Tarian legong binoh menceritakan krama Binor pada zaman Bali kuno dibangun oleh seorang Rsi dengan sebutan Dang Acarya Widyarka Kacaiwan bersama para muridnya. Benua atau daerah yang penuh dengan hutan glagah, dikelilingi oleh 2 sungai dan sangat terisolir. Karena ini mempunyai ciri daerah yang sangat angker dan “kabinawa” datanglah para ksatria Gading Wani, Bendesa Manik Mas, Pasek Kubayan, Pasek Gelgel, Para Arya, Prabali dan lain sebagainya. Kisah itu disampaikan Kelian Banjar Binoh Kaja, Ketut Suena didampingi Kelian Sekaa Palegongan, Wayan Sudiana di sela-sela pembinaaan.
Lebih lanjut Suena mengatakan, seiring dengan berjalannya sang kala atau waktu, pada sasih jiyesta, rah 3, tenggek 7 oleh pejabat IPemayun dibangunlah Prahyangan Pura Dalem Bengkel dan Pura Dalem Penataran Batan Dulang. Dengan terbangunnya Prahyangan, keamanan dan kenyamanan karma ini membuat daya tarik orang lain untuk menetap disini. Krama Binor kemudian menjadi Binoh yang Kabinawa.[1]
Legong dikembangkan di keraton-keraton Bali pada abad ke-19 paruh kedua. Konon idenya diawali dari seorang pangeran dari Sukawati yang dalam keadaan sakit keras bermimpi melihat dua gadis menari dengan lemah gemulai diiringi oleh gamelan yang indah. Ketika sang pangeran pulih dari sakitnya, mimpinya itu dituangkan dalam repertoar tarian dengan gamelan lengkap.
Awal Perkembangan
Legong dikembangkan di keraton-keraton Bali pada abad ke-19 paruh kedua. Konon idenya diawali dari seorang pangeran dari Sukawati yang dalam keadaan sakit keras bermimpi melihat dua gadis menari dengan lemah gemulai diiringi oleh gamelan yang indah. Ketika sang pangeran pulih dari sakitnya, mimpinya itu dituangkan dalam repertoar tarian dengan gamelan lengkap.[1][1][2]