Persaingan dengan AQUA
Aqua merupakan raja dari industri AMDK di Indonesia selama bertahun-tahun. Namun, kehadiran Le Minerale seolah membuyarkan kekokohan posisi Aqua. Pada saat diluncurkan memang Le Minerale menargetkan pasar yang hampir sama dengan Aqua, yaitu kelas menengah yang peduli akan kualitas air minum.[2] "Perang dingin" antara kedua merek AMDK ini mulai menjadi perhatian publik ketika sejumlah pedagang partai besar dan eceran menggugat Aqua dan distributornya (PT Tirta Investama dan PT Balina Agung Perkasa) ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) lewat gugatan No. No.22/KPPU-L/2016. PT Tirta Fresindo Jaya kemudian juga melayangkan somasi pada PT Tirta Investama di sejumlah koran pada 1 Oktober 2017. Dalam somasi dan gugatan tersebut PT Tirta Investama dan PT BAP dituduh menekan para distributor dan pengecer untuk tidak menjual Le Minerale jika ingin terus mendapat suplai maupun keuntungan dari pemasaran produk Aqua.[3] Pada 19 Desember 2017 KPPU memutuskan PT BAP dan PT Tirta Investama telah melakukan praktik yang melahirkan persaingan usaha tidak sehat, sehingga keduanya didenda masing-masing Rp6 miliar dan Rp13 miliar.[4]
Setelah bersaing di pengadilan, kedua merek lalu memainkan isu-isu lain, baik secara terbuka atau terselubung. Ketika Le Minerale melempar produk galon dari plastik PET ke pasaran, Aqua menyindir Le Minerale sebagai produk yang tidak ramah lingkungan dan kemahalan, sedangkan Le Minerale mengklaim produknya lebih higienis dan praktis.[5] Galon guna ulang (baca: Le Minerale) diklaim sebagai penyumbang problem sampah plastik yang saat ini belum terselesaikan, mudah meleleh[6] dan diduga mengandung bahan kimia etilen glikol.[7] Menepis isu tersebut, Le Minerale meluncurkan kampanye tandingan yang menekankan kemudahan galonnya untuk didaur ulang dan mendorong apa yang disebut "ekonomi sirkular".[8] Menurut sebuah sumber pro-Le Minerale, "kampanye hitam" tersebut nyatanya tidak efektif, dan jika dibandingkan Aqua, produksi dan penjualan produk Le Minerale galon justru meningkat.[9]
Isu yang paling mutakhir adalah perdebatan soal bahan kimia bisfenol A (BPA) yang diklaim banyak dikandung galon guna ulang (baca: Aqua). Tiba-tiba saja banyak publik figur, organisasi, pakar dan media massa yang membicarakan isu "bahaya BPA" dalam kemasan galon air minum[10] sejak 2020.[11] BPA pada galon guna ulang diklaim bisa menyebabkan penyakit seperti kanker hingga kemandulan. Le Minerale pun dengan percaya diri mengklaim galonnya sebagai bebas BPA,[12] sementara Aqua mengklaim produknya aman dan sudah tersterilisasi (meskipun tidak menjawab apakah mengandung BPA atau tidak). Bahkan lembaga pemerintah pun ikut dalam kontroversi BPA, di mana BPOM merencanakan pelabelan pada produk-produk yang mengandung BPA,[13] sementara pihak KPPU meminta khalayak tidak meniup-niupkan isu tersebut lebih dalam lagi karena mengandung aspek persaingan bisnis.[14] Polemik lainnya yang tidak jauh berbeda adalah isu mikroplastik dalam galon air minum, di mana ada sumber yang menekankan bahaya kandungan mikroplastik dalam galon isi ulang[15] atau sebaliknya (sekali pakai).[16]