Artikel atau sebagian dari artikel ini mungkin diterjemahkan dari Lisinopril di en.wikipedia.org. Isinya masih belum akurat, karena bagian yang diterjemahkan masih perlu diperhalus dan disempurnakan. Jika Anda menguasai bahasa aslinya, harap pertimbangkan untuk menelusuri referensinya dan menyempurnakan terjemahan ini. Anda juga dapat ikut bergotong royong pada ProyekWiki Perbaikan Terjemahan.
(Pesan ini dapat dihapus jika terjemahan dirasa sudah cukup tepat. Lihat pula: panduan penerjemahan artikel)
Lisinopril adalah obat yang termasuk dalam golongan penghambat enzim pengubah angiotensin dan digunakan untuk mengobati hipertensi (tekanan darah tinggi), gagal jantung, serta serangan jantung.[3] Lisinopril biasanya digunakan sebagai terapi lini pertama untuk tekanan darah tinggi. Lisinopril juga digunakan untuk mencegah gangguan ginjal pada penderita diabetes melitus.[3] Lisinopril dikonsumsi secara peroral (melalui mulut).[3] Efek penuh lisinopril dapat membutuhkan waktu hingga empat minggu untuk tercapai.[3]
Efek samping yang umum dijumpai adalah sakit kepala, pusing, kelelahan, batuk, mual, dan ruam pada kulit.[3] Efek samping serius yang dapat terjadi antara lain tekanan darah rendah, gangguan hati, hiperkalemia (kadar kalium yang tinggi dalam darah), dan angioedema.[3] Penggunaan lisinopril tidak dianjurkan selama kehamilan karena dapat membahayakan janin.[3] Lisinopril bekerja dengan menghambat sistem renin–angiotensin–aldosteron.[3]
Lisinopril dipatenkan pada tahun 1978 dan disetujui untuk penggunaan medis di Amerika Serikat pada tahun 1987.[3][5] Lisinopril tersedia dalam bentuk generik.[3] Pada tahun 2023, obat ini merupakan obat keempat yang paling banyak diresepkan di Amerika Serikat, dengan lebih dari 76 juta peresepan.[6][7] Obat ini tersedia dalam bentuk kombinasi dengan amlodipin (sebagai lisinopril/amlodipin) serta dalam bentuk kombinasi dengan hidroklorotiazid (sebagai lisinopril/hidroklorotiazid).
Efek samping yang umum dijumpai adalah sakit kepala, pusing, kelelahan, batuk, mual, dan ruam pada kulit.[3] Efek samping serius yang dapat terjadi meliputi tekanan darah rendah, gangguan hati, hiperkalemia, dan angioedema.[3] Penggunaan lisinopril tidak dianjurkan selama kehamilan karena dapat membahayakan janin.[3]
Kehamilan dan menyusui
Data dari studi pada hewan dan manusia menunjukkan adanya bukti gangguan pada embrio dan teratogenisitas yang terkait dengan penggunaan ACE inhibitor.[8]
Interaksi obat
Perawatan gigi
Obat golongan ACE inhibitor seperti lisinopril secara umum dianggap aman untuk orang yang akan menjalani prosedur perawatan gigi rutin, meski penggunaan lisinopril sebelum tindakan pembedahan gigi masih menjadi perdebatan. Sebagian dokter gigi merekomendasikan untuk berhenti mengonsumsi obat tersebut pada pagi hari sebelum operasi.[9] Pasien dapat datang ke dokter gigi dengan dugaan infeksi pada gigi mereka, tetapi pembengkakan di sekitar mulut juga dapat disebabkan oleh angiodema yang dipicu lisinopril, dan hal ini merupakan suatu kegawatdaruratan yang membutuhkan rujukan medis.[9]
Farmakologi
Lisinopril adalah analog lisin dari enalaprilat, metabolit aktif dari enalapril.[10] Tidak seperti ACE inhibitor lain, lisinopril bukan merupakan suatu bakal obat, tidak dimetabolisme oleh hati, dan diekskresikan melalui urin tanpa mengalami perubahan.[8]
Mekanisme kerja
Lisinopril adalah suatu ACE inhibitor, yang berarti obat ini bekerja dengan cara menghambat kerja enzim pengubah angiotensin (ACE) pada sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAAS), sehingga mencegah angiotensin I diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II merupakan suatu vasokonstriktor poten langsung dan stimulator pelepasan aldosteron. Penurunan kadar angiotensin II menyebabkan relaksasi arteriola serta mengurangi pelepasan aldosteron dari korteks adrenal, sehingga ginjal dapat mengekskresikan natrium dan air ke urin dan meningkatkan retensi ion kalium.[11] Proses ini terjadi secara spesifik di kapiler peritubular ginjal sebagai respons terhadap perubahan pada gaya Starling.[12] Penghambatan sistem RAAS menyebabkan penurunan tekanan darah secara keseluruhan.[11]
Farmakokinetik
Absorpsi
Setelah pemberian lisinopril secara oral, konsentrasi puncak lisinopril dalam serum tercapai dalam waktu sekitar tujuh jam,[8][11] meskipun terdapat kecenderungan terjadinya sedikit penundaan dalam mencapai konsentrasi puncak dalam serum pada pasien-pasien infark miokard akut. Efek puncak lisinopril pada sebagian besar pasien terjadi sekitar 6 jam setelah pemberian.[13][14] Penurunan konsentrasi dalam serum menunjukkan fase terminal yang berkepanjangan, yang tidak berkontribusi terhadap akumulasi obat. Fase terminal ini kemungkinan menggambarkan ikatan jenuh terhadap ACE dan tidak sebanding dengan dosis. Lisinopril tidak mengalami metabolisme dan obat yang diabsorpsi diekskresikan seluruhnya melalui urin tanpa mengalami perubahan bentuk. Berdasarkan pemeriksaan urin, rata-rata tingkat absorpsi lisinopril adalah sekitar 25% (berkurang menjadi 16% pada pasien gagal jantung dengan Klasifikasi New York Heart Association (NYHA) Kelas II–IV) dengan variasi antarpasien yang besar (6 hingga 60%) pada semua dosis yang diuji (5 hingga 80 mg).[8][11] Absorpsi lisinopril tidak dipengaruhi oleh adanya makanan pada saluran pencernaan.[13][15][16]
Penelitian pada tikus menunjukkan bahwa lisinopril melintasi sawar darah otak dengan buruk. Pemberian lisinopril dalam beberapa dosis pada tikus tidak atau sedikit menyebabkan akumulasi pada jaringan otak.[17]
Distribusi
Lisinopril tidak berikatan dengan protein dalam darah.[8][11] Lisinopril tidak terdistribusi dengan baik pada pasien dengan gagal jantung Kelas II–IV berdasarkan klasifikasi NYHA.[8][11]
Eliminasi
Lisinopril diekskresikan seluruhnya melalui urin tanpa mengalami perubahan bentuk.[8][11] Waktu paruh lisinopril adalah sekitar 12 jam dan meningkat pada orang dengan gangguan ginjal.[8][11] Meski waktu paruh plasma lisinopril diperkirakan antara 12–13 jam, waktu paruh eliminasi lisinopril jauh lebih panjang, yaitu sekitar 30 jam.[13] Durasi kerja lisinopril berkisar antara sekitar 24 hingga 30 jam.[13]
Lisinopril adalah satu-satunya obat golongan ACE inhibitor yang larut dalam air sehingga tidak dimetabolisme oleh hati.[13]
Sifat kimia
Bubuk lisinopril murni memiliki warna putih hingga putih pucat.[8] Lisinopril larut dalam air (sekitar 13mg/L pada suhu kamar),[18] kurang larut dalam metanol, dan praktis tidak larut dalam etanol.[8]
Sejarah
Kaptopril, obat golongan ACE inhibitor pertama, merupakan analog fungsional dan struktural dari suatu peptida yang diturunkan dari bisa ular beludak Brasil (Bothrops jararaca).[19]Enalapril adalah suatu turunan yang dikembangkan oleh para ilmuwan di Merck untuk mengatasi efek samping ruam dan rasa tidak enak di mulut akibat kaptopril.[20][21]:12–13
Enalapril sebenarnya merupakan bakal obat; metabolit aktif enalapril adalah enalaprilat.[22]
Lisinopril adalah turunan peptida sintetis dari kaptopril.[18] Para ilmuwan di Merck menciptakan lisinopril dengan memodifikasi setiap unit struktural enalaprilat secara sistematis serta mengganti berbagai asam amino. Penambahan lisin pada salah satu ujung struktur obat ternyata menghasilkan senyawa dengan aktivitas kuat dan bioavailabilitas yang memadai pada pemberian oral. Analog dari senyawa ini menghasilkan lisinopril, yang dinamai berdasarkan penambahan lisin. Merck melakukan uji klinis, dan obat ini disetujui untuk pengobatan hipertensi pada tahun 1987 serta untuk gagal jantung kongestif pada tahun 1993.[22]
Penemuan lisinopril menimbulkan tantangan karena penjualan enalapril pada saat itu masih sangat kuat bagi Merck, dan perusahaan tidak mau kehilangan pangsa pasarnya. Merck akhirnya menjalin kesepakatan dengan Zeneca, dengan Zeneca memperoleh hak untuk ikut memasarkan lisinopril, sementara Merck memperoleh hak eksklusif atas kandidat obat aldose reductase inhibitor tahap awal, suatu calon terapi diabetes. Zeneca memasarkan lisinopril dengan merek dagang "Zestril", yang terbukti lebih kuat dibandingkan upaya pemasaran Merck.[23] Zestril menjadi produk unggulan AstraZeneca (didirikan pada tahun 1998), dengan penjualan tahunan pada tahun 1999 mencapai 1,2 miliar dolar AS.[24]
Hak paten lisinopril di Amerika Serikat berakhir pada tahun 2002.[24] Sejak itu, lisinopril tersedia dalam berbagai merek dagang di seluruh dunia. Lisinopril juga tersedia dalam bentuk kombinasi dengan diuretikhidroklorotiazid (sebagai lisinopril/hidroklorotiazid) dan dengan penghambat kanal kalsiumamlodipin (sebagai lisinopril/amlodipin).[1]
Masyarakat dan budaya
Status hukum
Pada bulan Juli 2016, formulasi sediaan oral lisinopril disetujui penggunaannya di Amerika Serikat.[3][25]
Referensi
12"Lisinopril". Drugs.com. Diakses tanggal 23 Desember 2018.
12Weinstock RJ, Johnson MP (April 2016). "Review of Top 10 Prescribed Drugs and Their Interaction with Dental Treatment". Dental Clinics of North America. 60 (2): 421–434. doi:10.1016/j.cden.2015.11.005. PMID27040293.
↑Langtry HD, Markham A (Februari 1997). "Lisinopril. A Review of its pharmacology and clinical efficacy in elderly patients". Drugs & Aging. 10 (2): 131–166. doi:10.2165/00002512-199710020-00006. PMID9061270.
12345678Katzung B (2012). Basic and Clinical Pharmacology. New York: McGraw Hill. hlm.175, 184–185. ISBN978-0-07-176401-8.
↑Reddi, Alluru (2018). "Disorders of ECF Volume: Nephrotic Syndrome". Fluid, Electrolyte and Acid-Base Disorders. Springer. ISBN978-3-319-60167-0.
12345Khan MG (2015). "Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitors and Angiotensin II Receptor Blockers". Cardiac Drug Therapy. New York: Springer. ISBN978-1-61779-962-4.
↑"Lisinopril". Wolters Kluwer Clinical Drug Information (dalam bahasa English). Wolters Kluwer. 2024. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
↑Tan J, Wang JM, Leenen FH (Februari 2005). "Inhibition of brain angiotensin-converting enzyme by peripheral administration of trandolapril versus lisinopril in Wistar rats". American Journal of Hypertension. 18 (2 Pt 1): 158–164. doi:10.1016/j.amjhyper.2004.09.004. PMID15752941.
↑Li JJ (2013). "History of Drug Discovery". Dalam Li JJ, Corey EJ (ed.). Drug Discovery: Practices, Processes, and Perspectives. John Wiley & Sons. ISBN978-1-118-35446-9.
12Menard J and Patchett A. "Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitors". pp. 14–76 in Drug Discovery and Design. Volume 56 of Advances in Protein Chemistry. Eds. Richards FM, Eisenberg DS, and Kim PS. Series Ed. Scolnick EM. Academic Press, 2001. ISBN9780080493381. pp. 30–33
↑Glover DR (2016). "Merck Sharp and Dohme: lisinopril section". Vie D'or: Memoirs of a Pharmaceutical Physician. Troubador Publishing Ltd. ISBN978-1-78589-494-7.