Layang-layang dandang adalah permainan tradisional khas masyarakat Banjar di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Layang-layang ini berbentuk raksasa menyerupai burung Enggang, dilengkapi kukumbangan (alat pembuat bunyi dari bambu berlubang) yang menghasilkan suara ngauman berirama saat diterbangkan. Tradisi ini dimainkan setelah panen di musim kemarau, terutama oleh anak laki-laki dengan partisipasi dewasa, sementara perempuan sering menjadi penonton. Selain hiburan, permainan ini mempererat silaturahmi dan melatih kesabaran serta keterampilan membaca angin.[1]
Sejarah
Tradisi ini bermula sebelum 1900 di daerah Sungai Raya, Kecamatan Sungai Raya, Hulu Sungai Selatan, dari asimilasi budaya seorang Dayak Meratus. Ning Sualir, penemu utama, bereksperimen dengan layang-layang humbing (dandang bulat tanpa sayap) dari kertas sampul jerami dan lem sederhana, menggunakan tali rotan halus. Ia menciptakan kukumbangan dari bambu berlubang, terinspirasi bunyi ngauman yang terdengar hingga Nagara Daha. Tradisi menyebar ke wilayah seperti Wasah, Kapuh, dan Simpur melalui Ning Samarang dari Sungai Tarap, yang menambahkan sayap dan tali ijuk aren. Pada 1970-an, tali berganti benang belati, kemudian nilon.[1]
Rangka dari bambu pering atau petung tua yang dikeringkan dan diobati anti rayap, badan dari kain atau plastik parasut, ekor kain panjang hingga 12 meter. Kukumbangan dibuat dengan memotong bambu, merendam, mengeringkan, membuat lubang sesuai rumus ukuran, mengupas, mengampelas, memberi simpai rotan, dan mengecat. Nama kukumbangan seperti Sumbing 1904 atau Naga Balimbur 1972 mencerminkan tokoh pewayangan atau sejarah. Ukuran bervariasi: badan 550 cm panjang, sayap 150 cm lebar, ekor 10 m x 170 cm.[1]
Cara bermain
Dimainkan di lapangan luas seperti sawah saat angin selatan kencang, minimal 3 orang untuk ukuran kecil. Layang-layang didirikan melawan angin, kukumbangan diikat di sayap kiri-kanan menghadap depan untuk bunyi ngauman. Tali nilon kuat digunakan, dengan tulisan atau gambar di badan untuk pesan moral. Permainan serempak menciptakan pemandangan indah dengan irama seperti gong.[1]
Nilai budaya
Tradisi ini melambangkan kesabaran, keseimbangan, dan ketahanan masyarakat Hulu Sungai Selatan. Proses pembuatan mengasah kreativitas dan fisik, sementara bunyi ngauman harmonis mencerminkan keunikan lokal. Gotong royong dalam permainan mempererat silaturahmi pasca-panen, tanpa diskriminasi usia atau kelas. Filosofinya seperti layang-layang yang bertahan angin, mengajarkan adaptasi. Potensi pariwisata unik, meskipun masih terbatas pada wilayah setempat.[1]