Fujino—tersanjung oleh kekaguman Kyomoto—mengaku sedang menyiapkan karya untuk lomba manga. Dalam perjalanan pulang, semangat kreatifnya kembali bangkit. Ia mulai menggambar lagi, bahkan mengajak Kyomoto berkolaborasi. Karya mereka memenangkan lomba, dan sejak itu keduanya menjadi sahabat.
Di masa SMA, mereka terus berkarya dengan nama pena “Kyo Fujino”, menghasilkan beberapa one-shot yang mendapat pujian. Setelah lulus, mereka ditawari kesempatan untuk serialisasi di Weekly Shōnen Jump. Namun Kyomoto memilih melanjutkan pendidikan seni di Universitas Seni dan Desain Tohoku. Keputusan itu membuat Fujino kecewa, tetapi ia tetap melanjutkan kariernya sendiri lewat manga Shark Kick. Manga tersebut sukses besar, terbit hingga sebelas volume dan diadaptasi menjadi anime. Meski populer, Fujino merasa hampa tanpa Kyomoto.
Tragedi terjadi pada 10 Januari 2016, ketika seorang pria menuduh Tohoku melakukan plagiarisme atas karyanya dan melakukan pembunuhan massal di sana dengan menggunakan kapak, menewaskan banyak orang termasuk Kyomoto. Hancur karena kehilangan sahabatnya, Fujino menghentikan Shark Kick dan pulang kampung. Ia merasa bahwa dorongan yang diberikannya dulu menyebabkan meninggalnya Kyomoto, lalu merobek strip ejekan lama yang pernah ia buat. Potongan kertas itu seakan melintasi waktu, kembali ke hari pertama mereka bertemu.
Kali ini, Kyomoto terkejut melihat potongan kertas itu sehingga ia tidak berani keluar kamar, dan pertemuannya dengan Fujino pun tak pernah terjadi. Meski begitu, minatnya pada dunia seni tetap tumbuh, hingga akhirnya ia masuk ke Universitas Tohoku. Ketika tragedi penyerangan terjadi, semua orang terselamatkan berkat Fujino versi dunia ini—yang memilih jalur atletik—dan berhasil melumpuhkan sang pelaku sebelum Kyomoto terluka. Saat Fujino dibawa ke ambulans karena cedera, keduanya akhirnya bertemu dengan cara yang mirip seperti pertemuan mereka dahulu. Sepulangnya, Kyomoto menggambar sebuah yonkoma berjudul Look Back, yang menceritakan bagaimana Fujino menyelamatkannya, dengan gaya gambar khas masa kecil Fujino. Strip itu kemudian tertiup angin keluar kamar dan sampai ke tangan Fujino di garis waktu masa sekarang. Terkejut melihatnya, Fujino masuk ke kamar Kyomoto dan mendapati tumpukan tankōbon serta berbagai merchandise Shark Kick, lengkap dengan bukti dukungan Kyomoto melalui survei pembaca—menunjukkan bahwa, meski jalan hidup mereka berbeda, Kyomoto tak pernah berhenti mengaguminya.
Masih diliputi rasa putus asa atas pilihan hidupnya, Fujino mengeluh bahwa ia membenci menggambar. Namun suara Kyomoto seakan bertanya, “Kalau begitu, kenapa kamu masih menggambar, Fujino?” Pertanyaan itu membuat Fujino teringat kembali semua momen ketika manga buatannya mampu membahagiakan Kyomoto. Akhirnya, ia berdamai dengan kenyataan dan memutuskan untuk terus berkarya, menempelkan yonkoma Look Back karya Kyomoto di atas meja kerjanya sebagai pengingat sekaligus sumber semangat baru.